VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Ke mana Zain



Sari terlihat sedih karna Zain pergi keluar. Natali tak tega melihat Sari sedih. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menyusul Zain.


"Oma, aku keluar sebentar ya" izin Natali dan diangguki oleh Sari.


Natali mencari keberadaan Zain. Tapi dia tidak menemukannya. Ini pertama kalinya dia merasa takut di tempat umum. Saat di indonesia, meski dia ditinggal sendiri di daerah yang baru, dia tidak akan merasa takut karna dia bisa bertanya pada orang lain. Tapi jika sekarang, dia takut karna dia dinegri orang.


Natali pergi ke sana ke mari mencari Zain. Natali panik. Dia takut jika Zain pergi meninggalkannya sendiri.


Akhirnya Natali pergi ke lantai dasar untuk bertanya pada resepsionis. Pihak rumah sakit pasti kenal dengan Zain.


"Permisi" ucap Natali menggunakan bahasa Inggris.


"Ya, nona" balas resepsionis itu dengan bahasa Inggris juga.


"Kau mengenal tuan Zain? Dia cucu dari oma Sari yang di kamar VVIP, di lantai 10" tanya Natali.


"Tuan Zain? Oh,, ya. Saya mengenalnya"


"Kau tau melihat dia di sekitar sini? Aku ke sini bersamanya. Tapi aku tertinggal"


"Aku melihatnya. Beberapa menit yang lalu dia pergi ke luar nona"


"Oh,, baiklah. Terima kasih"


"Sama-sama"


Natali melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar rumah sakit. Saat dia hendak melewati pintu, ada seseorang pria menghalangi jalannya. Pria itu berbadan besar, dengan perut buncit, kepala pelontos dan kulit hitam sedang berdiri dipintu. Pintu itu terhalang olehnya.


Natali bingung harus bicara apa dia takut orang besar itu tidak mengerti bahasa Inggris. Akhirnya Natali mencoba berbicara padanya dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Permisi" ucap Natali.


Pria itu berbalik dan menghadap Natali.


"Siapa kau?" tanya pria itu menggunakan bahasa Italia.


"Permisi tuan, saya mau lewat. Kau menghalangi pintu keluar" ucap Natali dengan sopan.


"Kau ini bicara apa?" tanya ptia itu dengan tidak suka.


"Saya mau lewat tuan. Namun kau menghalangi jalan"


"Kenapa kau menggunakan bahasa Inggris? Aku tidak mengerti bahasa Inggris. Sebaiknya kau menggunakan bahasa Italia. Atau aku akan menganggapmu sedang menghinaku"


Natali tidak mengerti apa yang pria ini katakan.


"Maaf. Tapi kau menghalangi pintu tuan" ujar Natali.


"Kau menghinaku? Berani sekali kau menghinaku. Kau tidak tau siapa aku?"


"Apa yang dia katakan?" gumam Natali.


Karna sudah kelah dengan perdebatan yang tidak dimengerti, akhirnya Natali memeragakan dengan tubuhnya.


Natali menunjuk badan pria itu kemudian mengarahkannya ke pintu. Lalu dia membuat tanda silang dengan tangannya. Maksud dari gerakan Natali asalah 'kau tidak boleh menghalangi pintu'.


"Kau mengejekku?" tanya pria itu dengan keras.


"Apa yang dia katakan?" tanya Natali dalam hati.


Orang-orang mulai berkerumun.


"Berani sekali kau mengejekku. Kau memang harus diberi pelajaran" ujar pria itu dengan marah.


Tangan pria itu terulur pada kepala Natali.


"Akh.." jerit Natali saat pria itu menjambak rambutnya dengan kencang. "Lepaskan.." ucap Natali.


"Kau masih mengejekku?" tanya pria itu.


Semua orang menatap Natali dengan khawatir. Namun mereka tidak berani menyelamatkan Natali. Mereka tau siapa pria gemuk itu. Pria gemuk adalah ketua preman yang ada di daerah rumah sakit. Tidak ada yang berani padanya.


"Tuan,, apa yang kau lakukan? Lepaskan nona ini" ucap resepsionis yang tadi diajak bicara oleh Natali.


"Jangan ikut campur. Apa kau juga mau sepertinya?"


"Tuan, lepaskan nona ini. Dia datang bersama tuan Zain"


"Aku tidak kenal pada pria bernama Zain itu. Aku akan membuat dia merasakan akibatnya karna sudah berani menghinaku"


"Akh,, sakit. Lepaskan aku" ucap Natali menahan sakit.


"Lepaskan tangan kotormu itu" ucap Zain dengan menekan.


"Siapa kau? Harusnya kau yang lepaskan tanganmu dariku" balas pria itu.


Zain mencengkram tangan pria dengan kuat itu hingga pria itu melepaskan tangannya dari rambut Natali.


"Zain.." gumam Natali senang. Dia senang karna Zain datang.


Natali mundur ke belakang.


Suasana mulai menegang.


"Berani sekali kau menyentuh istriku" geram Zain.


"Dia yang salah. Dia berani sekali dia menghinaku. Kau belum tau siapa aku"


Zain menyunggingkan senyum devil.


"Kau yang belum tau siapa aku"


"Lepaskan aku. Liatlah bagaimana aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku"


"Cobalah" balas Zain.


Zain melepaskan tangan pria itu. Tangan pria itu kesakitan akibat cengkraman Zain.


Pria itu maju sambil mengepalkan tangannya pada Zain. Dia melayangkan pukulan pada Zain. Namun Zain dengan cepat menghindar dan membalas pukulan dari Zain. Pukulan pria itu dengan mudah dihindari oleh Zain. Dan hingga akhirnya pria itu bertekuk lutut dihadapan Zain.


"Katakan, sekarang siapa yang bertekuk lutut" ucap Zain.


"Aku belum kalah"


Pria itu bangun dan menodongkan pistol pada Zain.


Zain tersenyum miring.


Tiba-tiba dari arah luar datang segerombolan orang berbaju hitam. Mereka adalah anak buah Zain. Semua anak buah Zain membawa pistol. Mereka menodongkannya pada pria itu.


Pria itu diam tak berkutik.


Zain berjalan menuju Natali.


"Zain.." ujar Natali.


Natali memeluk Zain dengan erat.


"Kau tidak papa?" tanya Natali.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja? Kau pasti kesakitan"


"Tidak"


"Kenapa kau keluar dari kamar oma?"


"Aku ingin mencarimu. Tapi kau tidak ada. Akhirnya aku ke sini dan bertanya pada resepsioni. Dia bilang kau keluar. Aku pikir kau meninggalkanku"


"Aku tidak meninggalkanmu. Aku kan sudah bilang ingin menelpon seseorang"


"Tapi kenapa harus sampai keluar. Aku takut kau meninggalkanku"


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu"


"Jangan lakukan itu lagi"


"Iya, aku berjanji padamu"


Semua orang menatap keromantisan Natali dan Zain. Natali dan Zain lupa mereka ada di tempat umum.


Zain menyuruh anak buahnya membawa pria itu.


"Kita periksa ya" ucap Zain.


"Gak usah. Aku baik-baik aja kok" tolak Natali.


Zain memegang kepala Natali yang dijambak oleh pria itu. Zain merasa ada yang basah dari kepala Natali.


Saat dia menarik tangannya dan melihat apa yang basah, ternyata itu darah.


"Darah. Kamu berdarah" ujar Zain khawatir.