
"Saya beli tiket penerbangan ke Indonesia yang paling awal" ucap Natali.
"Mohon maaf nona, untuk penerbangan ke Indonesia sudah penuh" jawab petugas bandara.
"Kalo begitu penerbangan malam"
"Maaf nona, itu juga sudah penuh"
"Tapi aku mau hari ini"
"Sekali lagi maaf nona, tapi semuanya sudah penuh"
"Kalo begitu keluarkan saja satu orang"
"Nona, kami tidak bisa melakukan itu. Jika kami melakukan itu, kami akan mendapat masalah"
"Maafkan aku. Aku sangat ingin pergi dari negara ini.." Natali sangat kecewa.
"Jika nona mau, nona bisa mengambil penerbangan besok pagi. Untuk penerbangan besok hanya tersisa 1 kursi lagi nona. Jika nona tidak mengambil kursi itu, maka akan diambil oleh orang lain"
"Baiklah kalo begitu, aku ambil penerbangan besok saja" putus Natali.
Dia tidak mau menyia-nyiakan satu kursi yang tersisa. Bisa-bisa dia masih di sini, lalu bertemu Zain dan mereka bertengkar lagi.
"Baik nona"
Setelah memesan tiket, Natali bingung harus ke mana. Waktu penerbangannya juga masih lama. Dan sekarang baru pukul 18.30. Natali memutuskan untuk menginap di hotel terdekat dari bandara itu. Sebenarnya bisa saja dia menunggu di bandara. Hanya saja jika dia harus semalaman sampai pagi di bandara, dia tidak akan kuat.
Natali pergi ke hotel. Dia memesan kamar yang biasa saja. Beruntung tabungannya masih bisa digunakan. Natali harus menghemat uang. Sekarang dia tidak akan hidup di bawah kemewahan. Dia harus pandai-pandai mengirit uang.
Natali masuk ke kamar yang sudah dipesannya. Natali langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia teringat pertengkarannya dengan Zain.
"Kenapa Zain tidak mencegahku? Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?" pikir Natali.
Natali menatap langit-langit hotel dengan tatapan sedih.
"Zain, aku sangat mencintaimu. Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Namun sekarang apa? Kau tega membiarkanku pergi. Bagaimana dengan nasib anak kita nanti? Apa dia bisa hidup tanpa ayahnya? Situasi ini sangat berbeda yang dulu aku alami saat bersama Vano"
Tanpa terasa air mata Natali jatuh begitu saja. Natali mengelus perutnya.
"Tenang saja sayang, mama pasti akan menjagamu dari segala mara bahaya. Jika papamu tidak mau menerimamu, mama tidak akan membiarkan dia bertemu denganmu"
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku Zain. Aku masih ingin hidup berasamamu. Sekarang, dan selamanya" gumam Natali.
Natali tertidur dengan posisi tubuh terlentang.
Pukul 20.30 Natali terbangun. Dia tidak menyangka dia tertidur cukup lama. Natali merasakan kalo perutnya sedang demo. Dia sangat lapar. Natali memesan makanan dari hotel itu. Tapi dia juga ingat kalo dia belum mandi. Akhirnya sambil menunggu makanan Natali datang, dia mandi terlebih dahulu.
Dia menonton tv sambil tiduran. Dan sampailah, tv yang menonton Natali tertidur.
Pagi harinya, Natali bangun. Natali segera mandi dan memesan makanan. Hari ini Natali dijadwalkan terbang pada pukul 08.35. Dia ingin segera pergi dari negara Italia. Hatinya sudah terluka karna pengusiran Zain.
Pukul 08.00 Natali sudah berada di bandara. Dia duduk di kursi tunggu. Lama menunggu, akhirnya pengumuman keberangkatan pesawat yang Natali tumpangi terdengar juga. Natali segera memasuki pesawat itu. Sangat berat bagi Natali meninggalkan negara ini.
Di sisi lain. Setelah kepergian Natali, Zain mengurung diri di kamar. Dia tidak makan sama sekali. Brkali-kali bi Lusy memanggil Zain. Namun Zain tak kunjung keluar juga. Sampai akhirnya bi Lusy menyerah.
Zain hanya duduk diam dalam kegelapan. Dia bingung bagaimana cara menyadarkan Natali kalo dia melakukan ini demi keselamatannya dan bayi yang sedang dikandungnya.
Sampai malam menjelang Zain masih di posisi yang sama. Zain ketiduran dengan posisi duduknya. Pukul 08.15 Zain terbangun oleh suara dering ponsel. Dengan malas Zain mengangkat panggilan itu. Zain berdecak kesal saat melihat nama orang yang memanggilnya. Rupanya Leo lah yang memanggilnya. Zain menjawab panggilan Leo.
"Hallo tuan" sapa Leo.
"Hm,, ada apa?" tanya Zain to the point.
"Apa benar nyonya Natali pergi rumah?" tanya Leo memastikan.
"Memangnya kenapa? Apa sekarang kau mulai mencampuri urusan rumah tanggaku?" tanya Zain dengan sinis.
"Bukan begitu tuan. Kemarin ada salah satu anak buah melihat nyonya Natali pergi ke bandara"
"Biarkan saja dia pergi. Dia tidak akan bisa pergi jauh. Dia tidak memiliki nyali besar pergi ke negara lain seorang diri"
"Tapi tuan.."
"Sudah lah,, aku sedang tidak mood bicara denganmu"
"Tuan, kau harus tau nyonya Natali akan pergi ke negara mana"
"Tidak perlu. Dia tidak akan pergi ke negara mana pun"
"Tidak tuan, kau salah"
"Apa maksudmu?"
"Nyonya Natali memesan tiket untuk penerbangan ke Indonesia"
"APA! INDONESIA?" pekik Zain.
"Iya tuan. Sebentar lagi pesawatnya akan segera lepas landas"
"Si4l!" umpat Zain.