
Saat membentuk baso, Natali dibantu oleh bi Lusy. Membentuk baso itu memakan cukup banyak waktu. Dan Natali akan cepat bosan jika harus membentuk baso sendirian. Rose juga membantu Natali. Dia penasaran dengan masakan yang dibuat Natali. Baru pertama kali dia melihat bakso ala Indonesia. Karna di Italia juga ada bakso namun bahan yang digunakan sedikit berbeda. Juga cara memasaknya juga berbeda.
Singkat cerita, bertepatan dengan waktu makan siang, masakan Natali dan Rose sudah selesai. Natali meminta Zain untuk pulang dan mencicipi masakan Natali. Natali juga mengundak Harry makan siang. Karna kejadian waktu itu, Harry tidak jadi makan malam di rumah Natali. Dan sekarang, Natali ingin menebus janjinya dulu.
Ada Natali, Zain, Harry dan Rose di meja makan. Semua orang sudah mendapatkan semangkuk bakso buatan Natali.
"Nat, ini beneran buatan kamu?" tanya Harry.
"Iya lah,, masa buatan orang lain" jawab Natali.
"Terlihat sangat enak" ujar Zain.
"Ini pasti enak ni,, wah. Nat, kalo nanti aku mau nambah boleh?" tanya Harry.
"Itu aja belum habis, udah mau nambah" sambar Zain.
"Hey,, kan izin dulu dari sekarang. Supanya nanti gak izin lagi kalo mau nambah" balas Harry.
"Sudah,, kita makan saja. Jangan dulu berdebat. Nanti debatnya kali udah kenyang. Supaya bertenaga" ucap Natali sambil tersenyum.
"Aduh,, cantik banget sih kamu Natali" puji Harry.
"Heh, dia istriku" ucap Zain.
"Aku tau. Siapa yang bilang dia istriku?" balas Harry.
Zain, Harry dan Rose orang mulai makan. Natali menunggu respon mereka.
"Em,, ini sangat enak" puji Zain.
"Benarkah?" tanya Natali antusias.
"Iya. Ini mengingatkanku saat masih berada di Indonesia. Kita sering mukbang bakso. Kau ingat?"
"Iya aku ingat"
Natali dan Zain menatap Harry yang tidak memberikan pujian. Tak disangka, Harry malah sudah menambah porsi baksonya. Natali dan Zain terkejut pada Harry. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
Natali beralih menatap Rose yang sedang memakan bakso denga tenang. Jika bersama dengan Zain, Rose tidak banyak bicara. Dia memilih untuk diam. Dia tidak mau kejadian itu terulang kembali.
"Rose, bagaimana rasa baksonya?" tanya Natali.
Rose menatap Natali.
"Enak. Sangat enak" jawab Rose.
"Ini juga berkat bantuanmu" ujar Natali.
Seketika Zain menatap Natali dengan heran. Rose juga menatap Natali. Dia juga menatap Zain secara bergantian.
Natali tau, Zain pasti akan tidak suka jika Natali terlalu dekat dengan Rose.
"Dan juga bi Lusy. Dia membantuku membuat bakso" lanjut Natali dengan senyun canggung.
Tanpa berucap, Zain kembali melanjutkan aktivitas makannya. Natali juga ikut makan. Memasak bakso cukup banyak menguras tenaga.
Semua orang sudah selesai makan.
"Hah,, aku sangat kenyang. Masakanmu sangat enak Natali. Aku akan sering ke sini untuk makan masakanmu" ujar Harry.
"Eh,, kenapa?"
"Kau menghabiskan banyak makanan di rumahku"
"Aku tidak meminta izin padamu. Aku meminta izin pada kakak iparku. Bolehkan kakak ipar?"
"Kau boleh sering ke sini" balas Natali tersenyum.
"Ish.." Zain mendengus sebal.
"Eh,, masih ada hidangan lain" ujar Natali.
"Benarkah? Kakak ipar, cepat keluarkan. Perutku masih bisa menampung makanan" balas Harry antusias.
Bi Lusy mengeluarkan desert dari lemari pendingin. Kini di hadapan Natali, Zain, Harry dan Rose, sudah ada desert Italia.
"Wah,, Panna Cotta. Ini makanan kesukaanku. Huwah,, terlihat sangat enak" ujar Harry.
"Silahkan di coba" ucap Natali.
Zain, Harry, Natali dan Rose mulai memakan makanan itu. Diam-diam Rose melihat ekspresi Zain. Dia ingin tau bagaimana pendapat Zain.
"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Natali.
Natali tau kalo Rose pasti ingin mendengar tanggapan semua orang. Dia mewakili Rose bertanya.
"Ini enak. Sangat enak" puji Harry.
"Zain, bagaimana?" tanya Natali.
Rose sangat penasaran jawaban Zain.
"Em,, enak" jawab Zain menganggukkan kepalanya.
Rose teseyum tipis. Dia senang Zain memuji masakan buatannya.
"Apa ini buatanmu? Kau sudah pintar membuat makanan Italia" tanya Zain.
"Tidak. Ini buatan Rose. Aku mana bisa membuat makanan ini"
"Cuih.." Zain meludahkan makanan dari dalam mulutnya.
Semua orang terdiam dan berhenti makan. Mereka menatap Zain.
"Rasanya seperti makanan basi. Sangat tidak enak" ucap Zain dengan sinisnya. Setelah mengatakan itu, Zain pergi ke atas tanpa mengatakan apa pun lagi.
Rose sangat terpukul dengan prilaku dan ucapan Zain. Dia merasa masakannya tidak dihargai sama sekali.
Natali syok atas apa yang Zain lakukan. Dia segera menatap Rose. Rose terlihat murung.
"Em,, pasti Zain sedang banyak masalah di perusahaan. Dia capek" alibi Natali. "Rose, jangan pikirkan ucapan Zain. Dia hanya sedang lelah saja. Masakanmu sangat enak. Iya kak, Harry?" Natali mencoba menghibur Rose.
"Eh,, iya. Iya,, ini sangat enak" balas Harry.
Rose tau Natali berusaha menghiburnya. Tapi kenyataannya Zain sudah mengh1nanya. Rasanya sangat sakit mendapat perlakuan seperti itu dari Zain.
Rose tau Zain tidak mencintainya. Tapi setidaknya Zain harus mencintai anak yang dia kandung. Bagaimana jika calon anaknya mendengar h1naan dari ayahnya untuk ibunya?