
1 minggu sudah Vanya menyandang status sebagai istri Vano. Hubungan Vanya dengan Vano pun sudah kembali membaik seperti sedia kala. Meskipun Vanya tidak akan pernah bisa melupakan kejadian di malam itu.
Saat ini Vanya, Vano dan Helen sedang berada di sebuah cafe. Vano dan Helen sedang berdiskusi tema yang akan mereka pakai untuk pernikahan mereka. Sedangkan Vanya, dia baru saja selesai meeting dengan klien Arsen.
Awalnya Vanya ingin pergi, namun Helen menahannya dengan alasan dia membutuhkan bantuan Vanya untuk menentukan tema yang akan dipakai. Sebenarnya tujuan Helen adalah untuk memanas-manasi Vanya. Dia ingin menunjukkan kalo Vanya tidak bisa merebut Vano darinya, Vano hanya miliknya seorang.
Dari Helen memang seperti itu. Dia takut kalah saing dengan Vanya. Dia tidak mau jika Vano dekat dengan Vanya. Oleh sebab itu, dia menganggap ini saatnya untuk menunjukkan kalo Vano akan menjadi miliknya untuk selamanya.
Vanya menatap Vano dan Helen dengan jengah. Vano mendukung Helen agar Vana tetap berada di cafe. Vanya merasa tersindir melihat Vano dan Helen yang tampak bahagia memilih tema pernikahan mereka. Karna 1 minggu yang lalu Vanya menikah dengan Vano tanpa ada pesta dan saksi dari keluarga Vano.
"Ck,, kenapa gue gak tolak aja tadi ya. Kenapa gue harus nurutin kemauannya si Helen? Gue nyesel njirr" bantin Vanya.
"Vanya,, menurut lo mana tema yang bagus?" tanya Helen. Helen menatap Vanya dengan sinis.
"Sabar Vanya.." bantin Vanya.
"Em,, kalo lo nanya mana yang bagus, gue jawab, semuanya bagus" jawab Vanya.
"Iya gue tau, tapi yang mana yang paling bagus gitu"
"Ya terserah lo. Yang mau nikah kan, kalian berdua. Bukan gue" balas Vanya.
Helen kesal dengan jawaban Vanya.
"Van men.." Vano hendak berucap, namun dering ponsel Vanya menghentikannya.
Kring..
Ponsel Vanya berdering menandakan panggilan masuk. Panggilan itu dari Arsen. Vanya pun segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo Sen" sama Vanya.
"Van, lo di mana?" tanya Arsen.
"Gue masih ada di cafe nih"
"Emang belum selesai ya?"
"Udah kok"
"Ya udah, cepet ke sini"
"Emang kenapa?"
"Gue lagi bingung nih"
"Bingung kenapa?"
"Gue bingung harus makan apa"
"Gila lo. Masa soal makan aja lo bingung"
"Iya,, gue bingung banget nih,, tolongin gue. Cepet dateng ke sini"
"Minta saran sama Gave aja"
"Gak mau,, maunya sama lo.."
"Ih,, manja banget lo"
"Terserah lo mau ngomong apa. Yang jelas gue butuh lo.."
"Iya,, iya,, gue ke sana nih sekarang. Lo ada di mana?"
"Gue ada di restoran x"
"Ok. 10 menit lagi gue sampe"
Panggilan pun terputus.
Vano dan Helen sama-sama menatap Vanya. Vanya cukup terkejut saat mereka berdua menatapnya. Vanya kira Vano dan Helen tidak memperhatikannya.
"Kalian kenapa?"
"Siapa yang telpon?" tanya Vano.
"Biasa, Arsen" jawab Vanya.
"Mau apa dia?"
"Dia minta tolong bantu milihin makanan"
"Buat apa?"
"Ya buat dia makanlah"
"Lo juga manja banget harus dipilihin tema sama gue" balas Vanya.
Helen semakin kesal pada Vanya. Vanya mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Saat dia hendak melangkah, tiba-tiba Vano menyekal tangan Vanya.
"Lo gak boleh pergi" cegah Vano.
"Kenapa?"
"Ya,, gue bilang lo gak boleh pergi"
"Terserah gue ya, mau pergi atau enggak. Lo gak bisa ngatur gue"
"Gue berhak ngatur lo"
"Hak? Lo ngomongin hak sama gue? Gak salah nih?" tanya Vanya tersenyum miring.
Vano terdiam dan dia pun melepaskan tangannya dari Vanya.
"Mending lo urusin cewek manja lo yang gak berduit, dan gue ngurusin cowok manja gue yang berduit. Okey"
Setelah mengatakan itu, Vanya pun pergi dari cafe itu.
Helen sangat marah mendengar ucapan Vanya. Secara terang-terangan, Vanya sudah menghinanya di depan Vano. Mau ditaruh di mana mukanya.
Bukan hanya Helen yang merasa marah. Vano pun juga sama marahnya dengan Helen. Vanya berani menanyakan haknya atas Vanya. Sudah jelas Vano itu adalah suaminya. Jadi dia berhak mengatur apa yang Vanya lakukan.
Vanya keluar dari cafe dengan perasaan senang. Karna dia berhasil mengenai 2 burung dengan 1 lemparan batu. Selain dia bisa menghina Helen, dia juga bisa menyinggung Vano. Siapa suruh mereka mengusik Vanya duluan. Maka itulah akibatnya.
Vanya pergi ke restoran di mana Arsen berada. Setelah sampai, dia pun segera menuju meja Arsen. Dan benar saja. Vanya melihat Arsen yang tampak sedang uring-uringan.
"Hai,, lama ya" sapa Vanya duduk di kursi dekat Arsen.
"Van,, lo kok lama banget sih? Gue udah gak tahan,, gue laper nih.." keluh Arsen.
"Kalo laper ya makan. Harusnya lo gak usah nungguin gue"
"Gue gak tau harus makan apa. Lo tolong pesenin ya"
"Ya udah iya, gue pesenin ya"
Vanya pun memesan makanan. Dia memesan 2 porsi nasi goreng spesial. Setelah pesanan datang, Arsen segera memakan nasi goreng itu dengan lahap. Bahkan sampai nambah 2 porsi lagi.
Setelah habis, Arsen kekeyangan dan merasa puas.
"Kalo mau nasi goreng, kenapa gak dari tadi pesen dari tadi?" tanya Vanya.
"Tadi gue bingung pesen apa. Tapi gue laper. Tapi gue juga bingung" cengir Arsen.
Vanya memutar bola matanya malas.
Malam harinya. Vanya sudah berada di rumahnya. Dia sedang bersantai sambil membalas chat dari Arsen. Ya,, entah kenapa sejak tadi Arsen terus saja mengirim pesan padanya. Dan entah kenapa, Vanya juga merasa tidak keberatan membalas pesan dari Arsen. Kini dia seperti orang yang sedang berselingkuh dari suaminya.
"Lagi chattan sama siapa?" tanya Vano yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah Vanya.
"Vano! Ngapain lo di sini?" tanya Vanya kaget.
"Chattan sama siapa?" Vano mengulang pertanyaannya.
"Sama Arsen. Emang kenapa?"
"Lo masih chattan sama Arsen?"
"Iya lah. Dia itu bos gue"
"Sini hp lo" pinta Vano.
"Apaan? Gak mau ah. Ini hp gue ya" tolak Vanya.
"Siniin" Vano berusaha mengambil hp Vanya.
"Nggak Van"
Vano terus berusaha merebut hp Vanya tapi dia tidak berhasil mendapatkannya.
"Van, udah cukup. Lo kenapa sih?" tanya Vanya heran.
"Lo nanya gue kenapa? Lo gak ngehargain perasaan gue Van. Gue ini suami lo. Dan lo mau selingkuh dari gue?"
"Suami? Selingkuh? Lo sehat Van?"
Vano menatap Vanya dengan sorot mata kecewa.
"Eh,, lo juga gak ngehargain perasaan gue ya. Pas tadi Helen minta gue pilihin tema pernikahan kalian, lo gak larang dia. Lo tau gak perasaan gue gimana? Lo mau dianggep suami sama gue? Mikir Van,, emang lo nganggap gue istri lo apa? Dari Awal pernikahan kita cuma kontrak 3 bulan ya. Dan lo yang udah nentuin kontrak itu. Lo juga udah lupa, kalo syarat pernikahan itu gak boleh ada hubungan suami istri. Lo nuduh gue selingkuh? No,, I never have an affair. Gue gak baj*ngan kayak elo Van" balas Vanya.