VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Pergi



Arsen membantu Vana mengemas pakaian dan barang-barang Vanya. Vanya membawa barang-barang yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu ada foto ayah dan ibunya. Serta barang peninggalan orang tuanya.


Setelah selesai berkemas, Arsen membawa Vanya ke bandara. Sebelum pergi ke bandara, Vanya meminta Arsen untuk singgah di kuburan orang tuanya. Vanya ingin berpamitan pada orang tuanya. Arsen menuruti keinginan Vanya.


Dan saat ini, mereka berdua sedang berada kuburan orang tua Vanya.


"Mah,, pah,, Vanya mau pamit. Vanya mau memulai hidup Vanya yang baru mah,, pah. Vanya udah gak tahan sama kehidupan di sini. Vano dan keluarganya gak nepatin janji mereka. Vanya kecewa sama mereka" Vanya mengeluhkan apa yang dia rasakan pada ayah dan ibunya.


Arsen mengelus punggung Vanya agar menguatkan Vanya.


"Sekarang, Vanya akan pergi dari sini. Vanya udah gak mau di sini. Kalian yang tenang ya di sana. Doain Vanya supaya Vanya bisa bahagia atas apa yang Vanya pilih ini. Doain juga cucu kalian ya. Vanya pamit"


Vanya bangkit dari jongkoknya.


"Ayo Sen" ajak Vanya.


"Iya ayo" balas Arsen.


Vanya jalan duluan. Sementara Arsen masih di sana tanpa sepengetahuan Vanya.


"Mah,, pah,, kenalin, aku Arsen. Calon menantu kalian. Kalian tenang aja, aku akan menjaga putri kalian dengan baik. Aku tidak akan membiarkan dia menangis, kecuali tangisan bahagia. Aku akan membuat dia bahagia bersamaku. Tidak akan kubiarkan orang lain menyakitinya. Meski hanya sedikitpun. Dan juga, anak yang dikandung oleh Vanya akan menjadi anakku. Bukan anak orang lain. Nama ayah anaknya akan menggunakan namaku. Bukan nama pria lain. Tolong restui kami"


Setelah selesai berbicara, Arsen bangkit dan menyusul Vanya.


Vanya sudah ada di dalam mobil menunggu Arsen.


"Lo abis ngapain?" tanya Vanya heran.


"Gue abis ngomong sama orang tua lo"


"Ngomong apa?" tanya Vanya penasaran.


"Ada deh,, rahasia. Lo gak boleh tau" balas Arsen.


"Ih,, lo mah.." rajuk Arsen.


Arsen kembali menjalankan mobilnya menuju bandara. Sesampainya di bandara, Arsen sudah ditunggu oleh para anak buahnya yang berpakaian serba hitam. Vanya heran kenapa harus ada pengawalan? Kenapa semua orang memakai pakaian hitam? Mereka juga tidak tersenyum. Dan seketika Arsen pun juga tidak tersenyum. Arsen menunjukkan ekspresi dingin. Vanya tidak tau mengapa Arsen seperti itu.


"Pesawatnya sudah siap bos" ucap salah satu anak buah Arsen yang menghampirinya.


"Hm.." Arsen mebganggukkan kepalanya.


Arsen memegang tangan Vanya dan menuntunnya agar mengikuti langkahnya. Arsen membawa Vanya ke sebuah pesawat zet pribadi.


"Sen, ini pesawat zet siapa? Gue kira naik pesawat biasa?" tanya Vanya heran.


"Pesawat ini milik gue" jawab Arsen.


"Wah,, bohong lo. Lo gak pernah bilang punya zet pribadi"


"Sekarang gue udah bilang kan"


"Ya tapikan lo-"


Kruuk,, kruuk,,


Anggap saja suara perut ya reader.


Perut Vanya berbunyi.


Arsen menatap Vanya. Sementara Vanya malu karna perutnya tiba-tiba berbunyi.


"Lo laper?" tanya Arsen.


Kruuk,, kruuk,,


Lagi-lagi perut Vanya berbunyi. Dan itu membuat dia tambah malu.


"Heheh.." Arsen tersenyum. Dia sangat gemas pada sikap Vanya.


Arsen mendudukkan Vanya disalah satu kursi. Arsen juga ikut duduk di sebelahnya. Arsen memesankan makanan untuk Vanya. Setelah pesanan Arsen datang, Vanya langsung memakan makanan itu dengan lahap. Arsen sangat senang melihat Vanya yang lahap makan.


Setelah selesai makan, Vanya memilih untuk melihat ke luar jendela. Dia sangat senang melihat pemandangan awan. Dan tanpa terasa, Vanya tertidur. Arsen menyadari Vanya tertidur. Dia pun menggendong Vanya dang membawanya ke sebuah ruangan. Arsen membawa Vanya ke kamar tidur yang ada di dalam pesawat zet itu.


Pesawat zet itu memang dirangcang khusus untuk Arsen. Dalam pesawat itu terdapat 4 buah kursi, 1 kamar tidur yang cukul untuk 2 orang dan ada juga mini bar yang menyediakan makanan.


Arsen menidurkan tubuh Vanya di atas tempat tidur. Setelah itu dia kembali ke tempat duduk semula. Sebenarnya Arsen juga mengantuk. Dia ingin ikut berbaring di sebelah Vana. Namun Arsen menghormati Vanya yang masih belum menjadi istrinya. Perlahan Arsen tertidur dan menyusul Vanya ke alam mimpi.


Di satu sisi.


Vano memasuki rumahnya dalam keadaan yang sudah acak-acakan. Julia, Bram, Helen dan Dion sudah menunggu Vano sedari tadi.


"Vano.." ujar semua orang.


"Vano,, kamu kenapa?" tanya Julia khawatir.


"Sayang,, kamu kenapa? Kok babak belur gini sih?" tanya Helen.


Vano tidak menjawab. Dia hanya diam membisu.


"Van,, jawab dong. Kamu kenapa?" desak Julia.


"Berakhir" ujar Vano.


"Berakhir? Apa yang berakhir sayang?" tanya Helen bingung.


"Van, jelasin. Apa yang kamu maksud?" titah Bram.


"Aku dan Vanya. Kami sudah berakhir. Hubungan kami sudah pupus" ucap Vano menatap kosong ke depan.


"Hubungan apa sih sayang? Kamu gak punya hubungan apa-apa sama Vanya. Apa coba yanb berakhir?" tanya Helen.


Julia, Bram dan Dion tidak mengerti apa yang Vano katakan. Jika mereka ingin mengetahui semuanya secara jelas, maka hanya Vanya yang bisa menjelaskannya.


Julia, Bram dan Dion segera pergi ke rumah Vanya. Mereka sangat bingung dengan ucapan Vano.


"Pah,, apa maksud Vano?" tanya Julia.


"Papah juga gak tau mah" jawab Bram.


"Apa ini ada hubungannya surat cerai itu?" tanya Dion yang sedang mengemudi.


Julia dan Bram saling tatap.


"Benar juga. Pasti ini ada hubungannya dengan surat itu" balas Bram.


"Apa benar Vanya dan Vano sudah menikah?" gumam Julia.


"Kalo itu benar, maka kita sudah bersalah mah. Anak yang dikandung Vanya adalah anak Vano, cucu pertama kita" ucap Bram.


"Hah,, benar pah. Jadi kemarin Vanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kemarin kita tidak percaya pada Vanya. Mama merasa bersalah pada Vanya pah.." panik Julia.


"Papah juga merasa bersalah mah"