VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Minta Izin



Setelah berbicara dengan Rose, Natali pergi meninggalkan Rose. Natali pergi ke kamarnya. Dari kamar, Natali bisa melihat Rose yang masih duduk ditempatnya. Natali menyunggingkan senyum.


"Akhinya dia mengatakan yang sebenarnya. Tidak sia-sia aku berusaha mencelakainya. Maaf Zain. Aku terpaksa menggunakan namamu agar dia mendekat padaku" ucap Natali.


Ya. Selama ini yang berusaha mencelakai Rose sebenarnya bukan Zain. Melainkan Natali. Natali tau jika Zain sudah bicara tidak akan menyakitinya, maka dia akan menepati ucapannya itu. Namun tidak ada cara lain selain berusaha mencelakai Rose atas nama Zain.


"Sekarang giliranku mengendalikanmu Rose. Aku tidak akan membiarkan Owen menyentuh Zain. Aku akan memakai kembali umpan yang kau berikan. Aku akan mengembalikan umpan itu" gumam Natali.


Beberapa hari kemudian.


Natali, Zain dan Rose sedang sarapan bersama. Dengan susah payah Natali membujuk Zain agar mau sarapan bersama. Natali berharap kejadian beberapa hari lalu tidak terulang kembali hari ini.


Hanya ada dentingan sendok dan piring yang terdengar. Suasananya sungguh membuat tidak nyaman.


"Eum,, makanan hari ini sangat enak" ujar Natali berusaha mencairkan suasana.


Antara Zain dan Rose tidak ada yang merespon sama sekali.


"Huh.." Natali membuang nafas panjang.


"Sayang, aku boleh minta izin keluar gak?" tanya Natali pada Zain.


"Keluar ke mana?" Zain balik bertanya.


"Aku mau ke mall, mau jalan-jalan" jawab Natali.


"Minggu depan aja ya. Minggu-minggu ini jadwalku udah padat"


"Aku maunya hari ini"


"Hari ini gak bisa sayang. Ya udah besok aja ya"


"Kamu gak papa gak ikut juga"


"Kamu sama siapa ke sananya? Aku gak izinin kamu pergi sendiri"


"Aku pergi sama Rose"


Zain terdiam dan menatap Rose dengan mata elangnya. Rose yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam. Dia juga kaget saat Natali berkata mah jalan-jalan bersamanya.


"Jangankan sendiri, bersama dia pun aku tidak izinkan kamu" ucap Zain yang masih menatap Rose.


"Ah,, aku pergi hari ini" rengek Natali.


Bertepatan itu, Leo datang untuk menjemput Zain.


"Ha,, pas sekali. Leo atalkan pertemuan hari ini. Aku punya urusan yang lebih penting" titah Zain.


Seketika Leo yang baru datang menjadi bingung.


Natali terkejut karna Zain langsung membatalkan agendanya.


"Zain,, kenapa kau membatalkan pertemuanmu?" tanya Natali. "Tidak Leo, jangan batalkan pertemuannya"


"Hari ini aku akan menemanimu ke mall" jawab Zain.


"Tidak. Kau tidak perlu menemaniku. Rose yang akan menemaniku"


"Tidak. Aku yang akan menemanimu"


"Rose yang akan menemaniku"


"Natali, aku akan menemanimu"


"Tidak Zain.."


"Ekh.." Leo berdehem menghentikan perdebatan Zain dan Natali.


Natali dan Zain kompak melihat ke arah Leo.


"Apa maksudmu?" tanya Zain tidak terima dengan usulan Leo.


"Tuan, pertemuan hari ini sangatlah penting. Kita sudah menjadwalkan pertemuan ini 3 bulan lalu. Kau sudah mengundurnya berkali-kali. Jika kita undur lagi, kita tidak akan bisa melanjutkan kerjasama ini" jelas Leo.


"Aku tidak perduli" balas Zain.


"Zain,, kenapa kau seperti ini?" heran Natali.


Leo mendekat pada Zain dan membisikan sesuatu.


"Tuan, tolong biarkan nona Natali pergi bersama Rose. Siapa tau Rose mengatakan rencananya pada nona Natali" bisik Leo.


"Apa kau gila?"


"Tuan, pikirkan ini baik-baik. Jika Nona Natali dan Rose berteman, mungkin Rose akan mengatakan di mana keberadaan Owen" lanjut Leo.


Zain terdiam. Benar juga perkataan Leo.


"Ekhm,, baiklah. Aku akan izinkan kau pergi bersama wanita itu. Tapi,, jika terjadi sesuatu pada Natali, aku tidak akan memaafkan kau" ucap Zain.


"Ah,, akhirnya. Tenang saja Zain, aku akan baik-baik saja" balas Natali senang.


Akhirnya setelah sekian banyak bujukan, Zain mengizinkan Natali pergi bersama Rose.


Natali mengantar Zain ke mobil. Sebelum pergi, Zain dan Natali berbicara terlebih dahulu. Leo sudah berada di dalam mobil menunggu Zain.


"Hati-hati ya.." ucap Natali.


"Harusnya aku yang bilang hati-hati. Kau harus tetap waspada" balas Zain.


"Tenang saja sayang,, aku akan baik-baik saja"


"Aku akan mengirim orang untuk mengawasimu dari kejauhan. Jika kau dalam bahaya, mereka akan segera mendatangimu"


"Iya sayangku.."


"Aku pergi ya.."


"Iya.."


Zain menarik tengkuk Natali dan mel*matnya. Natali terkejut karna Zain menciumnya di luar ruangan. Selama 1 menit mereka saling bertukar slavina.


"Lain kali jangan lakukan itu" ucap Natali


"Kenapa?" tanya Zain.


"Ini di luar Zain,, gimana kalo ada yang liat?"


"Mereka gak akan berani liat. Lagi pula kamu suka kan?" goda Zain.


"Ah,, kamu mah.." wajah Natali bersemu memerah.


"Sayang,, dady kerja dulu ya. Nanti kalo udah pulang, dady jengukin kamu" ucap Zain mengelus perut Natali.


Natali memukul pelan bahu Zain.


"Udah sana. Kasian Leo nungguin dari tadi" ucap Natali.


"Kamu sih godain aku terus"


"Ih,, apaan"


Zain masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil Zain melaju meninggalkan mansion megah itu. Natali melambaikan tangannya.


Di dalam mobil, Zain tersenyum devil. Dia sengaja mencium Natali saat di luar. Karna dia melihat Rose mengintip Zain dan Natali dari atas. Zain ingin membuat Rose merasa tidak diterima dikeluarganya. Meskipun kenyataannya seperti itu. Zain juga ingin membuat Rose cemburu.


Zain tau kalo Rose menyukainya. Dia tau dari mendiang omanya. Semasa hidup, oma Sari selalu menyuruh Zain lebih perhatian pada Rose. Oma Sari tau Rose suka pada Zain. Meskipun Rose adalah anak buah Owen, tapi dia tidak bisa menahan rasa suka terhadap musuhnya. Lain di hati lain di bibir. Itu lah Rose.