
Arsen terus mengelus punggung Vanya agar Vanya merasa lebih tenang. Lama kelamaan, Arsen tidak mendengar suara tangisan Vanya.
"Van.." panggil Arsen dengan lembut.
"..." tak ada jawaban Dari Vanya.
Arsen melepaskan pelukannya dan melihat Vanya. Rupanya Vanya tertidur saat menangis. Arsen tersenyum melihat Vanya yang tertidur. Arsen pun mengangkat tubuh Vanya dan memabawanya ke kamar Vanya. Arsen tidak tau di mana letak kamar Vanya. Biasanya pemilik rumah akan memiliki kamar di lantai atas. Arsen pun pergi ke atas. Arsen membuka salah satu pintu kamar. Dan beruntungnya itu adalah kamar Vanya.
Arsen pun membawa Vanya masuk dan menidurkannya di atas tempat tidur. Arsen menyelimuti Vanya.
"Van, gue cinta sama lo. Gue siap lakuin apapun agar bisa buat lo bahagia. Andai lo tau perasaan gue sebenernya" ucap Arsen membelas rambut Vanya.
Setelah mengatakan itu, Arsen kembali ke bawah. Arsen tidak akan pulang. Dia akan semalam di sini dan menjagaa Vanya. Dia khawatir Vano akan datang lagi dan melakukan sesuatu pada Vanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Arsen duduk di ruang tv. Tatapannya tajam menuju ke arah depan. Tangannya mengepal erat. Arsen masih terpikirkan ceritanya Vanya. Mengingat cerita itu kembali, membuat Arsen menjadi marah. Arsen merogoh ponselnya dari saku. Dia mencari nomor seseorang dan melakukan panggilan dengan orang itu.
"Hallo bos" sapa orang yang ditelpon oleh Arsen.
"Lakukan sesuatu untukku" ucap Arsen.
"Apapun akan kulakukan. Berikan saja perintahmu"
"Buat perusahaan Vano mengalami kerugian yang besar. Bagaimanapun caranya"
"Baik bos. Besok pagi, bos akan mendengar beritanya"
"Hm,, baiklah"
Panggilan pun terputus.
"Lihatlah Vano, kau akan menerima akibat dari perbuatanmu" ujar Arsen.
Setelah melakukan panggilan, Arsen merenung. Dia sudah tidak sabar menunggu hari esok.
Pagi pun datang.
Vanya terbangun dari ridurnya. Dia heran kenapa dia bisa ada di kamarnya. Dia hanya ingat kalo dia menangis dipelukan Arsen. Mungkin dia ketiduran. Vanya tidak menemukan siapa pun di kamarnya. Vanya mengira Arse sudah pulang.
Vanya pun turun ke bawah untuk mengambil minum. Saat dia berjalan dia tangga, dia mendengar suara orang memasak. Vanya kaget, pasalnya dia merasa dia hanya sendiri di rumahnya. Vanya pun memberanikan diri untuk melihak ke dapur. Saat dia mengintip, dia melihat Arsen sedang memasak.
"Arsen" ujar Vanya.
"Eh,, Van. Lo udah bangun" balas Arsen tersenyum.
"Lo gak pulang, dari semalem?" tanta Vanya kaget.
"Enggak. Gue mau jagain lo" jawab Arsen.
Vanya sangat terharu mendengar jawaban Arsen.
"Makasih ya Sen"
"Apa pun buat lo"
Vanya tersenyum.
"Ya udah, ayo kita makan. Gue udah masakin nasi goreng spesial ala Utali"
"Itali apanya.."
"Iya ih,, ini tu resel dari Itali"
"Hm,, ya serah lo deh"
Vanya dan Arsen makan bersama. Vanya tidak menyangka masakan Arsen bisa sangat enak.
"Wah,, lo belajar masak dari mana?" tanya Vanya.
"Gue belajar masak sendiri"
"Alah,, bohong lo. Gak percaya gue"
"Ya udah kalo gak percaya"
Keduanya melanjutkan makan dengan khidmat sampai makanan masing-masing habis.
"Maaf ya, gara-gara gue lo harus nginep di sini. Lo pasti gak tidurkan?"
"Gak papa Van. Udah gue bilang, gue rela lakuin apapun demi lo"
Lagi-lagi Vanya tersenyum pada Arsen.
"Oh,, iya, biasanya kalo pagi gini gue sering nonton berita. Lo mau nemenin gue nonton?"
"Boleh"
Vanya menyalakan tv dan mencari saluran berita. Vanya dan Arsen fokus menonton berita yang sedang terjadi di negri ini. Mulai dari mafia minyak goreng, kursi yang kurang nyaman, demo, kecelakaan, kebakaran, gelombang panas dan lainnya.
"Van, lo percaya gak ada mafia?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Mafia?"
"Iya, mafia"
"Percaya. Buktinya ada tadi ditv, mafia minyak goreng. Mafia tanah juga ada"
"Maksud gue, mafia yang ada di dunia gelap. Bukan mafia kayak gitu"
"Oh,, mafia yang suka b*nuh orang?"
"Em,, ya. Kayak gitulah.."
"Kok gak tau sih?"
"Ya,, karna gue belum ketemu dan belum nemu mafia kayak gitu"
"Gimana pendapat lo, kalo lo disukai sama seorang mafia? Lo bakalan seneng atau sedih?"
"Gue bakalan,, gak taulah. Gue belum ngalamin sih"
"Ah,, lo mah.."
Arsen mendelik sebal. Vanya malah tertawa terbahak-bahak meliyat ekspresi Arsen.
"Eh gue mau jujur sesuatu sama lo" ujar Arsen dengan serius.
"Soal apa?" tanya Vanya penasaran.
"Soal gue"
"Emang apa?"
"Sebenernya,, gue itu mafia"
Vanya mengerutkan keningnya.
"Gue mafia yang suka b*nuh orang"
Vanya membulatkan matanya tak percaya. Vanya menutup mulutnya karna kaget.
"Ahahahah..." Arsen tertawa sangat kencang.
Vanya heran pada Arsen. Kenapa dia malah tertawa?
"Kenapa lo malah ketawa?" tanya Vanya.
"Ekpresi lo,, lucu.." Arsen menirukan ekspresi terkejut Vanya dan dia pun kembali tertawa "Hahaha..."
"Ih,, lo boong ya" geram Vanya.
"Iya,, soalnya lo lucu sih.."
"Ah,, elo mah.." rajuk Vanya. Vanya pun tertawa konyol.
Saat Vanya dan Arsen sedang tertawa, mereka dialihkan dengan berita yang disampaikan reporter tv.
Berita itu menyangkut perusahaan Bazla Group, perusahaan Vano. anak Perusahaan Vano mengalami kerugian akibat gudang produksi mereka terbakar. Kerugian menapai hingga 5 M. Kebakaran masih belum diketahui penyebabnya. Polisi masih menyelidiki kasus ini. Tapi kuat dugaan penyebab kebakaran itu akibat kosleting listrik.
Arsen menyunggingkan senyum. Dia puas atas kerja anak buahnya. Arsen melihat ke arah Vanya yang terdiam. Vanya menunjukkan ekpresi kaget. Vanya terpaku ditempatnya.
"Gu-gue harus pergi sekarang" ucap Vanya beranjak dari duduknya.
"Lo mau ke mana?"
"Gue harus nyamperin.."
"Vano? Iya? Kenapa sih, Van? Lo masih khawatirin dia? Setelah apa yang dia lakuin ke elo?"
"Gak Sen. Tante Julia dan om Bram pasti lagi sedih sekarang. Sekarang gue harus nemenin mereka"
"Siapa mereka?"
"Mereka orang tuana Vano. Gue gak bisa biarin mereka sedih"
Arsen terdiam. Arsen pikir Vanya khawatir pada Vano, rupanya dia salah. Vanya hanya khawatir pada orang tua Vano saja.
"Gue anterin lo ya" aju Arsen.
"Gak usah Sen, lo pasti harus kerja kan?"
"Gue mau tetep mau nganterin lo"
"Ya udah, iya" setuju Vanya.
"Sekarang lo siap-siap, gue tunggu di mobil"
"Ok"
10 menit kemudian Vanya sudah siap. Sesuai perkataan Arsen, dia akan mengantarkan Vanya ke rumah Vano. Sesampainya di sana, Vanya segera turun dari mobil Arsen.
"Makasih ya Sen"
"Iya"
"Maaf, hari ini gue gak bisa nemenin lo"
"Ya gak papa"
"Lo hati-hati ya"
"Iya.."
Arsen melihat Vanya masuk ke dalam rumah. Dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Awasi kediaman Bazla. Laporkan apa saja yang terjadi di sana" titah Arsen.
"Siap bos"
Panggilan pun berakhir.
"Vano, terimalah hadiah dariku. Ini belum seberapa. Jika kau berani mengganggu Vanya lagi, aku tak akan segan untuk memb*nuhmu" ujar Arsen.