
Natali makan satu piring berdua dengan Zain. Sesi makan itu berlangsung dengan romantis. Mereka saling suap-menyuap. Tapi bukan uang, melainkan makanan.
Tiba-tiba Natali teringat pada Rose.
"Bi Lusy, apa Rose sudah makan?" tanya Natali.
"Sudah nyonya. Setelah makan, non Rose langsung pergi ke kamar" jawab bi Lusy.
"Oh,, baiklah. Makasih ya bi"
"Sama-sama nya"
Selesai makan, Zain meminta Natali untuk menemaninya bekerja di ruang baca.
"Sayang, temenin aku kerja yuk" ajak Zain.
"Ayuk. Kamu duluan aja. Aku mau ngambil cemilan" setuju Natali.
"Ya udah. Aku duluan ya"
"Iya.."
Zain berjalan menaiki tangga untuk pergi ke ruang baca.
Ini kesempatan Natali untuk menemui Rose. Natali pergi ke dapur mengambil cemilan dan susu hangat untuk Rose.
Tok.. tok.. Tok..
Rose membuka pintu kamarnya. Dan tampak Natali berdiri sambil membawa nampan berisikan makanan.
"Aku datang untuk membawakanmu ini" ucap Natali tersenyum.
"Seharusnya kau tidak perlu repot membawakanku ini" Rose mengambil alih nampan itu.
"Aku tidak repot kok" balas Natali.
Rose masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh nampan. Natali ikut masuk ke dalam kamar.
"Besok kamu sibuk gak?" tanya Natali.
"Sepertinya tidak. Setiap hari aku selalu di kamar" jawab Rose.
"Besok kau temani aku masak ya. Aku mau masak makanan Indonesia. Kau pasti belum pernah makan makanan Indonesia kan?"
"Iya, aku belum pernah. Oke, aku akan menemanimu memasak" setuju Rose.
"Apa kau bisa memasak makanan Italia?"
"Tentu saja bisa. Aku inikan orang Italia, masa tidak bisa memasak masakan Italia"
"Ya,, siapa tau saja tidak bisa. Bagus kalo begitu. Besok aku masak makanan Indonesia, dan kau masak makanan Italia. Nanti kita bertukar makanan. Gimana?" usul Natali.
"Kedengarannya bagus"
"Baiklah. Kalo gitu aku pergi"
"Iya. Makasih cemilan dan susunya"
"Iya"
Natali pergi dari kamar Rose dan menuju dapur. Dia membawa cemilan dan susu untuk dirinya, dan teh hangat untuk Zain. Natali pergi ke ruang baca sambil membawa nampan yang berisikan cemilan, susu dan teh hangat.
"Sayang.." seru Natali berjalan masuk.
Natali mendapati Zain yang sedang serius berbicara ditelpon.
"Akan ku hubungi lagi nanti" Zain memutuskan panggilannya. "Sayang.." Zain tersenyum pada Natali.
"Kenapa di akhiri panggilannya? Kalo belum selesai, bicara aja lagi" tanya Natali.
"Enggak kok, emang udah selesai" balas Zain. "Kamu bawa apa tu?" tanya Zain mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Oh iya ya.." cengir Zain.
Natali menaruh nampan di atas meja. Natali mengambil teh dan berjalan menuju meja yang sedang di tempati oleh Zain.
"Ini teh untuk kamu" ucap Natali.
"Makasih isriku"
"Sama-sama suamiku"
Tiba-tiba Zain langsung menarik Natali dalam pangkuannya.
"Akh,, Zain" pekik Natali.
Zain tersenyum.
"Zain, turunkan aku. Kau sedang bekerja" pinta Natali.
"Tidak aku nyaman seperti ini" tolak Zain.
"Tapi kau sedang bekerja tuan Zainoza Arsenio Zivon. Aku bisa mengganggumu"
"Kau tidak akan menggangguku nyonya Vanya Natalia Putri. Malah aku akan lebih semangat jika seperti ini"
"Ya sudah. Awas jika kau keberaan karna aku"
"Tidak akan"
Zain pokus bekerja menatap layar besar di hadapannya. Sementara Natali sibuk memperhatikan Zain yang sedang bekerja. Zain sadar Natali sedang memperhatikannya.
"Kenapa kau terus melihatku?" tanya Zain.
"Tidak ada yang ingin ku lihat selain wajahmu. Masa aku harus menatap komuter yang isinya tidak aku mengerti?" balas Zain.
"Ganteng ya" goda Zain.
"Iya. Ganteng,, banget" balas Natali.
Zain tersenyum atas balasan Natali.
Ternyata benar apa kata orang, laki-laki akan terlihat sangat tampan jika sedang bekerja. Dan Natali terpesona oleh ketampanan Zain. Kenapa dari dulu dia tidak suka pada Zain? Padahal Zain sangat tampan. Kenapa Natali malah menyukai Vano yang biasa saja?
Setelah pindah ke Italia, Zain menunjukkan rupa aslinya. Mulai dari mata yang berwarna abu, rambut yang asli sedikit berwarna pirang, serta alis yang cukup tebal. Saat menjelang pernikahan Natali juga mengubah penampilannya. Rambut yang tadinya panjang sepinggang dia potong menjadi sebahu. Dan juga dia mewarnai rambutnya sedikit. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan Vanya dan digantikan oleh Natali.
Natali memegang wajah Zain dan mengelus rahang kokohnya. Setelah ke wajah, Natali pindah ke leher. Dia sangat terg0da oleh leher Zain.
"Natali diam, atau kau akan menerima konsekuensinya" Zain memberi peringatan pada Natali.
Natali tidak menghiraukan peringatan dari Zain. Dia terus melakukan aktivitasnya. 5 menit berlalu dan Natali masih seperti itu. Zain sudah cukup menahan apa yang dilakukan oleh Natali.
Namun Natali seakan terus menggodanya. Tiba-tiba saja Natali meng3cvp leher Zain.
Zain terperanga karna k3cvpan Natali.
Tidak cukup hanya dengan k3cvpan, Natali menj1l4 leher Zain sampai leher itu menimbulkan bekas berwarna kemerahan. Atau yang sering disebut cvp4n9.
"Natali, hentikan. Aku tidak bisa menahannya jika kau terus seperti ini" ujar Zain.
"Zain, aku menginginkanmu" ucap Natali dengan suara yang serak.
Zain terdiam. Baru kali ini Natali mengucapkan kalimat itu. Biasanya juga Zain yang meminta. Namun kali ini tidak. Tanpa pikir panjang, Zain mengangkat tubuh Natali dan membawanya ke sofa. Dan mereka pun lakukan penyatuan di ruang baca.
Keesokan harinya, sesuai rencana semalam, Natali akan memasak bersama Rose. Natali sudah menyiapkan bahan-bahan untuk pasakannya. Kali ini Natali akan memasak bakso. Entah kenapa dia ingin membuat bakso dan memakannya. Dan proses pembuatan bakso pun dimulai. Natali bergulat dengan pasakannya. Rose pun sama.
Zain sudah pergi bekerja. Bi Lusy mengawasi Natali. Zain takut Natali akan terluka saat sedang memasak.
Hm,, bagaimana ya hasil pasakan Natali?