
Vanya tertidur di kuburan. Entah sudah berapa lama hujan turun, entah sudah berapa lama Vanya di sana. Sudah berjam-jam Vanya di sana. Namun dia masih belum bangun.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Orang itu berniat membangunkan Vanya.
"Neng,, bangun neng.." ucap seorang pria, mungkin dia penjaga kuburan.
"Eum.." Vanya mulai terbangun.
"Neng udah berapa lama di sini?" tanya orang itu.
"Em,, kok udah malem ya" gumam Vanya.
Vanya terbangun saat hujan sudah berhenti.
"Neng ketiduran di sini"
"Iya, saya ketiduran"
"Neng, sebaiknya neng sekarang pulang. Lagian ini udah malem. Gak baik anak gadis sendirian dikuburan malem-malem. Tar dikira mbak kun sama orang lain" nasihat orang itu.
"Iya pak" setuju Vanya. Vanya menatap kuburan ayah dan ibunya. "Mah,, pah,, Vanya pulang dulu ya. Nanti Vanya ke sini lagi"
Vanya bangkit dari duduknya dan berdiri. Dia merasakan pusing di kepalanya. Mungkin ini efek dari kehujanan tadi.
"Neng bisa pulang sendiri?"
"Iya pak, saya bisa. Saya bawa kendaraan kok" jawab Vanya.
Vanya pergi meninggalkan area kuburan. Dia pergi menuju rumahnya. Tak ada tempat lain yang ingin dia tuju.
Sesampai di rumah, Vanya segera mengganti bajunya. Dia tidak memiliki semangat untuk makan, meskipun dia belum makan dari tadi. Tapi dia sadar, ada janin yang harus dia jaga. Vanya memutuskan untuk memakan 1 buah apel. Sambil memakan apel, Vanya sambil menangis.
Vanya memegang perutnya yang masih rata.
"Sayang, meskipun papa kamu gak mau ngakuin kehadiran kamu, tapi mama akan selalu jaga kamu. Hiks,, hiks.. Mama akan jadi ibu dan ayah buat kamu. Mama gak akan biarin kamu kekurangan kasih sayang. Kamu yang kuat ya. Kita sama-sama berjuang. Mama kan kuat demi kamu, dan kamu juga harus kuat demi mama. Hiks,, hiks.." Vanya kembali menangis.
Setelah apel itu habis, Vanya kembali ke kamarnya dan dia memutuskan untuk tidur. Dengan tidur, dia akan melupakan segalanya.
Di sisi lain.
2 orang pria, yang 1 anak buah yang satu lagi adalah bos sedang melakukan panggilan telpon.
"Hallo bos" sapa anak buah.
"Ya, ada apa?" tanya bos.
"Maaf bos, nona Vanya terkena masalah"
"Masalah apa?"
"Saat dia sedang menari di acara pernikahan Vano, dia tiba-tiba jatuh pingsan"
"Apa! Pingsan? Kenapa dia bisa pingsan?"
"Saat dia dibawa ke kamar, saya dengan cepat menempelkan alat penyadap di baju tuan Dion"
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Mereka mengatakan kalo nona Vanya hamil. Dan itu anak tuan Vano. Namun tuan Vano menyangkalnya dan menyebut anak yang dikandung nona Vanya itu anak haram. Hasil dari hubungan gelapnya bersama seorang pria. Nona Vanya marah dan dia pun men*mpar tuan Vano kemudian dia pergi"
"Dia pergi ke mana?"
"Awalnya saya kehilangan jejaknya. Tapi saya pun berhasil menemukannya. Nona Vanya pergi ke kuburan"
"Kuburan?"
"Ya, bos. Sepertinya kuburan kedua orang tuanya"
"Oh,, lanjutkan"
"Saya hendak membangunkannya karna dia tertidur. Tapi ada orang lain yang membangunkannya. Sepertinya penjaga kuburan itu. Non Vanya pun pulang ke rumah. Saya bertanya pada penjaga kuburan itu. Dari kapan nona Vanya ada di situ. Dia menjawab dari sekitar pukul 11.00 siang. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Saya menduga nona Vanya tertidur sambil kehujanan"
"Maaf bos. Saat berkendara nona Vanya sangat cepat. Jadi saya kehilangan jejaknya"
"Sekarang dia ada di rumahnya?"
"Iya bos. Saya sedang mengawasi rumahnya"
"Bagus. Terus awasi"
"Siap"
Panggilan pun berakhir.
Apa kalian tau siapa sosok dari bos itu? Ya,, kalian benar. Yang dipanggil bos adalah Arsen.
Arsen sangat khawatir mendengar keadaan Vanya. Vanya pasti terluka saat dia tau dia hamil dan Vano tidak mau mengakui itu adalah anaknya. Arsen juga merasa marah pada Vano.
"Kurang ajar. Untuk yang kesekian kalianya kau sudah melukai Vanya. Lihat saja, aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan pada Vanya. Kau akan menerima akibatnya" gumam Arsen menggeram.
Arsen mengatur keberangkatannya menuju Indonesia saat itu juga. Dia tidak mau membiarkan Vanya terus merasakan luka yang diberikan Vano.
Keesokan harinya.
Pukul. 08.00 Vanya belum juga bangun. Dia terlalu lelah untuk bangun. Tapi dia terbangun saat merasakan ada sebuah tangan yang menempel di atas keningnya.
Vanya membuka matanya dengan berat. Dia bisa melihat Arsen yang sedang mengelus kepalanya sambil tersenyum.
"Arsen.." gumam Vanya yang terdengar lemah.
Melihat Arsen, Vanya merasa bahagia. Selama ini Arsen yang selalu menemaninya saat dia sedang merasa sedih dan hancur.
"Lo di sini?" tanya Vanya.
"Ya. Gue di sini. Gue gak akan pernah tinggalin lo lagi" balas Arsen.
Mendengar balasan Arsen, seketika Vanya bangun dan langsung memeluk Arsen dengan erat. Vanya menumpahkan air matanya dalam pelukan Arsen.
Arsen membiarkan Vanya menangis dipelukannya. Dia berusaha menengangkan Vanya dengan mengusap lembut punggung Vanya.
1 jam sudah Vanya menangis. Vanya melepaskan pelukannya. Baju Arsen menjadi basah karna air mata Vanya.
"Maaf, baju lo jadi basah" ucap Vanya.
"Gak papa. Lo udah tenang?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Sen,, Vano itu cowok br*ngsek. Dia gak mau tanggung jawab Sen. Gue hamil anaknya Vano"
"Sut,, udah. Jangan di bahas. Gue udah tau semuanya"
"Lo udah tau? Apa berita ini beredar luas?" panik Vanya.
"Enggak. Gak ada yang tau lo hamil anaknya Vano. Lo tenang aja. Gue tau dari orang kepercayaan gue"
Vanya sedikit lega mendengar hal itu.
"Sekarang lo mau apa? Lo mau gimana? Lo mau bertahan sama Vano?"
"Gak. Gue gak mau lagi sama Vano. Gue udan muak sama sikap Vano. Gue mau mau cerai dari dia. Gue bakalan besarin anak gue sendiri. Gue gak butuh bantuan cowok b*jingan itu"
Arsen tersenyum.
"Gue akan bantu lo supaya bisa cepet cerai dari Vano"
"Makasih ya Sen" ucap Vanya tulus.
"Iya. Apapun akan gue lakuin demi lo" balas Arsen. "Dan juga, kita yang akan bersain bayi lo. Kita akan jaga dia sama-sama" ucap Arsen dengan tulus pula.
Vanya tersenyum mendengar ucapan Arsen. Dia sangat beruntung memiliki Arsen dihidupnya. Arsen orang yang sangat baik dan pengertian. Jika ada wanita yang menolak Arsen, maka dia adalah wanita bodoh. Dia sudah menyia-nyiakan pangeran yang sesungguhnya di dunia nyata.