VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Pelukan



Saat bel rumah berbunyi, Vano lengah. Vanya pun mengambil kesempatan itu untuk mendorong Vano dengan sekuat tenaga. Dan usahanya berhasil. Vanya lepas dari Vano. Vanya segera berlari ke arah pintu dan langsung membuka pintu.


Saat Vanya membuka pintu, rupanya orang yang datang adalah Arsen. Vanya sangat senang karna Arsen datang. Meskipun dia tidak tau apa tujuan Arsen datang kerumahnya malam-malam begini.


"Hai Vanya.." sapa Arsen tersenyum


"Arsen" ujar Vanya.


Vanya pun tersenyum dan langsung memeluk Arsen. Arsen bingung kenapa Vanya tiba-tiba memeluknya.


"Makasih,, makasih karna lo udah dateng ke sini" gumam Vanya.


Arsen bingung dengan apa yang dikatakan oleh Vanya. Dia tidak mengerti apa maksud Vanya.


Tiba-tiba Vano keluar menghampiri Vanya. Vano terkejut saat melihat Vanya dan Arsen sedang berpelukan. Vano mengira Arsen lah yang mem*ksa Vanya untuk memeluknya.


Vano langsung menarik tubuh Vanya agar menjauh dari Arsen. Vanya dan Arsen sama-sama terkejut karna ulah Vano.


"Ngapain lo ke sini?" sewot Vano.


"Gue ke sini mau ketemu Vanya. Emang kenapa? Gak boleh?"


"Gak boleh. Lo gak boleh nemuin Vanya. Mulai sekarang, Vanya berhenti dari kerjaannya. Dia bukan lagi manager lo. Mendingan lo pergi sekarang"


"Van, apaan sih lo" protes Vanya.


"Heh,, yang kerja sama gue itu Vanya, bukan elo. Lo gak bisa ngatur-ngatur Vanya"


"Gue bisa ngatur dia, karna dia istri gue" ucap Vano tanpa berpikir.


Plak,,


Vanya langsung men*mpar Vano.


"Pergi lo" usir Vanya pada Vano.


"Gak gue gak mau pergi. Dia aja yang pergi. Gue ini suami lo. Lo gak bisa ngusir suami lo" tolak Vano.


"Gue bilang pergi ya pergi" tekan Vano.


"Gue bilang, enggak ya enggak. Gue suami lo. Dan lo, istri gue" tegas Vano.


Arsen mengepalkan tangannya kuat. Dia merasa marah saat Vano mengaku sebagai suami Vanya.


Arsen melayangkan tangannya pada Vano. Namun Vanya segera menahannya dengan memegang tangan Arsen.


"Arsen.." tahan Vanya.


Arsen menatap Vano dengan penuh Amarah. Vanya melepaskan tangan dari Arsen.


Arsen pun mencengkram kerah baju Vano dengan kuat.


"Denger ya, ko gak usah ngaku jadi suaminya Vanya. Lo itu gak pantes jadi suaminya. Perlu lo ketahui, gue itu pacarnya Vanya. Vanya adalah calon istri gue" papar Arsen.


"Mimpi lo. Gue udah jadi suami Vanya. Pacar bukan apa-apa. Kedudukan suami lebih tinggi" balas Vano.


Vanya sangat tertekan dengan perdebatan Arsen dan Vanya. Dia sangat kaget saat Arsen mengatakan kalo dia adalah pacarnya. Ditambah Vano yang mengungkapkan statusnya pada Arsen. Padahal Vano sendiri yang melarang mengatakan yang sebenarnya, tapi dia juga yang melanggarnya.


"Oh,, lo nantang gue?" tanya Arsen.


"Ya, gue nantang lo" balas Vano.


Arsen menganggukkan kepalanya dan menatap Vano dengan dingin. Kemudian Arsen menatap Vanya yang juga sedang menatapnya. Kemudian Arsen meraih tengkuk Vanya dan langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Vanya. Vanya terkejut akan hal itu. Vano juga sama terkejut. Dia marah saat Arsen menc*um Vanya di hadapannya.


Vanya tidak melawan maupun membalas. Vanya terlalu terkejut dengan semuanya. Tapi dia berpikir, mungkin dengan cara ini, Vano akan pergi.


Dan benar saja, Vano langsung pergi setelah menyaksikan hal itu. Vano pergi dengan amarah yang memuncak.


Setelah Vano pergi, Arsen melepaskan bibirnya. Akhirnya Vano pergi juga.


"Sen lo.."


"Maafin gue Van. Gak ada pilihan lain. Gue gak mau dia ada di sini lagi" ucap Arsen.


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Lo bisa jelasin ke gue soal omongan Vano tadi? Dia bilang, dia suami lo. Dan lo adalah istrinya. Itu gak benerkan Van?" tanya Arsen meminta penjelasan.


Vanya tidak menjawab. Arsen mengartikan diamnya Vanya adalah jawaban 'iya'.


"Gue bisa jelasin Sen" Vanya memegang tangan Arsen, namun ditepis oleh Arsen.


"Ya udah, cepet jelasin"


"Iya,, gue jelasin. Tapi gak di sini. Kita masuk dulu yu"


Vanya dan Arsen sudah berada di dalam rumah.


"Jadi ginu Sen. Beberapa minggu lalu, gue dan Vano nikah"


"Jadi bener lo udah nikah sama Vano!" potong Arsen.


"Dengerin dulu Sen,, gue belum selesai"


Arsen diam dan Vanya mulai menceritakan penyebab dia harus menikah dengan Vano. Vanya juga menceritakan Vano yang sudah mempunyai pacar dan dia sering bersikap egois pada Vanya.


Arsen merasa marah mendengar cerita dari Vanya. Ingin rasanya Arsen menghabisi Vano saat itu juga.


"Kenapa lo harus nikah sama dia?" protes Arsen.


"Ya,, karna gue takut gue hamil. Gue gak mau nanti anak gue gak punya nama ayahnya. Gue gak mau itu Sen"


Arsen memahami ketakutan Vanya. Dia hanya bisa mend*sah kasar saja.


"Gue gak mau kalo anak gue lahir tanpa ayah. Gue gak mau itu,, hiks,, hiks.." Vanya mulai terisak.


Arsen tak kuasa melihat Vanya menangis.


"Besok lo ajuin cerai"


"Tapi sen,, nanti kalo gue.."


"Kalo lo hamil, gue yang akan tanggung jawab. Gue yang akan jadi ayah dari anak lo. Nama ayah anak lo gak akan nama Vano, tapi nama Arsen. Nama gue"


Vanya tertegun mendengar ucapan Arsen. Dengan mudahnya Arsen mengatakan hal itu. Seakan Arsen mencintainya.


"Sen,, lo gak bisa nanggung kesalah orang lain"


"Demi lo, gue rela Van. Apapun bakalan gue lakuin"


"Gak, lo gue gak bisa gitu. Lo tenang aja Sen, pernikahan ini cuma 3 bulan. Setelah 3 bulan, kalo gue gak hamil, gue bakalan cerai sama Vano"


"Tapi Van.."


"Pliss,, hargai keputusan gue"


Lagi-lagi Arsen tidak bisa berucap. Vanya membuatnya terus mengalah.


"Makasih,, makasih karna lo udah dateng ke sini" gumam Vanya.


Tiba-tiba Arsen menyadari sesuatu dari perkataan Vanya saat dia baru datang ke rumahnya. Dia juga menyadari kalo tadi ekspresi Vanya terlihat sangat ketakutan.


"Van" ujar Arsen.


Vanya menolehkan kepalanya.


"Jangan bilang, tadi saat gue ke sini, Vano mau ngelakuin sesuatu sama lo" tebak Arsen.


Vanya menundukkan kepalanya dan mulai menangis.


"Hah..." Arsen tidak menyangka, rupanya tebakannya benar.


"Tapi lo gak diapa-apain kan, sama Vano?" tanya Arsen khawatir.


"Gak. Beruntung lo cepet datang. Jadi dia gak berhasil lakuin itu" jawab Vanya.


Arsen menghembuskan nafas lega.


Namun Vanya kembali menangis mengingat apa yang akan dilakukan Vano padanya. Jika Arsen tidak datang, mungkin kini dia sudah mengalami trauma berat seperti malam itu.


Arsen tidak tega melihat Vanya menangis, dia segera meraih tubuh Vanya dan memeluknya dengan lembut. Arsen menenggelamkan Vanya dalam pelukannya guna memberi rasa tenang pada Vanya.


"Menangislah Van. Menangis bisa buat lo lega" ucap Arsen mengelus punggung Vanya.


Mendengar ucapan Arsen, Vanya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Arsen. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya yang selama ini dia pendam sendiri.