VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Kehilangan



Oma sari disemayamkan di pemakaman keluarga. Para anak buah serta para rekan kerja zain turut ikut bersedih atas kepergian oma Sari.


Selama 3 hari Zain terus bersedih. Natali selalu setia mendampingi Zain dalam keadaan apa pun. Saat ini Zain sedang berada di ruang bacanya. Seperti yang dia lakukan selama 3 hari ini, yaitu melamun.


"Zain.." panggil Natali sambil membawa piring berisi makanan.


"..." Zain tidak menyadari keberadaan Natali.


"Sayang.." ucap Natali.


"Eh.." Zain cukup terkejut.


"Makan yuk" ajak Natali.


"Tidak. Aku tidak berselera untuk makan" tolak Zain.


"Kamu sudah 3 hari tidak makan. Kamu bisa sakit sayang.." ucap Natali dengan lembut.


Zain menggelengkan kepalanya.


"Huh..." Natali menghembuskan nafas panjang.


Natali duduk di sebelah Zain dan menyimpan piring di atas meja.


"Sayang,, dengar" Natali menggenggam tangan zain.


"Sekarang oma Sari sudah tenang. Dia akan sedih jika melihat kau seperti ini. Jika dia masih ada di sini, dia akan memarahimu" Natali menahan air matanya.


Zain menatap wajah Natali. Wajah yang terlihat lesu karna beberapa hari ini dia tidak tidur dengan nyenyak karna Zain. Zain sadar Natali juga merasa sangat kehilangan sama seperti dirinya.


Zain memeluk Natali dengan erat. Dia dan Natali saling menguatkan aatu sama lain. Air mata Zain lolos begitu saja saat memeluk Natali.


"Maaf, karna sudah membuatmu sedih. Maaf karna aku, selalu merepotkanmu" ucap Zain.


"Sut,, tidak Zain. Kamu gak pernah buat aku sedih. Kamu gak pernah kayak gitu" Natali mengusap air mata Zain. "Sudah ya kita akhiri sedih-sedihnya. Oma akan senang jika kita tidak bersedih lagi"


"Iya, kau benar" balas Zain.


1 minggu kemudian.


Zain dan Natali menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun mereka menjadi lebih romantis dan saling menjaga.


Perut Natali sudah mulai terlihat membesar namun hanya sedikit. Dia sangat bahagia karna kehadiran buah hatinya. Zain juga senang karna sebentar lagi dia akan menjadi ayah. Meskipun bukan ayah biologis.


Saat ini Natali dan Zain sedang sarapan bersama.


"Kau yang memasak semua ini?" tanya Zain.


"Tentu saja. Tapi aku dibantu oleh bi Lusi"


"Wah,, terlihat sangat enak"


"Itu sudah pasti sayang.." balas Natali. " Oh iya, aku lupa belum mengambil sambal" ujar Natali.


Natali bangun dan berjalan menuju dapur untuk mengambil sambal. Saat dia hendak mengambil sambal, tiba-tiba Natali terpeleset dan jatuh.


Bruk..


"Natali" panggil Zain yang mendengar suara terjatuh. Zain menyusul Natali.


"Ahk..." Natali meringis.


"Natali!" Zain sangat kaget melihat keadaan Natali.


Natali terjatuh. Dari bawah pahanya mengeluarkan darah.


"Darah! Sayang,, kamu gak papa?" tanya Zain panik.


"Sakit,, Zain.." ucap Natali sambil memegang perutnya.


"Ah,, tuan, non.." kaget bi Lusi yang baru datang karna mendengar suara terjatuh. "Tuan, cepat bawa non Natali ke rumah sakit"


Zain menggendong Natali.


"Cepat siapkan mobil" teriak Zain.


Dengan cepat Natali dilarikan ke rumah sakit. Zain menunggu di luar karna dokter sedang melakukan pemeriksaan.


15 menit kemudian, dokter keluar.


"Harry, bagaimana kondisi Natali?" tanya Zain.


"Maaf Zain. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada diperutnya. Natali keguguran" jawab Harry dengan sendu.


Zain sangat terpukul dengan ucapan Harry. Baru saja dia kehilangan oma Sari, kini dia harus kehilangan calon anaknya.


"Lalu bagaimana kondisi Natali? Apa dia tau soal ini?" tanya Zain lagi.


"Dia belum tau. Tadi dia masih belum sadar" jawab Harry.


"Aku ingin melihatnya"


"Tentu saja silahkan. Dalam situasi ini, kau harus terus mendampingi Natali. Dia pasti sangat terpukul"


Zain menganggukkan kepalanya. Zain masuk ke dalam ruangan Natali. Dia melihat Natali tidak sadarkan diri. Air matanya turun saat melihat wajah Natali. Zain duduk dikursi yang ada di samping ranjang Natali. Zain menggenggam tangan Natali dan menenggelamkan wajahnya.


Natali terbangun. Dia melihat Zain sedang menggenggam tangannya.


"Zain.." panggil Natali dengan lemah.


"Sayang,, kau sudah bangun?" Zain mengangkat kepalanya.


Natali tersenyum.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Natali.


"Gak papa kok" jawab Zain.


Tiba-tiba Natali teringat saat dia jatuh dan mengeluarkan darah. Natali memegang perutnya.


"Bayi ku" gumam Natali.


Zain menatap Natali. Dia tidak bisa mengatakan hal yang memilukan seperti itu.


"Sayang, bayiku. Apa dia selamat? Aku ingat saat itu aku pendarahan" tanya Natali.


"..." Zain tidak menjawab.


"Sayang,, jawab,, bayiku tidak papakan?" Natali bingung kenapa Zain tidak menjawab.


"..." Zain masih tidak menjawab.


"Zain,, jawab.." desak Natali.


"Maaf. Bayi kita tidak selamat" jawab Zain.


Duar..


Bagai pertir disiang bolong. Natali harus menerima kalo dia keguguran. Bayi yang ada di dalam kandungannya sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Gak, gak mungkin. Bayiku masih ada di dalam perutku. Gak mungkin dia pergi" bantah Natali.


"Sayang,, kamu harus kuat. Bayi kita udah gak ada" Zain menyadarkan Natali.


"Hiks,, hiks,, hiks.." Natali menangis.


Zain memeluk Natali guna menguatkannya. Natali menangis dipelukan Zain.


Natali dirawat selama 2 hari di rumah sakit. Natali berusaha mengikhlaskan kepergian bayinya.