VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Merelakan



1 jam Natali mengurung diri di kamar guna menenangkan hatinya. Dan selama itu, Zain terus berusaha membujuk Natali agar membuka pintu dan mendengarkan penjelasannya.


Ceklek..


Natali membuka pintu.


"Sayang.." gumam Zain.


Setelah membuka pintu Natali masuk tanpa menunggu Zain. Zain sangat takut Natali marah padanya. Natali duduk di atas tempat tidur.


"Sayang, beri aku kesempatan untuk menjelaskan" pinta Zain.


"Waktumu hanya 5 menit untuk menjelaskan" ucap Zain.


"5 menit.." gumam Zain.


"Jika kau tidak mau, maka keluar" lanjut Natali.


"Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya" setuju Zain.


Zain menghirup nafas dalam sebelum menjelaskan.


"3 bulan lalu, sebelum aku kembali ke Indonesia. Tepatnya saat aku mendapat kabar kalo Vano mencampakanmu setelah mengetahui kau hamil anaknya. Malam itu, seseorang menjebakku. Aku sedang menghadiri peresmian perusahaan baru klien ku disebuah hotel. Ada seseorang yang mencampurkan sesuatu pada minumanku. Saat itu aku sudah kenal dengan Rose. Sudah 1 bulan Rose bekerja padaku. Secara tidak sengaja aku menghabiskan malam bersamanya" Zain mendeja ceritanya.


"Keesokan harinya aku pergi ke Indonesia untuk menemuimu. Selama di Indonesia aku mencaritahu siapa yang sudah menjebakku. Aku curiga ini bukan sebuah kebetulan. Aku yakin ada dalang dibalik semua ini. Dan benar saja, Rose adalah suruhan Owen" sambung Zain.


"Siapa Owen?" tanya Natali.


"Dia adalah musuh ku, sekaligus cucu angkat oma" jawab Zain.


"Cucu angkat?"


"Iya"


"Tapi oma tidak pernah bilang"


"Sama halnya dengan aku, oma tidak mau membahas orang yang sudah menghianatinya. Aku tidak mau membahas soal ayahku. Begitupun oma. Dia tidak mau membahas soal Owen. Bagi oma Owen sudah mati. Tapi bagiku tidak. Dia adalah musuh yang seharusnya aku lenyapkan dari dulu"


"Kenapa kau mau melenyapkan Owen?"


"Dia adalah orang yang menghasut ayahku agar selingkuh dan menikah lagi. Bodohnya ayahku malah terpengaruh oleh perkataan Owen. Aku sangat membencinya"


"Bagaimana jika Rose bukan orang suruhan Owen?"


"Dia adalah orang suruhan Owen Natali"


Zain mengambil beberapa lembar foto di dalam nakas.


"Lihat ini" Zain memperlihatkan foto-foto itu. "Itu diambil secara diam-diam oleh anak buahku"


Natali menatap foto-foto itu.


"Jadi benar anak yang dia kandung adalah anakmu" gumam Natali.


"Tidak. Dia bukan anakku" sangkal Zain.


"Zain, kau mengaku pernah melakukannya dengan Rose"


"Tapi itu tanpa keinginanku. Saat itu aku dipengaruhi obat"


"Tetap saja dia anakmu"


"Aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai anakku. Sampai kapan pun tidak akan pernah" tegas Zain.


Zain dan Natali saling diam.


"Maaf" ucap Natali.


Zain menatap Natali bingung.


"Maaf karna sudah menamparmu. Aku menyalahkanmu tanpa mengetahui yang sebenarnya. Aku tidak mendengar penjelasanmu"


"Sayang,, kamu gak salah kok. Aku tau kamu pasti syok. Aku pun juga syok. Tapi aku tidak akan menerima anak itu"


"Zain, Rose tidak bersalah dalam hal ini"


"Tidak bersalah gimana? Sudah jelas dia bersekongkol dengan Owen. Dia ingin menghancurkanku"


"Tapi anak yang dia kandung tidak bersalah"


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Zain tidak mengerti.


"Tidak. Anak itu bukan anakku. Bisa saja itu anak pria lain"


"Zain, itu anakmu"


"Tidak" tolak Zain.


Natali terdiam.


"Kau bilang kau ingin melindungiku dari pria seperti Vano" ucap Natali.


Zain menatap Natali.


"Bagaimana bisa kau melindungiku dari pria seperti Vano, jika kau pun sama sepertinya. Kau tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan"


"Tapi Nat, aku dikendalikan obat"


"Tapi dia sudah mengandung anakmu"


Zain terdiam.


"Saat kau menikahiku kau mau bertanggung jawab atas kesalahan orang lain. Dan sekarang? Kau tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri?"


"Itu beda Nat. Aku mencintaimu. Aku rela melakukan apa pun untukmu. Tapi aku tidak mencintai Rose"


"Setidaknya cintai anakmu"


"Tidak. Tidak bisa"


"Jika kau tidak mau bertanggung jawab, sekarang juga aku akan pergi dari sini" ancam Natali.


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau harus pergi? Kau tidak boleh pergi"


"Kalo begitu kau harus bertanggung jawab"


"Tidak mau"


Natali pergi ke walk in closet. Natali mengambil koper dan mengemas barang-barangnya. Zain terkejut karna Natali benar-benar ingin pergi.


"Sayang, apa yang kamu kalukan? Letakan kembali bajumu" cegah Zain.


"Tidak"


"Sayang,, ayo lah jangan begini. Aku tidak mau kau pergi"


"..." Natali fokus membereskan barangnya.


"Sayang,, aku tidak mau berpisah denganmu"


"..."


Natali menutup kopernya dan membawanya menuju pintu.


"Sayang dengarkan aku dulu.." Zain berusaha mencegah Natali pergi.


Natali tidak mendengarkan Zain. Dia tetap melangkahkan kakinya. Natali sampai juga di bawah. Zain sudah berusaha mencegah Natali. Namun dia tidak mau mendengarkan Zain. Akhirnya Zain putus asa. Tidak ada cara lain untuk menghentikan Natali selain mengikuti keinginannya.


"OK. Baiklah. Aku akan bertanggung jawab" ucap Zain dengan pasrah.


Natali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Zain.


"Aku akan bertanggung jawab asalkan kamu tidak meninggalkanku" ucap Zain.


Natali berjalan ke arah Zain dan meninggalkan kopernya.


"Aku akan terus bersamamu Zain" ucap Natali.


Zain memeluk Natali. Dia menangis.


"Maafkan aku. Jika saja aku tidak melakukan itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi" ujar Zain sambil menangis.


"Sut,, ini bukan kesalahanmu. Aku juga minta maaf. Aku melakukan ini untukmu, demi kebaikanmu juga" balas Natali.


Zain menganggukkan kepalanya.


"Kau harus bertahan Zain. Demi anakmu. Dia tidak salah apa-apa. Keadaannya yang menyalahkannya" Natali berusaha menguatkan Zain.


Zain menganggukkan kepalanya.


Meskipun Natali menguatkan Zain, namun hatinya sangat terluka. Wanita mana yang bisa merelakan suaminya memiliki anak dari wanita lain? Hati wanita mana yang tidak terluka? Rasanya semua wanita selalu ingin menjadi nomor satu dihati suaminya.