VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Malper



Acara pernikahan selesai pukul 21.00 malam. Setelah acara selesai, semua orang pulang ke rumah mereka masing-masing. Termasuk Sari. Dia juga pulang ke mansion. Sementara Natali dan Zain, mereka menginap di hotel.


Natali dan Zain masuk ke dalam kamar mereka. Kamar yang mereka tempati sangatlah indah. Kamar itu khusus dipersiapkan untuk pengantin baru Natali dan Zain.


"Kau mau mandi duluan?" tanya Zain.


"Kau saja. Aku mau membuka gaun ini dulu" balas Natali.


"Mau kubantu?" tawar Zain sambil tersenyum nakal.


Natali tau arti senyuman itu.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri. Kau mandi saja" tolak Natali.


Karna niat baiknya ditolak, akhirnya Zain memutuskan untuk mandi duluan. Setelah dia mandi, barulah Natalu yang mandi.


Natali sudah gerah dengan gaun yang dia kenakan. Dia ingin sekali mencopot gaun itu. Natali berusaha membuka gaun itu sendiri. Tapi dia tidak bisa. Akhirnya mau tidak mau dia harus menunggu Zain selesai mandi dan meminta bantuannya.


10 menit kemudian, Zain sudah selesai mandi. Dia terlihat sangat segar. Rambutnya yang basah, serta Zain yang keluar dengan bertelanjang dada hanya bagian bawahnya saja yang tertutup, membuat parasnya begitu menawan.


Glek,,


Natali menelan slavinanya dengan kasar. Dia pun membuang pandangannya. Meskipun dia sudah pernah bahkan sering tidur dengan Zain, dia tidak pernah melihat Zain bertelanjang dada seperti ini Ini hal yang baru baginya. Dan hal baru itu membuatnya merasa malu.


"Hey,, kau belum membuka gaunmu?" tanya Zain heran.


"Eum,, aku tidak bisa membukanya" jawab Natali.


"Maksudmu?"


"Gaunnya sangat sulit dibuka. Aku butuh bantuan" jelas Natali.


Zain menatap Natali kemudian dia tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Natali.


"Tadi aku menawarkan bantuan. Tapi kau tolak. Dan sekarang?"


"Ya,, aku pikir aku bisa melepaskan gaun ini sendiri. Tapi ternyata tidak bisa" jawab Natali.


Zain berjalan ke belakang Natali. Kemudian dia membantu melepaskan gaun yang melekat di tubuh Natali. Zain bisa melihat punggung putih mulus milik Natali.


Zain terdiam menatap punggung Natali. Tangannya terulur menyentuh punggung putih itu.


Natali merasakan tangan Zain menyentuh punggungnya. Dia menjadi tegang. Dia gugup saat Zain menyentuh punggungnya.


"E-e,, aku mau mandi" ucap Natali yang langsung pergi ke kamar mandi sambil menyeret gaunnya.


Natali terlihat kesusahan membawa gaunnya. Karna gaun itu cukup berat, akhirnya Natali memutuskan untuk melepas gaun itu di sana. Untung dia memakai pakaian dalam yang lain. Setelah gaun itu terlepas, dia masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat ke arah Zain.


Zain menatap kepergian Natali. Zain tersenyum melihat tingkah Natali. Sanggat menggemaskan. Itulah yang ada dipikiran Zain.


15 menit kemudian Natali tak kunjung keluar dari kamar mandir. Zain masih setia menunggu Natali. Akhirnya Zain memutuskan untuk mengetuk pinti kamar mandi.


Di sisi Natali.


Natali sedang kebingungan. Dia bingung harus memakai apa. Karna sata masuk ke dalam kamar mandi, dia tidak membawa baju ganti. Bahkan dia lupa membawa handuk. Tidak mungkinkan, Natali harus keluar dengan bertelanjang? Bisa hancur image nya di depan Zain.


Tapi Natali juga malu jika harus meminta Zain membawakan baju ganti untuknya. Bisa-bisa Zain mengira dia sedang merayunya.


Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ketukan pintu kamar mandi.


Tok,, tok,, tok,,


"Natali, kau di dalam bukan?" tanya Zain.


"Eum,, ya. Aku masih di dalam" jawab Natali.


"Kau baik-baik saja kan?"


"Ya, aku baik-baik saja"


"Aku kira kau kenapa" gumam Zain.


Mau tidak mau Natali harus meminta bantuan Zain.


"Ya" balas Zain.


"Bisa tolong bantu aku?"


"Kau kenapa? Apa kau jatuh?" tanya Zain panik.


"Tidak. Aku tidak jatuh"


"Lalu kenapa?"


"Eum,, aku tidak membawa baju ganti. Aku juga tidak membawa handuk ke dalam sini"


"Jadi?"


"Tolong bawakan baju tidurku Zain. Aku tidak tahan jika harus lebih lama di dalam sini"


"Apa kau mencoba menggodaku?"


"Sudah kuduga dia akan berpikiran seperti itu" gumam Natali.


"Tidak. Aku tidak berniat menggodamu. Aku memang lupa tidak membawa baju ganti saja" sangkal Natali.


"Hem,, baiklah. Aku akan membawakan baju untukmu" ucap Zain.


Zain membuka lemari. Dia menemukan 1 baju berwarna merah. Dia tidak menemukan baju tidur yang lain. Dia pun tak tau bagaimana bentuk baju itu. Yang jelas, dia yakin kalo itu baju untuk Natali. Zain pun mengambil baju itu dan memberikannya pada Natali.


"Terima kasih" ucap Natali.


"Apa pun untukmu sayang" balas Zain.


Natali merasa geli saat Zain memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.


5 menit berlalu.


"Zain.." panggil Natali yang masih ada di dalam kamar mandi.


"Ya" balas Zain yang masih setia menunggu Natali.


"Apa tidak ada baju lain?"


"Tidak ada. Hanya ada baju itu saja"


"Apa dikoperku tak ada baju?"


"Tak ada koper di kamar ini. Koperku pun tidak ada. Yang ada hanya itu di dalam lemari. Memangnya kenapa?"


"Tidak. Tidak papa. Aku akan segera keluar" ucap Natali.


"Apa ini saatnya aku menyerahkan diriku pada Zain? Ya. Aku rasa ini saatnya. Zain berhak memilikiku seutuhnya. Sekarang jiwa dan ragaku sudah menjadi miliknya. Jika tidak ada dia di sisiku, mungkin aku tidak akan mendapat kebahagiaan lagi di hidupku" pikir Natali.


"Aku akan segera keluar?" gumam Zain. "Apa dia mengisyaratkan agar aku lebih sabar lagi? Apa dia tau aku sedang menunggunya? Atau apa dia meminta aku menunggunya?" pikir Zain.


Zain senyum-senyum sendiri mendengar ucapannya.


Ceklek,,


Pintu kamar mandi terbuka. Natali keluar dengan ragu disertai gugup. Natali berjalan keluar kamar mandi dan menghadap Zain yang terdiam menatapnya dengan takjub.


Glek,,


Zain tidak menyangka Natali akan secantik dan semenawan ini. Pantas saja Natali menanyakan tidak ada baju lain. Rupanya baju yang dikenakan Natali sangatlah menggugah selera.


"Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku malu" ujar Natali.


Zain tersadar. Dia pun tersenyum. Zain berdiri dan berhadapan dengan Natali.


"Kau sangat cantik" puji Zain.


"Terima kasih" balas Natali.


Zain menarik tubuh Natali dan merapatkannya dengan tubuhnya.