
"Aku tau kau mempunyai rencana tersembunyikan" tebak Harry.
Natali melebarkan matanya mendengar tebakan Harry.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Natali.
"Alasan kau cemburu Zain akan mempunyai anak dari orang lain itu memang bagus dan masuk akal. Namun selain itu kau pasti punya alasan lain" balas Harry.
"Kau benar. Aku ingin memastikan apakah Rose hamil anak Zain atau bukan"
"Bagaimana jika bukan?"
"Aku sendiri yang akan mengusirnya dari rumah Zain"
"Bagaimana dengan anaknya? Kau bilang dia tidak bersalah"
"Tapi dia bukan anak Zain. Jika benar anak yang dia kandung bukan anak Zain, maka dia sudah sangat berdosa karna memanfaatkan anak sendiri demi tujuannya"
Harry menganggukkan kepalanya.
Natali dan Harry berbicara selama kurang kebih 2 jam. Setelah itu Natali memutuskan untuk pulang. Sebelum kembali ke mansion, Natali mampir terlebih dahulu ke super market. Dia ingin membeli buah-buahan, sayuran dan makanan lainnya.
Setelah selesai, Natali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah, Natali langsung mengeluarkan semua barang belanjaannya.
"Nyonya,, apa kau yang membeli semua ini?" tanya bi Lusi yang datang menghampiri Natali.
"Ya, bi" jawab Natali.
"Kenapa tidak beritahu bibi? Nanti bibi aja yang belanjanya"
"Tidak papa bi. Aku sedang ingin berbelanja. Lagipula aku ingin bisa berbelanja sendiri"
"Hm,, baik lah. Nyonya, biar bibi aja yang beresin. Nyonya istirahat aja. Nyonya pasti cape"
"Iya bi. Makasih ya bi"
Natali hendak meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya. Namun dia menjeda niatnya. Dia ingin menanyakan keberadaan Rose.
"Bi, Rose di mana?" tanya Natali.
"Tadi bibi liat dia pergi ke halaman belakang"
"Baiklah. Terima kasih ya bi"
"Sama-sama nya"
Natali pergi ke kamar. Sesampainya di kamar Natali membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Selesai mandi Natali keluar dengan hanya memakai jubah mandi. Natali menggeringkan rambutnya menggunakan handuk lain. Dia menghadap ke jendela yang langsung menghadap ke halaman belakang.
Saat itu Natali melihat Rose yang berdiri di sebelah kolam. Dia melihat Natali sedang berbicara ditelpon dengan seseorang.
"Rose? Dia masih ada di sana?" gumam Natali. "Dengan siapa dia berbicara?" Natali sangat penasaran.
Entah siapa itu. Dari raut wajah Rose, sepertinya pembicaraan mereka serius. Tampak juga Rose terlihat menundukkan kepala menahan marah dan juga kesal.
Di saat itu, hp Natali berdering. Natali segera menuju ke tempat hpnya berada. Ternyata Zain lah yang menelpon Natali.
"Zain.." gumam Natali.
Natali menggeser tombol hijau ke atas.
"Hallo Zain!" sapa Natali.
"Hallo sayang! Kamu ke mana aja? Aku WA kok gak di bales sih?" tanya Zain.
"Maaf ya, aku baru aja selesai mandi" ucap Natali.
"Baru selesai mandi? Wih,, seger dong.."
"Iya lah,, seger.."
"Kejutan apa?"
"Kejutan kalo dikasih tau bukan kejutan lagi dong"
"Oh iya.."
"Kamu tunggu aku pulang ya"
"Iya,,"
"Dah sayang.."
"Dah juga sayang.."
Panggilan pun berakhir. Natali segera menuju tempat semula. Namun saat dia kembali Rose sudah tidak ada di sana lagi.
"Eh,, ke mana perginya Rose?" tanya Natali.
Natali mengarahkan pandangannya mencari keberadaan Rose. Namun dia tidak menemukan Rose. Saat itu ada seseorang yang masuk ke dalam kamar Natali.
"Sayang..." ucap Zain.
Natali membalikkan badannya karna terkejut.
"Zain" gumam Natali.
"Kejutan.." ucap Zain senang.
"Kau sudah pulang? Ini baru pukul 12.30"
"Ini kejutan untukmu. Aku pulang cepat"
Zain berhambur ke pelukan Natali.
"Aku sangat merindukanmu"
"Zain, setiap hari kita bertemu. Kita bahkan tidur bersama. Bagaimana bisa kau merindukanku?"
"Tentu saja bisa. Hatiku sudah menyatu dengan hatimu. Aku tidak bisa jauh darimu. Aku tak bisa hidup tanpamu"
"Alah,, lebay sekali kau.."
Zain masih betah memeluk Natali.
"Eum,, rambutmu wangi sekali" ujar Zain.
"Tentu saja. Aku sudah mandi. Kau belum. Aku masih bau.." balas Natali.
Pelukan mereka terlepas.
"Kau benar. Aku harus mandi. Tapi aku mau kau menemaniku mandi"
"Tidak mau. Aku sudah mandi. Masa aku mandi lagi sih"
"Kau harus menemaniku mandi" Zain melepas jas kantornya dan mulai membuka kancing kemejanya.
Natali mulai waspada. Dia tau apa tujuan Zain. Zain sudah bertelanjang dada. Natali bisa melihat roti sobek 8 lembar milik Zain. Wajah Natali memerah melihat itu. Wajahnya terasa panas.
Zain tersenyum melihat Natali. Natali sangat menggemaskan dengan wajah yang merah merona.
Zain menarik tubuh Natali agar menempel dengan tubuhnya. Zain menatap wajah cantik Natali. Tatapannya tak bisa lepas dari bibir mungil Natali. Zain menempelkan bibirnya pada bibir Natali. Zain mulai mel*mat bibir Natali dengan lembut. Natali membalas permainan Zain.
Perlahan ikata itu berubah menjadi gejolak asmara yang membara. Dan saat siang hari Zain melakukan penyatuan dengan Natali.
Setelah selesai penyatuan, Zain dan Natali mandi bersama. Dan tidak mungkin tidak ada hal yang terjadi antara suami istri jika mandi bersama. Dan merekapun memulai permainan lagi di kamar mandi.
Jangan lupa tinggalkan jejak
Tetus dukung author