
Natali dan Zain kembali ke kamar.
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf" ucap Zain pada Natali.
Natali menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Boleh aku minta sesuatu lagi?" tanya Natali.
"Katakan saja. Aku akan memenuhi semua keinginanmu" jawab Zain.
"Aku ingin Rose dan calon bayinya tinggal di sini" ucap Natali.
"Apa yang kau katakan? Permintaan apa itu? Aku keberatan jika dia tinggal di sini" protes Zain.
"Zain, demi anakmu" bujuk Natali.
"Demi anak lagi,, aku tidak mau sayang.." tolak Zain.
"Setidaknya sampai dia melahirkan" Natali masih berusaha membujuk Zain.
"..." Zain tidak membalas.
"Ayolah Zain, aku mohon,, demi aku"
"Hem,, baiklah. Tapi ini demi kamu"
Natali tersenyum karna Zain menuruti permintaannya.
"Kalo begitu nanti sore aku ingin menjemputnya ke rumahnya" ucap Natali.
"Aku tidak mau ikut"
"Baiklah"
Sore menjelang.
Natali pergi ke rumah Rose untuk menjemputnya. Dia diantar oleh beberapa anak buah Zain. Natali cukup tertegun melihat kondisi rumah Rose. Dia pikir Rose dari kalangan keluarga kaya. Namun pikirannya salah.
Rumah Rose sangat kecil. Diantara rumah para tetangganya, rumah Rose lah yang paling tidak nyaman dipandang.
Tok.. tok.. tok..
Natali mengetuk pintu rumah Rose. Tak lama Rose keluar dari rumahnya.
"Kau! Mau apa kau ke sini?" tanya Rose dengan agresif.
"Aku ingin berbicara denganmu. Apa aku boleh masuk?" balas Natali.
"Masuklah" Rose mempersilahkan dia masuk.
Natali masuk ke dalam rumah Rose. Rumah Rose cukup berantakan. Namun Natali tidak mempermasalahkan itu.
"Mau bicara apa kau?" tanya Rose dengan ketus.
"Sebelumnya aku mau minta maaf karna aku sudah menamparmu. Aku harap kau bisa mengerti perasaanku. Saat itu aku tidak mengerti situasinya" ucap Natali.
"Akan ku lupakan. Ya,, meskipun tamparan itu sangat sakit"
Natali tersenyum. Ternyata Rose cukup baik.
"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Perkenalkan, namaku Natali" Natali mengulurkan tangannya pada Rose.
"Aku Rose" balas Rose menerima uluran tangan dari Natali.
"Begini. Aku mau minta maaf atas apa yang sudah suamiku lakukan padamu. Dia sangat menyesali itu" ucap Natali.
"Lalu setelah dia minta maaf apa? Dia akan lari dari tanggung jawabnya? Bilang saja dia tidak mau bertanggung jawab" cerca Rose.
"Alah,, kau pun sama seperti dia. Malah kau yang menghasutnya agar dia tidak bertanggung jawab. Kau itu sama seperti wanita lain. E G O I S!"
"Zain, akan bertanggung jawab. Tapi dia bertanggung jawab hanya demi anak yang sedang kau kandung itu. Aku memang egois. Aku tidak mau suamiku dimiliki oleh wanita lain. Apalagi sampai mempunyai anak. Tapi egoku mendorongku untuk mengasihani anak itu. Egoku mendorongku agar memberikan hak anak yang belum lahir itu" ucap Natali dengan penuh penekanan.
Sedari tadi dia terus sabar. Namun Rose terus saja berulah dengan memancing emosinya. Rose terdiam mendengar ucapan Natali.
"Apa benar dia mau bertanggung jawab? Padahal jika dia tidak mau bertanggung jawab pun tidak masalah. Aku memang berniat menggugurkan anak ini" ucap Rose dengan entengnya.
Natali menatap tajam mata Rose.
"Janga pernah coba menggugurkan anak itu. Jika kau melakukannya, aku tidak akan tinggal diam. Kau akan menerima akibatnya" tegas Natali.
Seketika nyali Rose menciut.
"Tapi mau bagaimana? Aku tidak menginginkan anak ini"
"Tunggu sampai kau melahirkan. Setelah kau melahirkan, Zain akan mengurus anak itu dan kau bisa pergi"
"em,, baiklah. Aku setuju. Setelah anak ini lahir, aku ingin kau menjauhkannya dariku sejauh mungkin. Aku tidak mau mempunyai anak dari pria itu. Dan satu lagi. Aku tidak mau nama ibu kandung anak ini adalah namaku"
"Kenapa?"
"Ya,, seperti yang kubilang tadi. Aku tidak sudi mempunyai anak dari pria itu"
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan menurutinya. Sekarang kau berkemas"
"Berkemas untuk apa?" tanya Rose bingung.
"Selama kehamilan kau harus tinggal di rumah Zain" jawab Natali.
"Kenapa harus tinggal di sana? Di sini saja bisa"
"Agar aku bisa mengawasimu dengan ketat. Aku tidak mau kau melakukan hal-hal yang bodoh"
"Baiklah,, baiklah.."
Malam hari Natali dan Rose sudah berada di mansion Zain. Kini mereka sedang berada di ruang makan untuk makan malam. Namun Zain belum juga pulang. Natali sangat menantikan kepulangan Zain. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun pulang. Natali langsung menyambut Zain dengan senyum manisnya.
"Kau sudah pulang" sambut Natali.
"Iya" balas Zain.
Zain melirik ke arah ruang makan yang di sana terdapat Rose sedang diam sambil melihat makanan. Seketika mood Zain berubah jadi hancur.
"Mau langsung makan atau mau mandi dulu?" tanya Natali.
"Aku mau mandi tapi aku tidak mau makan jika wanita itu ada di sana" jawab Zain.
"Zain, kau tidak boleh seperti itu"
Zain melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan Natali. Natali bingung harus bagaimana. Satu sisi dia harus membujuk Zain. Tapi di sisi lain Natali harus menemani Rose makan. Natali pun memutuskan untuk menemani Rose makan. Dia akan membirarkan Zain menangkan diri terlebih dahulu.
"Rose, ayo kita makan" ajak Natali.
"Ayo. Tuan zain pasti tidak mau ke sini karna ada aku kan?" tebak Rose.
"Ah,, tidak juga kok. Dia lelah. Jadi dia memilih untuk beristirahat terlebih dahulu" jawab Natali.
"Oh.."
Natali menghidangkan banyak makanan untuk Rose.
"Kau harus makan yang banyak. Kau tidak perlu malu jika menginginkan sesuatu." ucap Natali.
"Tentu saja. Aku tidak akan sungkan" balas Rose.