VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Malper 2



Zain memandang lekat wajah Natali.


"Bolehkah aku meminta hakku?" tanya Zain.


Natali terharu karna Zain bertanya dulu sebelum melakukan keinginannya.


"Mulai sekarang, tubuhku adalah milikmu" balas Natali memberi lampu hijau pada Zain.


Zain tersenyum. Dia menarik tengkuk Natali dan menempelkan bibirnya dengan bibir Natali. Natali menyambut bibir Zain dengan terbuka. Zain mengangkat tubuh Natali dan membaringkannya di atas tempat tidur. Zain melepaskan tautannya.


Zain menundukkan kepalanya menatap wajah Natali yang berada dalam kungkungannya. Zain mendekatkan wajahnya ke telinga Natali.


"Ini akan menjadi malam yang indah untuk kita berdua" bisik Zain yang sukses membuat tubuh Natali meremang.


Netra mereka bertemu membuat seluruh aliran darah Natali terasa berkumpul di wajah. Zain terus menatapnya dengan intens. Natali merasa malu saat Zain terus menatapnya tiada henti.


Dengan cepat Zain menyambar bibir ranum Natali, membuat Natali tersentak kaget. Zain mel*nat, menyesap, dan menggulum bibir Natali dengan cukup cepat, membuat Natali kepayahan. Natali bisa merasakan nafas Zain berat terbakar oleh api gairah yang mulai membuncah.


Zain menurunkan kecupannya ke ceruk leher Natali. Merasakan ada sengatan listrik yang mengalir di aliran darahnya. Natali mengalihkan pandanganya saat perasaan aneh mulai muncul.


Bibir Zain makin turun ke bawah. Dan kini bibinya sudah nangkring di gundukan kembar milik Natali yang masih terbungkus oleh baju tidur.


Dan entah sudah sejak kapan, Natali sudah tidak memakai sehelai benang pun. Zain menatap Natali dengan tatapan takjub. Natali merasa malu karna Zain menatapnya.


Zain tersenyum dia pun membuka baju yang dia pakai. Dan terlihatlah roti sobek 8 lembar, serta otot-otot milik Zain yang lain. Natali kembali memalingkan wajahnya. Wajahnya memanas melihat Zain yang sudah bertelanjang dada.


Zain kembali mengukung Natali. Zain memberikan kecupan di kening, mata, hidung, pipi dan mulut. Zain menj*mah seluruh lekuk tubuh Natali. Tak ada yang terlewatkan. Dan kini, adalah saatnya mereka melakukan penyatuan.


Zain membuka ****** ********. Natali dapat melihat Zain junior sudah berdiri tegak dengan gagar perkasa pertanda dia sudah siap bertempur. Natali bisa melihat Zain junior dengan sangat jelas.


Zain menopang tubuhnya di atas lutut. Rasa gugup mulai melanda Natali. Zain memajukan wajahnya.


"Aku akan melakukannya dengan pelan. Percayalah padaku. Apa kau percaya padaku?"


"Ya. Aku percaya padamu"


Zain kembali mel*mat bibir Natali dengan lembut guna memberi rasa tenang. Tangan Zain tidak dia saja. Tangannya terus meraba bagian sensitif Natali. Tanpa sadar, Natali mengalungkan tangannya pada leher Zain.


"Kau sudah siap?" tanya Zain dengan mata yang penuh gairah.


Natali menganggukkan kepalanya.


Zain mulai memasukan juniornya ke dalam gua milik Natali. Meski Natali sudah tidak perawan, namun rasanya masih perawan. Sangat sempit.


Natali memejamkan matanya saat merasakan ada benda asing yang masuk ke dalam kawasannya. Natali berpegangan pada punggung Zain. Tangannga tidak sengaja mencakar punggung Zain.


Perih. Itulah yang Zain rasakan. Tapi dia tau Natali jauh lebih kesakitan daripada dia.


Setelah melalukan proses panjang, akhirnya Zain dapat bersatu dengan Natali. Mereka pun nelanjutkan percintaan mereka sepanjang malam.


Malam itu menjadi malam yang manis bagi Natali dan Zain. Meskipun sedang hamil, Zain bisa mengatur permainannya. Dia tau ada yang harus dijaga di dalam perut Natali.


Tapi rupanya Zain sudah bangun duluan. Kini dia sedang menatap Natali dengan perasaan yang tidak bisa diartikan. Sekarang Natali sudah resmi menjadi miliknya. Tidak akan ada yang bisa merebut Natali darinya.


Rasanya baru kemarin dia bekerja bersama Natali sebagai artis dan manager. Natali berbeda dengan manager lain. Jika manager lain takut pada artisnya, lainhalnya dengan Natali. Di sini malah artis yang takut pada managernya.


Natali selalu bisa melindungi Zain sebagai manager, membimbing Zain, menyiapkan segala kebutuhan. Rasanya jika tidak ada Natali, hidup Zain tidaklah berwarna.


"Aku sangat beruntung bisa memilikiku sayang. Aku tidak akan membiarkanmu sedih lagi" ucap Zain.


Jika Natali dan Zain sedang berbahagia, kira-kira bagaimana kondisi keluarga Vano ya? Apa mereka juga bahagia?


Mari kita intip keluarga Vano.


Vano baru saja pulang dari kantor. Dia merasa sangat lelah.


"Sayang.." panggil Vano pada Helen.


"Ya.." balas Helen turun menemui Vano.


"Ambilin aku minum dong. Aku capek nih" pinta Vano.


"Ih,, apaan sih, nyuruh-nyuru? Kamu gak liat nih, luku aku baru aja dicat. Kalo aku pergi bawain kamu minum, bisa-bisa rusak kuku aku" tolak Helen.


"Kamu lebih mentingin kuku kamu daripada aku? Hei,, aku ini suami kamu. Udah jadi kewajiban kamu sebagai istri layanin aku sebagai suami"


"Ah,, berisik. Di sini banyak pembantu ya, kamu tinggal nyuruh aja sama pembantu. Gak usah nyuruh aku. Mama juga ada. Kamu suruh aja mama" balas Helen.


"HELEN! Mama aku itu mertua kamu. Kamu jangan pernah ngomong gitu sama mama aku"


"Ya terus gimana? Aku harus ngomong gimana sama mama kamu? Ucapan aku gak ada yang salah. Kamunya aja yang emosian"


Helen pergi tanpa sepatah kata pun lagi.


"Helen! Dengerin aku"


"Helen.."


"Helen.."


Vano tidak bisa menghentikan Helen.


Vano merasa marah pada sikap Helen. Vano kira, jika mereka sudah menikah, Helen akan lebih sopan pada Julia. Namun ternyata salah. Helen malah makin menjadi. Ingin rasanya Vano menceraikan Helen saat itu juga.


"Dia sangat berbeda dengan Vanya" ujar Vano tanpa sadar.


Vano tersadar.


"Eh,, gue ngomong apa? Kenapa gue inget lagi sama dia? Harusnya gue gak inget lagi sama dia. Dia udah selingkuh dari gue. Dia hamil anak pria lain. Gue gak boleh inget dia lagi. Bagi gue, dia udah mati" ucap Vano.