VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Natali Pulang?



Seorang pria sedang memandang pemandang layar handphone yang dipegangnya. Pria itu meenyunggingkan senyum manis dari bibi yang kini ditumbuhi oleh jenggot.


"Sayang,, udah. Jangan liatin hp mulu. Nanti kamu sakit. Kita makan yuk. Udah beberapa hari ini kamu gak makan" ajak Julia pada putra sulungnya.


"Ma,, liat, ini Vanya. Dia Vanya ma"


"Ck,, Van. Udah dong jangan liatin foto Vanya lagi. Mama tau kamu nyesel. Mama juga nyesel Van. Tapi kamu gak bisa kayak gini terus. Kamu harus bangkit" ucap Julia.


Kalian pasti sudah tau siapa pria itu. Ya,, benar. Pria itu adalah Vano.


"Ma,, ini liat. Ini Vanya. Vanya ada di suatu tempat ma"


"Udah Van, simpan hpnya. Ayo turun kita makan" bujuj Julia.


"Gak ma. Aku mau ketemu Vanya" tolak Vano.


"Vano, Hentikan!" tegas Bram.


Bram mendekati istri dan putra sulungnya.


"Berhentilah bersikap seperti ini! Kau masih punya kehidupan. Kau harus melupakan Vanya. Kita sudah mencarinya ke mana-mana. Dia sudah tidak ada. Jangan lagi mengharapakan dia. Lebih baik kau fokus pada hidupmu" ucap Bram.


"Pa,, ma,, liat. Ini Vanya. Dia lagi di bandara pa,, ma.." Vano menunjukkan sebuah foto.


Bram dan Julia melihat foto yang ditunjukkan Vano dengan malas. Seketika mereka membulatkan mata mereka setelah melihat foto itu.


"Van, ini Vanya?" tanya Julia.


"Iya ma,, ini Vanya" jawab Vano.


"Papa tidak percaya ini. Vanya masih ada" ujar Bram.


"Vano juga gak nyangka Vanya masih ada" balas Vano.


"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Bram.


"Helen yang mengirimkannya padaku"


"Helen? Bukankah kalian sudah tidak berkomunikasi lagi?"


"Ya, tapi kemarin dia tiba-tiba mengirimku foto-foto ini"


Bram dan Julia masih mengamati foto itu.


"Ini seperti dalam pesawat" ujar Julia.


"Iya ma, benar. Ini dalam pesawat" balas Bram. "Di sini juga Vanya terlihat tangannya sedang ditarik oleh seseorang"


"Vanya pasti ada di negara lain" ujar Vano.


"Tapi di mana?" tanya Julia.


Vano berpikir keras.


"Italia" ujar Vano.


"Italia?" tanya Bram dan Julia bersamaan.


"Iya. Tidak salah lagi. Vanya pasti ada di Italia" tebak Vano.


"Dari mana kamu tau?" tanya Bram.


"5 hari lalu Helen memposting dirinya sedang di negara Italia. Dia juga bilang dia akan liburan selama 5 hari. Mungkin, foto itu diambil saat Helen akan pulang ke Indonesia" jelas Vano.


"Kalo begitu, Vanya pasti akan pulang ke Indonesia. Dan mungkin saja sekarang dia sudah ada di Indonesia" ucap Julia.


"Mama benar" balas Bram.


"Kalo begitu, sekarang Vano akan pergi ke rumah Vanya dan melihatnya" ucap Vano.


"Berarti Vanya tidak kembali ke Indonesia" balas Bram.


"Kenapa begitu?" heran Julia.


"Coba lihat. Di sini sepertinya ada pembajakan pesawat. Bisa saja Vanya tidak jadi terbang ke Indonesia" balas Bram.


"Papa benar. Vanya tidak bisa bepergian sendiri. Pasti dia akan ditemani oleh seseorang. Dia tidak berani pergi sendiri" timpal Vano.


"Kalo begitu bisa jadi Vanya masih berada di Italia"


"Vano gak perduli pa. Vano akan tetep cari Vanya di mana pun itu. Semua negara bakalan Vano datangi untuk cari Vanya. Vano mau Vanya kembali sama kita"


"Papa dan mama dukung kamu sayang" ucap Julia"


Vano tersenyum. Tiba-tiba semangat 45 kembali tumbuh di hatinya.


Vano segera pergi ke kamar mandi. Dia membersihkan diri sebersih mungkin. Setelah itu, dia mencukur jenggot yang menutupi bagian dagunya. Vano memilih pakaian terbaiknya. Vano sudah sangat siap untuk bertemu dengan Natali atau Vanya. Dia sangat merindukan Natali.


Pukul 19.30, Vano sampai di rumah Natali. Rumahnya terlihat sangat sepi. Memang lampu rumahnya hidup, namun seperti tidak ada aktifitas dibdalam rumahnya.


Tok.. tok.. tok..


Vano mengetuk pintu rumah Natali.


Tok.. tok.. tok..


Vano mencoba mengetuk pintu rumah Natali lagi.


Dia masih tidak mendapat jawaban.


Tok.. tok.. tok..


Vano mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya. Namun hasilnya masih sama.


"Van,, Vanya,, lo di dalem kan? Vanya.." Vano berusaha memanggil Natali. Usahanya masih gagal.


Vano pun memilih duduk di kursi yang ada di depan rumah. Dia akan menunggu sampai Natali keluar.


Vano sudah menunggu selama beberapa jam. Dilihatnya jam tangan yang menunjukkan pukul 22.15. Vano tak mendengar pergerakan dari dalam rumah.


Hingga akhirnya tengah malam, Vano sudah hampir terlelap. Vano segera mengusap wajahnya supaya rasa kantuknya hilang. Vano berdiri dari duduknya.


Tok.. tok.. tok..


"Van,, lo di dalem kan? Van,, ini gue Vano. Buka Van.." Vano masih berusaha membuat Natali ke luar dari rumahnya.


"Gue gak akan pulang sebelum lo keluar. Gue mau ketemu lo Van. Gue sadar gue salah. Maafin gue Van. Gue nyesel" teriak Vano.


"Woi mas!" panggil seorang tetangga pria.


Vano menengok ke arah orang itu.


"Mas g1la ya! Tengah malem teriak-teriak di depan rumah orang. Ini tu waktunya istirahat. Ini malah teriak-teriak gak jelas. Ganggu orang istitahat tau" ucap pria itu.


"Maaf pak. Saya manggil temen saya" balas Vano.


"Temen siapa? Setan? Nyebut mas. Rumah itu kosong. Gak ada orangnya. Mas manggil siapa?"


"Temen saya udah pulang pak. Dia ada di dalem"


"Mas mendingan pulang deh"


"Gak pak. Saya gak akan pulang sebelum ketemu temen saya"


"Terserah mas lah. Tapi awas aja kalo sampe ganggu lagi. Saya seret mas"


"Iya pak"