
Natali dan Zain pulang ke mansion dengan bahagia. Dia sangat senang karna wanita yang dicintainya kini sedang mengandung anaknya. Zain berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Natali dengan kegenap jiwa raganya.
"Tuan,, nyonya,, kalian sudah pulang" sapa bi Lusi.
"Iya bi" balas Natali.
"Apa kata dokter? Bibi harap nyonya Natali tidak kenapa-napa" tanya bi Lusi.
"Aku tidak kenapa-napa bi. Natali sehat kok" jawab Natali.
"Huh,, syukurlah. Bibi senang karna nyonya tidak kenapa-napa" lega bi Lusi.
"Bibi mau dengar kabar yang bisa membuat bibi lebih senang?" tanya Zain.
"Ya. Tentu saja. Kabar apa itu tuan?"
"Sekarang,, Natali sedang mengandung anakku" ucap Zain dengan senang.
"Ah,, benarkah?" kaget bi Lusi.
"Iya bi.."
"Bibi ikut seneng ya tuan,, nyonya.." bi Lusi memeluk Natali.
"Makasih ya bi.."
"Kalo begitu, bibi akan masak makanan yang paling enak buat nyonya Natali"
"Iya bi.."
Bi Lusi pergi ke belakang meninggalkan Zain dan Natali.
"Kita ke kamar yuk. Kamu pasti capek" ajak Zain.
Natali menganggukkan kepalanya.
"Akh.." pekik Natali karna Zain tiba-tiba menggendongnya.
"Zain, apa yang kamu lakukan?" kaget Natali.
"Aku hanya menggendongmu" jawab Zain.
"Tidak perlu seperti ini. Cepat turunkan aku"
"Tidak mau.."
"Bagaimana kalo ada orang yang liat?"
"Biarkan saja. Aku tidak perduli"
Natali hanya bisa pasrah. Dia membiarkan Zain menggendong tubuhnya.
Setelah Natali dan Zain pergi ke kamar mereka, rupanya ada seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Siapa lagi kalo bukan Rose.
"Sial! Kenapa sih Natali harus hamil?" geram Rose.
Rose tidak suka pada kebahagiaan yang Natali dan Zain Rasakan.
"Aku susah susah payah masuk ke sini. Anak itu akan menghalangi rencanaku. Jika anak itu lahir, anakku akan tersingkirkan olehnya. Aku tidak boleh membiarkan anak itu lahir. Aku harus menyingkirkan anak itu. Bagaimana pun caranya" tekad Natali.
Natali dan Zain makan masakan bi Lusi. Natali makan dengan lahap. Sementara Zain sangat senang melihat Natali makan.
Jika kalian tanya di mana Rose, jawabannha dia ada di kamar. Hari ini Rose memilih untuk makan di kamarnya saja. Dia tidak ingin melihat kemesraan Natali dan Zain.
Selesai makan malam, Natali dan Zain pergi ke ruang baca. Sementara Rose dia duduk di ruang keluarga. Rose tak sungkan duduk di mana saja dan makan apa saja yang dia mau.
Natali turun ke bawah untuk mengambil air. Dia melihat Rose yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan. Tiba-tiba ada anak buah Zain yang memberinya roti bakar. Rose tampak sedikit terkejut karna dia tidak meminta dibelikan roti bakar. Namun Rose tak memperdulikan itu.
Natali menghampiri Rose dan duduk di sebelahnya. Rose kaget karna Natali tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau duduk di situ?" tanya Rose.
"Suka hati lah" jawab Natali.
"Huh.." Rose mendengus sebal mendengar jawaban Natali.
Rose mengambil potongan roti bakar dan siap memakannya. Saat dia hendak memakannya Natali menghentikannya.
"Jangan makan itu. Letakan kembali" titah Natali.
Rose melihat Natali dengan bingung.
"Roti itu mengandung racun" jawab Natali.
"Apa!" kaget Rose.
"Jika kau tidak percaya, bukalah isian roti itu. Ada serbuk putih di dalamnya"
Rose menuruti ucapan Natali. Dan benar saja. Ada serbuk putih di dalam isian roti itu. Dia pun segera meletakan kembali roti yang dipegangnya.
"Dari mana kau tau roti itu berisi racun?" tanya Rose.
"Aku melihat anak buah yang memberimu roti menaburkan kesuatu ke dalam roti iru. Entah apa yang dia taburkan. Sepertinya dia menaburkan racun tikus"
Rose menutup mulutnya karna tidak menyangka.
"Aku sudah bilang bukan. Kau belum tentu terlepas dari bahaya" ucap Natali.
Natali pun pergi ke atas sambil membawa botol air.
Setelah kepergian Natali, Rose segera masuk ke dalam kamarnya. Dia kaget karna nyawanya hampir melayang oleh sepotong roti.
"Zain! Kurang ajar. Dia mencoba m*mbunuhku dengan berbagai cara" decak Rose.
Ini bukan pertama kalinya Natali menyelamatkan Rose. Selama 1 bulan ini, Natali sudah beberapa kali menyelamatkan Rose. Mulai dari minyak yang tiba-tiba ada di lantai, lampu yang jatuh di dekat Rose, makanan basi, minuman beracun. Hingga yang baru saja terjadi, yaitu roti beracun. Entah apa lagi yang akan menimpa Rose.
Rose harus segera meminta perlindungan Natali. Jika dia tidak melakukan itu, mungkin dia akan tewas mengenaskan.
Keesokan harinya.
Natali sedang duduk di kurai yang berada di halaman belakang. Natali sedang mengagumi bunga yang tumbuh di halamannya.
"Hei.." panggil Rose.
Natali membalikkan kepalanya dan melihat Rose.
"Siapa yang kau panggil? Aku punya nama untuk dipanggil" balas Natali.
"Natali.." panggil Rose.
Natali tersenyum miring.
"Ada apa?" tanya Natali.
"Aku ingin bicara denganmu" jawab Rose.
"Duduklah" titah Natali.
Rose duduk di sebelah Natali.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Natali.
"Kenapa kau membantuku?" Rose balik bertanya.
"Maksudmu?" Natali tidak mengerti apa pertanyaan Rose.
"Kenapa kau membantuku? Kau menyelamatkanku setiap aku mendapat kesulitan. Kau bahkan menerimaku di rumah ini. Wanita lain mungkin sudah mengusir wanita yang hamil anak suaminya. Tapi kau tidak. Kau malah menerima anak yang sedang aku kandung ini" jelas Rose.
"Bukannya aku tidak mau mengusirmu dari rumah ini dan dari kehidupan Zain. Tapi aku merasakan apa yang kau rasakan" balas Natali.
"Maksdumu?"
"Beberapa hari sebelum kau masuk ke rumah ini, aku baru saja keguguran. Aku kehilangan bayi yang aku kandung. Saat itu aku sangat sedih. Coba kau pikir, wanita mana yang tak sakit hati saat mendengar suaminya mempunyai anak dari wanita lain? Itu pun setelah wanita itu keguguran"
Natali dan Rose terdiam.
"Tapi bukan itu yang kulihat darimu" ucap Natali. "Aku melihat Vanya dalam dirimu. Vanya yang meminta agar anaknya diakui dan diberi nama oleh ayahnya. Vanya yang terpuruk karna pria yang membuatnya hamil mencampakannya begitu saja. Aku tidak ingin nasib Vanya menimpa padamu. Jika benar anak yang kau kandung itu adalah anak Zain, maka Zain harus bertanggung jawab" tutur Natali.
Rose terdiam mendengar cerita Natali. Natali menghadap Rose dan memegang kedua tangannya.
"Aku tanya padamu. Apakah anak yang kau kandung benar anak Zain?" tanya Natali.
Rose menatap Natali. Tampak Natali menunggu jawaban darinya.
"Anak ini...."
Bersambung...
Terus dukung author
Jangan lupa tinggalkan jejak