VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Taruhan



"Vano.. Vano. Kau itu b0d0h sekali." cibir Zain.


Vano menatap Zain dengan kesal. Naru kali ini dia dikatai b0d0h oleh orang lain.


"Vanya sudah dan Arsen sudah tidak ada. Sekarang hanya ada Natali dan Zain. Era Vanya Arsen sudah berakhir. Kini era baru sudah dimulai." ucap Zain sambil tersenyum meremehkan.


Mimik wajah Zain langsung berubah. Tak ada senyum di wajahnya. Yang ada hanya tatapan tajam, dan wajah yang tak bersahabat.


"Sudah cukup basa basinya." Zain menopang badannya dengan tangan yang ditaruh di lengan kursi. "Mau apa kau ke sini?" tanya Zain dengan serius.


"Aku mencari istriku, Vanya. Aku akan menjemputnya pulang bersamaku." jawab Vano yang juga menatap Zain dengan tajam.


"Istrimu, Vanya? Bukankah sudah aku ingatkan, kau sudah berpisah dengan Vanya. Kini Vanya adalah istriku. Dia milikku. Perlu kau ingat, dia bukan Vanya. Dia adalah Natali. Istriku." tekan Zain.


"Natali? Istri?" gumam Vano menatap Zain tak percaya dan kaget.


"Ya. Dia adalah istriku."


"Sejak kapan Vanya berganti nama? Dia adalah Vanya. Bukan Natali."


"Sejak kau meninggalkannya. Sejak saat itu, dia menjadi milikku."


"Dia adalah milikku. Bukan milikmu. Dia sedang mengandung anakku. Buah cinta kami."


Bugh..


Zain memberikan bogeman metang diwajah Vano. Vano merasa linglung setelah mendapat bogeman dari Zain.


"Jaga mulutmu itu. Kalau tidak, aku akan mer0bek mulut bvsukmu itu. Natali, sedang mengandung anak dari Zainoza Arsenio Zivon." tegas Zain.


Vano terdiam. Tidak mungkin Natali mengandung anak Zain. Beberapa bulan lalu, Natali mengandung anak Vano. Disaat hamil tidak mungkin kan, hamil lagi?


"Tidak mungkin. Dulu Vanya bilang dia sedang mengandung anakku. Dan sekarang dia sedang mengandung anakmu? Mustahil sekali." sangkal Vano.


"Apa kau percaya pada ucapan Vanya?" Zain balik bertanya.


"Jadi maksudmu Vanya berbohong? Vanya tidak mungkin berbohong padaku."


"Terserah kau mau percaya atau tidak. yang jelas itulah yang terjadi."


"Bohong Kau Bohong. Tidak mungkin Vanya akan berbohong padaku."


Zain berjalan menuju kursi kebesarannya. Zain duduk dan menyilangkan kakinya sambil meminum anggur.


"Aku tau Vanya seperti apa. Tapi aku tidak tau kau seperti apa." ucap Vano. "Kau pasti menghasut Vanya agar dia membenciku dan pergi meninggalkanku."


"Teruslah berpikir sesuka hatimu." ucap Zain


"Mari kita bertaruh." ajak Vano.


"Apa yang akan kau pertaruhkan? Memang apa yang kau punya?"


"Hidupku. Aku akan menyerahkan hidupku padamu Jika aku kalah dalam taruhan ini. Dan kau harus mempertaruhkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu."


"Tidak ada yang paling berharga di hidupku selain istri dan calon anakku. kau ingin aku mempertaruhkan mereka?"


"Ya. Karena mereka yang akan menjadi taruhannya."


Zain menggenggam kuat gelas yang sedang dia pegang. Sorot matanya menajam bagaikan pedang yang siap menghunus lawannya kapan saja.


"Berani sekali kau membuat istri dan anakku menjadi taruhan." geram Zain.


"Aku tidak percaya Vanya adalah istrimu dan dia sedang mengandung anakmu."


"Rupanya kau sudah bosan hidup."


Zain bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Vano.


"Kenapa? Apa kau takut kalah?" tanya Vano tersenyum menantang.


"Kalah? Dalam kamusku tidak ada kata kalah. Seumur hidupku tidak ada kekalahan. Hanya ada kemenangan saja."


"Kalo begitu, akan kurebut kemenanganmu itu."


Zain menatap Vano dengan tajam.


Zain dan Vano beradu tatap. Tak ada yang menunjukkan ekspresi takut. Keduanya hanya menunjukkan ekspresi menantang.


Zain pulang dengan keadaan kesal. Dia merasa marah karena menantangnya untuk taruhan menggunakan istrinya, Natali dan calon anak mereka.


Zain menerima tantangan itu. entah apa yang akan dikatakan oleh pada Natali. Zain hanya khawatir Natali akan terhasut oleh ucapan Vano. Zain tidak mau kehilangan Natalie dan calon anak mereka.


3 hari kemudian, Zain sudah menyiapkan rencana agar Natali dan Vano bertemu. hari ini Natali dan Zain pergi keluar. Zain mengajak Natali pergi jalan-jalan di taman.


"Udaranya seger banget. Makasih ya Zain udah ajak aku jalan-jalan." ucap Natali.


"Iya sayang." balas Zain.


Natali sangat senang berada di taman. Dia berlari dan melompat seperti anak kecil yang baru menginjak bumi.


"Sayang, jangan lompat-lompat. Nanti jatuh." tegur Zain.


Baru saja Zain berucap, Nataki sudah hendak jatuh karna tersandung kakinya sendiri. Beruntung Zain segera menangkap Natali.


"Akh.." pekik Natali.


Hap.. Zain menangkap Natali.


"Aku bilang juga apa. Baru aja dibilangin."


"Maaf Zain. Aku salah." sesal Natali.


Zain membawa Natali duduk di kursi yang ada di taman itu. Zain mengecek kaki Natali. Dia takut kakinya akan kenapa-napa. Beruntung karna kaki Natali tidak terkuka sedikitpun. Zain duduk disebelah Natali. Natali memeluk Zain. Entah kenapa saat ini dia ingin berada dipelukan Zain. Zain membalas pelukan Natali.


"Zain aku haus." ucap Natali.


"Mau aku beliin minum?" tanya Zain.


"Boleh?" Natali tersenyum.


"Tentu saja."


"Aku mau minuman kayak gitu." Natali menunjukk minuman salah satu pengunjung taman."


"Ok. Kamu tunggu ya. Jangan ke mana-mana."


"Oke siap bos." Natali memberi hormat pada Zain. Zain tersenyum dengan tingkah Natali.


Zain bangkit dan dia hendak pergi. Sebelum pergi, Natali memanggil Zain.


"Zain." panggil Natali.


Zain berbalik dan menghadap Natali. Natali berjalan pada Zain. Natali berjinjit dan cup. Natali menempelkan bibirnya pada bibir Zain. Zain sedikit terkejut dengan tindakan Natali yang tiba-tiba. Tak mau meninggalkan kesempatan, Zain menekan tengkuk Natali dan bermain lidah bersama Natali. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan tautan mereka. Keduanya tersenyum.


Zain melihat leher jenjang Natali yang sedikit tertutup oleh kerah bajunya. Zain memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di leher Natali. Natali sangat terkejut. Apakah Zain ingin melakukan hal itu di sini? Sekarang?


Natali merasa geli karna Zain memainkan lidahnya di leher Natali. Natali sudah menebak pasti akan ada bekas dari Zain.


"Zain. Udah ih. Jangan di sini." ucap Natali.


Zain mengakhiri aktifitasnya. Dia melihat tanda yang dia buat. Zain tersenyum melihat maha karyanya.


"Kau hanya milikku. Tidak ada seorang pun yang berhak memilikimu selain aku." ucap Zain.


"Iya. Aku milikku. Sekarang, dan selamanya." balas Natali.


"Aku beli minuman dulu."


"Iya."


Zain pergi membeli minuman untuk Natali. Dan kini saatnya Vano bertemu dengan Natali.


Natali kembali duduk dan memandangi area taman. Ada seseorang yang datang menghampiri Natali. Natali melihat pada orang itu.


"Hai..!" sapanya.


Natali langsung berdiri. Dia membulatkan matanya sempurna.


"Vano.." lirih Natali.