
"Em..." Vanya melihat ke arah Vano.
Vano juga sedang menatapnya. Vano memberikan sorot mata penolakan. Dia tidak ingin Vanya mengatakan semuanya pada Julia.
Vanya kembali menundukkan kepalanya. Dia saat ini dia sangat bingung. Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkat, pasti akan tercium baunya juga. Cepat atau lambat Julia dan Bram pasti akan mengetahui yang sebenarnya. Kebenaran akan terbongkar. Jika kebenaran akan terbongkar, maka lebih baik diutarakan saja dari sekarang. Vanya tidak mau Julia dan Bram tau soal ini dari orang lain.
"Van,, jawab tante.." desak Julia mengguncangkan bahu Vanya.
"Hiks,, hiks.." Vanya mulai terisak.
Semua orang sangat menantikan jawaban dari Vanya. Termasuk Dion. Dia sangat kaget saat mengetahui Vanya sedang mengandung.
"Vano" ujar Vanya.
Semua orang membelalakan matanya mendengar nama Vano.
"Maksud kamu?" tanya Bram.
"Vano ayah dari anak yang aku kandung om" jawab Vanya.
Hening seketika.
"Gak mungkin. Van,, kamu jangan bercanda ya. Ini masalah serius, bukan bahan candaan" pinta Julia yang tidak mempercayai ucapan Vanya.
"Vanya gak bercanda tante. Vano emang ayah dari anak ini. Mana mungkin saat seperti ini Vanya bercanda tante" tegas Vanya .
"Van, kamu tau kan, om paling gak suka sama orang pembohong" ucap Bram.
"Om,, Vanya gak bohong. Vanya bicara jujur" balas Vanya.
"Vano, bener itu?" tanya Julia.
Vano bingung harus menjawab apa.
"Vano Permana Bazla! Apa benar yang dikatakan oleh Vanya?" ulang Bram dengan suara sedikit meninggi.
"Gak. Itu gak bener. Vanya berbohong" ujar Vanya.
Vanya membelalakan matanya. Vanya tidak menyangka Vano akan berbicara seperti itu. Dia tidak mengakui anaknya sendiri.
"Van, lo ngomong apa sih?" protes Vanya.
"Harusnya gue yang nanya gitu sama lo. Lo itu ngomong apa? Gue bukan ayah dari anak yang lo kandung itu. Mustahil, lo hamil anak gue" balas Vano.
Vanya bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan Vano.
"Apa lo bilang? Mustahil? Setelah apa yang lo lakuin ke gue, lo bilang mustahil? Apa gue harus ceritain semuanya, sama orang tua lo?"
"Gak pernah ada hubungan seperti itu antara kita"
"Oh,, ok"
Vanya membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Julia.
"Tante, Vano udah merenggut kesucian aku secara paksa" adu Vanya.
Julia, Bram dan Dion tambah kaget mendengar itu.
"Diem lo" sargah Vanya.
"Setelah itu, aku minta lertanggung jawaban sama Vano. Dan kami pun menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan kalian semua. Vano berjanji akan memberikan namanya untuk anakku, jika aku hamil. Tapi dia sekarang dia melanggar janjinya sendiri" tutur Vanya.
"Mah,, pah,, itu gak bener. Vano gak pernah ngelakuin itu sama Vanya. Vanya cuma ngerekayasa cerita aja" sangkal Vano.
"Ngerekayasa gimana Van? Lo yang bilang jangan beritahu status kita sama orang lain, termasuk sama orang tua lo. Gue ikutin apa kata lo. Tapi ini yang lo beri buat gue?"
"Vanya,, jujur sama tante ya. Anak siapa yang sedang kamu kandung ini sayang?" tanya Julia.
Vanya mengerutkan keningnya. Sepanjang dia menjelaskan, Julia tidak mempercayainya.
"Tante, tante gak percaya sama aku?" Vanya balik bertanya.
"Bukan gak percaya. Tante cuma mau kejujuran kamu aja" jawab Julia.
"Vanya jujur tan. Vanya gak bohong"
Vanya bingung harus mengatakan apa lagi. Dia sudah menjelaskan semuanya pada Julia dan Bram. Jika mereka tidak percaya, maka anak yang dikandung Vanya pun tidak akan bisa mendapat nama ayahnya.
"Van, sebaiknya lo pergi dari sini" usir Vano.
Vanya menatap Vano dengan lekat.
"Udah cukup banyak kebohongan yang lo buat Van. Gue gak mau jadi kambing hitam lo. Gue gak mau jadi korban kebohongan lo" lanjut Vano.
"Kambing hitam? Korban? Hei,, di sini yang jadi korban itu gue, bukan lo. Lo tega ya Van. Setelah apa yang lo lakuin ke gue, lo tinggalin gue gitu aja"
"Van,, udah gue bilang, gue gak ngelakuin apa-apa sama lo. Kita gak ada hubungan apa-apa. Kita cuma sahabat biasa. Dan sekarang gue jadi kambing hitam atas hubungan gelap lo sama cowok lain"
Vanya tau siapa yang pria yang dimaksud oleh Vano.
"Jangan jadiin orang lain sebagai kambing hitam lo Van. Gue dan elo tau yang sebenernya terjadi. Lo jangan berani-berani libatin orang lain" tegas Vanya.
"Terus lo mau apa? Lo mau gue yang tanggung jawab atas perbuatan yang gak gue lakuin gitu? Oh,, gak bisa. Gue gak mau ya Van. Gue gak mau jadi ayah dari anak yang lo kandung itu. Anak lo itu anak haram. Hasil dari hubungan gelap"
Plak..
Vanya menampar Vano sekuat tenaga. Dia sangat marah mendengar ucapan Vano yang mengatakan anaknya adalah anak haram.
"Jangan mulut lo ya Van. Lo boleh hina gue, lo boleh caci gue, lo boleh maki gue, lo boleh ngerendahin gue. Tapi lo jangan pernah ngehina anak gue. Anak gue ini suci. Gak kayak lo, kotor. Penuh dosa" tegas serta tekan Vanya.
Vanya menatap Vano dengan geram. Ingin rasanya dia mengunjing mulut Vano dengan tangannya sendiri. Namun rasanya memggungjing saja tidak cukup bagi Vano.
"Kalo lo gak mau akuin anak ini. Ok fine. Gue terima. Gue juga gak butuh sama lo. Lo cowok paling br*ngsek, dan paling b*jingan. Lo lebih rendah dari pada anjing di jalanan"
Setelah mengatakan itu, Vanya pergi dari kamar. Dia juga meninggalkan hotel dengan amarah yang sudah memuncak. Dia sangat, sangat, kecewa pada Vano.
Vanya menembus jalanan dengan motor matiknya. Dia tidak langsung pulang. Dia pergi ke kuburan ayah dan ibunya. Sesampainya di sana. Vanya menangis sejadi-jadinya. Dia mencurahkan kesedihannya di atas kuburan orang tuanya.
"Mah,, pah,, tolongin Vanya,, hiks,, hiks,, Vanya gak tau harus gimana,, Vano gak mau tanggung jawab. Dia udah ngingkarin janjinya sama Vanya. Hiks,, hiks,, hiks,, Vanya gak punya siapa pun mah,, pah,, tolongin Vanya.." tangis Vanya.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seolah ikut merasakan apa yang Vanya rasakan. Meski hujan turun dengan deras, tak membuat Vanya beralih dari tempatnya. Dia membiarkan air matanya jatuh bersama air hujan yang membasahi wajahnya.