VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Kebohongan



Setelah memeriksa keadaan Natali, Zain dan Natali pun kembali ke kamar oma Sari. Oma sari sangat khawatir pada Zain dan Natali. Karna mereka tidak kunjung kembali dan mereka juga tidak memberi kabar.


"Oma.." sapa Natali dan Zain masuk ke dalam kamar.


"Kalian kemana saja? Oma khawatir di sini" tanya Natali.


"Maaf oma, tadi aku habis cari Zain. Eh dianya ada di bawah. Jadi kami lama" jawab Natali.


"Dia bertengkar oma" sela Zain.


"Apa! Natali, kau bertengkar?" tanya oma kaget.


"Ti-tidak oma. Tidak benar. Zain lah yang bertengkar. Bukan aku" sangkal Natali.


"Jadi kalian yang bertengkar?" oma Sari bingung.


"Natali oma. Oma tau, dia bertengkar dengan seorang pria berbadan besar. Mereka berkelahi" jelas Zain.


"Eh,, sembarangan. Oma, sebenarnya aku akan mencari Zain ke luar. Tapi di pintu ke luar ada pria berbada besar. Aku memberitahunya kalo dia menghalangi jalanku. Tapi dia tidak mengerti. Dia terus berbicara menggunakan bahasa Italia. Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Setelah itu dia marah. Aku tidak tau kenapa dia marah" jelas Natali.


"Dia marah karna dia menganggap kau sudah menghinanya" timpal Zain.


"Hah,, benarkah? Dia salah paham oma"


"Lalu siapa yang berkelahi?" tanya oma Sari.


"Tentu saja Zain" jawab Natali.


"Zain? Kau berkelahi dengan pria itu?" oma Sari tampak kaget.


"Iya oma" jawab Zain.


"Oma kan sudah bilang, jangan berkelahi. Kenapa kau masih saja berkelahi"


"Oma, sebebarnya Zain berkelahi demi menyelematkanku" ujar Natali.


"Menyelamatkanmu?"


"Iya oma, saat itu pria itu menjambak rambutku dan hendak memukulku. Tapi Zain menyelamatkanku. Dan dia berkelahi dengan pria itu. Tapi Zain yang menang. Dia sudah seperti pahlawan oma" jelas Natali.


"Tapi kau tidak papakan?" tanya oma Sari.


"Tidak oma. Aku tidak papa" jawab Natali.


"Kepalanya terluka oma" celetuk Zain.


Natali membulatkan matanya. Kenapa Zain mengatakan itu pada oma Sari.


"Kepalamu terluka?"


"Ish,, kalian ini. Kenapa membuat oma khawatir? Jika kalian terus seperti ini, bisa-bisa oma mati seketika"


"Oma gak boleh ngomong gitu"


"Ck, oma ini. Selalu saja seperti itu"


Sore menjelanga, Natali dan Zain pulang ke mansion. Awalnya Natali menolak karna masih ingin bersama dengan oma Sari. Namun Zain memaksa untuk pulang. Natali harus istirahat, dia tidak boleh kecapean.


Kalian penasaran gak sama keluarga Vano? Hem,, author juga penasaran nih. Kita intip yuk!


Beberapa hari terakhir Vano dan keluarganya dihantui rasa bersalah. Pada siapa lagi mereka merasa bersalah, kecuali pada Vanya atau yang kini dipanggil dengan nama Natali.


Saat ini Vano, Julia dan Bram sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka baru saja selesai makan malam. Helen sudah masuk ke alam mimpi meninggalkan Vano. Vano dan yang lainnya sengaja tidak memberitahu soal Vano yang sudah menikah dengan Natali. Vano melarang mereka memberitaukannya pada Helen. Vano tidak mau Helen marah dan pergi darinya.


"Van, kamu udah tau di mana keberadaan Vanya?" tanya Julia.


"Belum ma" jawab Vano.


"Kamu ini gimana sih! Udah 1 minggu lebih tapi kamu masih belum menemukannya" kesal Julia.


"Van, suruh anak buah kamu cari Vanya. Kami tidak mau kehilangan cucu kami" timpal Bram.


Vano merasa kesal karna orang tuanya selalu mendesaknya agar mencari Natali. Padalah Vano sendiri pun sudah mengerahkan apa yang dia bisa untuk mencari Natali. Vano juga sama merasa bersalah pada Natali. Namun saat mendengar Natali pergi bersama Zain, hal itu membuatnya menjadi marah.


"Mah,, pah,, udah lah. Lupain dia" ucap Vano prustasi.


"Lupain? Maksud kamu apa? Kamu ingin kami merelakan cucu pertama kami?" tanya Julia.


"Iya. Lagi pula belum tentu anak yang dikandung Vanya itu adalah anakku. Bisa saja itu anak pria lain" balas Vano.


"Kamu nuduh Vanya selingkuh?" tanya Bram.


"Bukan nuduh pah. Tapi dia emang selingkuh" ucap Vano.


Vano mengingat kembali beberapa bulan lalu saat dia hendak menyentuh Natali dengan paksa, namun gagal karna Zain datang ke rumah Natali. Mengingat itu Vano menjadi marah. Emosinya mulai naik.


"Asal kalian tau ya mah, pah. Dulu, saat kami sudah menikah, malam-malam aku ke rumah Vanya. Aku hendak menanyakan kabarnya dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami. Tapi Arsen datang ke rumah Vanya. Aku mengusirnya karna dia bertamu malam-malam. Lagipula itu sudah malam, di luar waktu jam kerja. Tapi Arsen menolak ke luar. Dia malah mengusirku dan dia mengatakan kalo dia adalah pacar Vanya. Aku kaget mendengar itu. Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua. Entah apa yang mereka lalukan pada malam itu" jelas Vano.


Julia dan Bram terdiam. Mereka terkejut dengan penjelasan Vano. Mereka tidak menyangka Natali memili pacar dan dia selingkuh dari Vano. Mereka juga tidak menyangka Natali membiarkan Zain tinggal di rumahnya semalaman.


"Mah,, pah,, anak yang dikandung Vanya bukan anakku. Itu adalah anak Arsen. Buktinya Vanya mau pergi bersama Arsen. Berarti benar, anak itu bukan anakku. Kalau pun itu anakku aku akan bersedia menjadi ayahnya. Dia tidak perlu kabur dengan pria lain"


Setelah mendengar ucapan Zain, Julia dan Bram menjadi ragu kalo anak yang dikandung Natali adalah cucu mereka.


"Semoga saja mereka percaya pada ucapanku. Aku pun tidak tau apakah itu adalah anakku atau bukan. Tapi entah kenapa aku merasa itu adalah anakku. Darah dagingku" batin Vano.