
"Kita tidak tau apa yang akan terjadi suatu hari nanti. Aku sangat takut tidak bisa menemani anakku tumbuh. Tapi aku juga tidak mau anakku dekat denganku. Aku bukan ibu yang baik. Aku merasa tidak pantas menjadi seorang ibu" ucap Rose.
"Jangan bicara seperti itu. Kau sudah menjadi ibu yang baik untuk anakmu, Rose. Kau meminta hak anakmu lada Zain, itu sudah sangat baik. Kau ingin anakmu mendapat kasih sayang dari ayahnya, itu sangat baik. Jangan bicara seperti itu" balas Natali.
"Kau tidak tau tuan Owen itu seperti apa. Dia akan berusaha untuk mengh4ncvrkan Zain. Dia tidak akan tinggal diam"
"Owen yang tidak tau siapa Zain. Zain tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada keluarganya. Termasuk kau"
"Aku?"
"Iya. Kau sudah masuk ke dalam keluarga Zain. Sekarang kita adalah keluarga"
Rose tersenyum. Dia tidak menyangka Natali akan mengatakan hal itu.
Menjelang sore, Natali dan Rose pulang ke Mansion. Mereka sama-sama lelah. Mereka pun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Rose menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia teringat pembicaraannya bersama Natali saat di taman. Dia merasa bersalah karna dia berniat mencelakai Natali.
"Tuan, sepertinya aku akan gagal di misi ini" gumam Rose.
Rose sudah tidak mau menuruti perintah Owen. Dia sudah lelah diperbvd4k oleh Owen. Dia ingin hidup bebas dan tenang tanpa ada masalah yanh bersangkutan dengan Owen atau pun Zain.
"Aku sangat lelah dengan kehidupan ini" ujar Rose.
Rose beralih memegang perutnya yang sudah mulai tidak rata. Rose tersenyum. Dia senang karna dalam perutnya ada calon anaknya. Bersama Zain.
Rose tidak bisa membohongi perasannya. Dia masih mencintai Zain. Sangat mencintai Zain. Dia sedikit merasakan rasa bangga di hatinya saat Natali mengatakan kalo dia beruntung karna Zain tidak seperti Vano. Zain mau bertanggung jawab atas janin dikandungannya. Ya,, meskipun sebenarnya Zain terp4ksa melakukan itu.
Mari kita beralih pada Natali.
Natali memasuki kamar dengan lelah. Dia menaruh semua belanjaannya di atas sofa. Dia melentangkan tubuhnya di atas kasur.
"Hah,, lelah sekali" ujar Natali.
Natali menutup matanya. Dia tidak berniat untuk langsung tidur. Namun dia malah kebablasan dan tertidur. Tidur Natali sangat nyenyak.
3 jam Natali tertidur. Saking nyenyaknya, dia tidak menyadari kalo Zain sudah pulang.
Zain berbaring di sebelah Natali. Dia memperhatikan wajah cantik Natali saat sedang tidur. Wajah itu terlihat sangat tenang dan damai di alam mimpinya. Zain memainkan jarinya pada wajah Natali. Mulai dari alis, mata, hidung, hingga bibir, tidak terlewat oleh Zain.
"Em.." Natali merasa tergangggu dengan ulah Zain. Namun dia tidak tau Zain sedang jail padanya. Ya,, kan dia tidur. Jadi dia tidak tauðŸ¤
"Em.." Natali membuat mimik wajah lucu karna terganggu.
Zain tersenyum melihatnya. Dia merasa sangat gemas melihat Natali. Ingin rasanya memakan Natali saat ini. Zain terus melakukan aksi jailnya.
"Aa,, Zain jangan ganggu.." gumam Natali.
Zain menahan tawa. Natali kok bisa tau ya, Zain yang menjahilinya? Padahal Zain datang saat Natali tertidur. Itulah yang ada dipikiran Zain.
Perlahan Natali mulai bangun. Dia membuka matanya. Dengan penglihatan remang, dia melihat Zain sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Natali ikut tersenyum.
"Zain, dari kapan kamu pulang?" tanya Natali yang masih belum sadar.
"Tadi, waktu kamu tidur" jawab Zain mengelus kepala Natali.
"Oh,, maaf ya aku gak nyambut kamu"
"Gak papa sayang"
Natali terdiam dengan keadaan mata yang masih terpejam.
Natali membuka matanya.
"Nanti malem ya,, tanggung" balas Natali.
"Ini udah malem sayang"
"Hah beneran? Jam berapa?"
"Iya,, jam 18.20"
"Ah,, masih petang Zain. Belum malam"
"Ih,, di luar udag gelap beb"
"Heheheh.." Natali tertawa kecil mendengar Zain memanggilnya dengan kata 'beb'.
"Aku mau sekarang.." pinta Zain memelas.
"Akunya belum mandi yang,, bau" Natali mengusap rahang Zain dengan lembut.
"Enggak, kamu wangi banget meski belum mandi"
"Nanti aja ya sayangku.." bujuk Natali.
"Sekarang iya, nanti iya.."
"Lah,, doble dong"
"Gak papa, kan sama suami sendiri"
"Aku masih ngantuk"
"Kamu tidur aja. Aku yang kerja. Kamu tinggal nikmatin aja sayang sambil tidur"
Natali terdiam. Dia benar-benar masih mengantuk.
Zain tersenyuk karna Natali tidak menjawab. Jika Natali diam, itu berarti Zain dapat izin. Zain merubah posisi tubuhnya. Dia mengurunh Natali dalam kuasanya.
Zain menempelkan bibirnya dan bibir Natali. Lalu memainkan permainnya. Natali terusik namun dia membuka mulutnya. Setelah dari mulut, kini Zain turun ke bawah. Eh,, gak bawah banget. Cuma di leher. Eh bukan cuma juga, tapi masih di leher. Setelah di leher, turun ke tempat yang bersemayamnya air asi untuk bayi.
Natali mend3s4h karna permainan Zain. Lama kelamaan Natali terbuai dan larut dalam permainan Zain. Natali membuka matanya lebar saat merasakan ada benda asing masuk ke ruang pribadinya. Natali hanya bisa menikmati perlakukan Zain.
Zain terkekeh melihat Natali. Tak disangka permainannya di balas juga oleh Natali. Padahal tadi Natali sangat mengantuk. Dan sekarang dia sangat liar.
Pukul 20.00, Natali dan Zain turun ke bawah untuk makan malam. Mereka duduk bersebelahan dimeja makan.
"Aku mau makan satu berdua sama kamu" pinta Zain manja.
"Piringnya?" tanya Natali.
"Iya.." Zain menganggukkan kepalanya.
"Ih,, biasanya juga sendiri-sendiri"
"Sekarang maunya sama kamu.."
"Hm,, iya deh" pasrah Natali