VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Rayuan Natali



"Kamu lapar gak?" tanya Zain.


"Laper banget.." balas Natali.


"Ya udah. Kamu mandi, ganti baju, setelah itu turun. Kita akan sarapan bersama"


"Ok siap"


Zain pergi dari kamar Natali. Setelah kepergian Zain, Natali meneteskan air matanya. Sebenarnya sangat berat baginya meninggalkan masa lalu. Tapi dia tidak mau terus terkurung dalam masa lalu. Dia ingin hidup normal dan bahagia seperti harapan semua orang.


"Vano, tante Julia, om Bram, Dion. Selamat tinggal. Vanya yang dulu sudah mati. Kini yang ada hanya Natali" gumam Natali.


Natali masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Setelah selesai, Vanya turun dan siap untuk sarapan. Kali ini Vanya turun menggunakan tangga. Dia ingin saat dia berjalan di tangga, sembari melihat arsitektur pada mansion.


Saat itu, Zain baru saja masuk ke dalam dan dia melihat Natali yang sedang berjalan di tangga sambil menghadap ke atas.


"Natali, kenapa kamu turun pake tangga? Kenapa gak pake lift aja?" tanya Zain.


"Lihatlah,, arsitekturnya sangat bagus" balas Natali yang masih melihat ke atas.


"Jalan liat ke bawah. Jangan ke atas" tegur Zain.


"Iya" balas Natali.


"Natali,, jalan liat ke bawah jangan ke atas" tegur Zain lagi karna Natali masih saja melihat ke atas.


"Ih,, kamu itu lo,, rewel banget sih.." keluh Natali.


Tiba-tiba kaki Natali terpeleset dan dia hendak jatuh.


"Akh.." pekik Natali.


"Natali.." ujar Zain.


Zain segera berlari ke arah Natali dan..


Hap,,


Zain berhasil menyelamatkan Natali. Natali membuka matanya karna dia merasa selamat.


"Zain.." gumam Natali.


Zain menggendong Natali ke arah sofa. Kemudian dia mendudukkan Natali.


"Kamu ini gimana sih! Baru aku bilangin, jalan tuh liat ke bawah. Bukan ke atas. Ini malah terus ke atas. Gimana kalo nanti jatuh? Untung aku cepat. Inget Nat, kamu ini lagi hamil. Jangan ceroboh gitu. Inget kandungan kamu" Zain memarahi Natali.


Ini pertama kalinya Natali dimarahi oleh Zain seperti ini. Natali hanya menundukkan kepalanya ke bawah.


"Hiks,, hiks,, hiks.." terdengar isak tangis dari Natali.


"Nat,, kamu nangis?" tanya Zain.


Natali menggelengkan kepalanya. Zain mengangkat wajah Natali. Dan benar saja, Natali menangis.


"Kamu kok nangis sih?" tanya Zain panik.


"Kamu marahin aku kayak gitu. Aku kan cuma mau liat arsitekturnya doang" sela Natali di saat nangisnya.


Zain serba salah. Dia tidak berniat untuk memarahi Natali. Dia hanya ingin mengingatkan saja. Namun dia malah yang jadi merasa bersalah.


"Jangan menangis,, aku tidak bermaksud memarahimu" Zain menghapus air mata Natali.


"Kau sudah memarahiku" rengek Natali.


"Tidak,, aku tidak memarahimu. Maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan itu lag. Maafkan aku ya" bujuk Zain.


Natali merajuk.


"Nat,, kamu kan sedang mengandung. Kamu mau terjadi sesuatu pada calon bayi kita?" Zain masih berusaha membujuk Natali.


Mendengar kata 'bayi kita' Natali menatap Zain.


"Ya. Bayi kita. Bayimu sudah menjadu tanggung jawabku. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon anakku" balas Zain.


Natali tersenyum. Dia tak menyangka Zain akan mengatakan hal seromantis itu.


"Hem,, aku yang salah. Maafkan aku. Aku tidak berhati-hati" sesal Natali.


"Tidak apa. Aku akan selalu menjagamu dan bayi kita sampai akhir hidupku"


Tiba-tiba Natali memeluk Zain. Entah kenapa dia selalu ingin dipeluk oleh Zain. Natali akan merasa nyaman dan aman saat dalam pelukan Zain.


1 minggu kemudian.


Natali mulai membiasakan diri dengan kehidupan barunya di Italia. Dia mulai menggunakan bahasa Inggris dalam berbicara. Tapi terkadang Natali juga berbahasa Indonesia.


Selama 1 minggu ini, Natali tidak pernah melihat keluarga Zain tinggal di mansion ini. Natali kita Zain memiki banyak keluarga dan dia hidup bahagia bersama keluarganya. Dia ingin sekali bertanya di mana anggota keluarga Zain yang lain. Tapi Natali merasa sedikit takut jika harus bertatanya tentang keluarga pada Zain.


Rasa penasaran Natali sangat besar. Dia tidak mampu memendam penasarannya lagi. Kali ini, dia akan memberanikan diri untuk bertanya pada Zain.


Saat ini, Natali dan Zain sedang berada di ruang baca sekaligus ruang kerja Zain. Zain tampak sedang pokus pada laptopnya. Entah apa yang dia kerjakan. Dia terlihat sangat sibuk.


"Dia sedang apa sih? Dari tadi liat laptop terus" keluh Natali dalam hati.


Natali membuka mulutnya untuk berbicara. Namun dia mengurungkan niatnya. Dia tak tega melihat Zain yang sedang pokus. Akhinya Natali menundukkan kepalanya. Dia memilih untuk membaca buku yang dia pegang.


"Ada apa?" tanya Zain yang tiba-tiba bersuara.


Natali hanya menatap Zain.


"Ada apa? Kamu mau bicara apa?" ulang Zain balik menatap Natali.


Natali mengumpulkan keberaniannya. Dia berdiri dan berjalan menuju Zain. Dia akan bertanya dengan lembut. Tapi juga romantis. Dia akan membujuk Zain agar mau bercerita tentang keluarganya.


"Zain.." ujar Natali tersenyum.


Zain heran kenapa Natali tiba-tiba tersenyum.


"Kenapa? Apa yang kamu inginkan?" tanya Zain paham akan senyuman Natali.


Natali duduk di pangkuan Zain. Dia mengalungkan tangannya pada leher Zain.


"Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku" jawab Natali.


"Emang apa yang mau kamu tanyakan?"


"Tapi kamu janji jangan marah ya"


"Iya"


"Em,, aku kan sudah 1 minggu di sini. Tapi aku tidak pernah melihat keluargamu. Ke mana keluargamu?"


Zain terdiam. Seketika raut wajahnya berubah. Natali yang melihat itu jadi panik. Dia takut Zain marah. Natali pernah melihat kemarahan Zain yang sesungguhnya saat dia memarahi anak buahnya. Natali bangkit dari duduknya.


"Em,, maafkan aku. Seharusnya aku tidak bertanya mengenai itu" sesal Natali.


"Kau ingin mengetahui ke mana keluargaku?" tanya Zain.


"Tidak lagi. Itu tadi aku hanya asal bicara saja. Jangan dipikirkan. Anggap saja aku tidak pernah menanyakan hal itu"


Zain menatap Natali dengan dingin. Tatapan Zain membuat nyali Natali menciut. Setelah tinggal di Italia, nyalinya menjadi menciut saat berhadapan Zain. Kini jika dia berkomunikasi dengan Zain, tidak seperti dulu. Sekarang lebih dekat, sedikit candaan, penuh perhatian dan lekat dengan keromantisan.


"Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan kembali ke kamarku. Ini sudah malam. Aku akan tidur" ucap Natali.


Natali membalikkan tubuhnya bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti oleh suara tawa Zain yang menggelegar.


"Hahahah..." Zain tertawa dengan keras.


Natali membalikkan tubuhnya dan menatap Zain dengan bingung. Dia heran melihat Zain tertawa seperti itu. Tawa Zain membuat bulu kuduk merinding.