
Vano berusaha membujuk Julia dan Bram agar tidak mengharapkan Natali dan calon anaknya.
"Mah,, pah,, dengerin aku. Mulai sekarang, kalian jangan mengharapkan Vanya dan anaknya. Kita tidak punya hubungan lagi dengannya. Hubungan kita sudah putus saat Vanya memilih pergi dengan Arsen. Bahkan dia tidak berpamitan pada kita" hasut Vano.
Julia dan Bram menganggukkan kepala mereka. Merela lupa pada janji mereka pada mendiang orang tua Natali. Saat mereka tidak percaya Natali hamil anak Vano, saat itu pula mereka sudah mengingkari janji yang mereka buat.
"Kalian ingin cucu? Aku dan Helen akan memberikan kalian cucu. Tapi aku mohon. Jangan memikirkan anak Vanya lagi" lanjut Vano.
Vano akhirnya berhasil membuat Julia dan Bram berhenti memikirkan Natali.
Kita tinggalkan Vano dan keluarganya. Mari kita beralih pada Natali.
Keesokan harinya.
Natali dan Zain sedang berada disebuah butik terkenal di Italia. Mereka sedang melakukan fiting baju pernikahan. Natali dan Zain menjadi tamu kehormatan sekaligus istimewa di butik itu.
Kini Natali sedang berada di ruangan yang penuh dengan gaun-gaun indah. Natali bingung harus memilih gaun yang mana. Baginya semua gaun bagus.
"Kau suka yang mana?" tanya Natali.
"Kenapa kau yang bertanya padaku? Harusnya aku yang bertanya padamu" Zain menjawab pertanyaan Natali dengan pertanyaan lagi.
"Karna aku bingung" jawab Natali.
"Pilih saja yang menurutmu bagus"
"Tapi semuanya bagus"
"Baiklah kalo begitu ambil saja semuanya" usul Zain.
"Apa! Serius?"
"Iya lah. Masa aku bohong"
"Jangan,, nanti orang lain gak kebagian lagi" tolak Natali.
"Kalo begitu kau pilih yang mana yang mau kau pakai"
"Em.." Natali memilihat-lihat gaun yang terpajang. "Bagaimana kalo yang ini?" tanya Natali menunjuk satu gaun.
"Tidak. Itu terlalu norak"
"Norak bagaimana? Ini sangat bagus"
"Tidak. Pilih yang lain"
"Yang ini?"
"Punggungnya terlalu terbuka"
"Yang ini?"
"Jika kau memakai yang itu, kau akan terlihat gendut"
"Yang ini?"
"Bagian dadanya terlalu terbuka"
"Yang ini?"
"Itu transparan, seperti tidak memakai baju"
"Yang ini?"
"Lengannya seperti balon. Aku tidak suka"
"Huh.." Natali menghembuskan nafas panjang. "Yang ini salah, yang itu salah. Semuanya salah. Sudah kubilang, kau saja yang pilih. Aku bingung. Aku lelah" ucap Natali.
Natali duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Zain sadar kalo tindakannya membuat Natali bingung. Zain pun segera meminta maaf pada Natali.
"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu bingung. Kau lelah, lebih baik kita pulang saja. Besok kita akan melanjutkannya lagi" ucap Zain merasa bersalah.
"Tidak. Lebih baik kita pilih sekarang saja. Aku tidak mau jika besok harus pusing lagi"
"Baiklah. Kalo begitu, kali ini aku yang akan memilihkanmu gaun. Oke"
"Oke" jawab Natali lemas.
Pegawai menyiapkan makanan dan minuman untuk Natali atas perintah Zain. Kini Zain yang kebingungan harus memilih gaun yang mana.
Tiba-tiba manager butik itu datang menghampiri Zain.
"Ya. Mungkin kau bisa membantuku" jawab Zain.
"Tuan menginginkan gaun seperti apa?"
"Aku ingin gaun yang mewah dan berkelas untuk calon istriku. Aku mau gaunnya tidak terlalu terbuka. Tapi ini semua tidak ada yang cocok"
"Kebetulan sekali. Kami baru mengeluarkan gaun keluaran terbaru. 5 menit lalu baru kami bajang. Tuan mau lihat? Siapa tau cocok dengan selera ruan" tawar S.
"Boleh" setuju Zain.
"Kalo begitu mari" ajak S.
Zain mengajak Natali pergi ke ruangan di mana gaun itu terpajang.
"Nona, tuan, ini gaunnya" S menunjukkan gaun pada Natali dan Zain.
"Wah.." ujar Natali kagum.
"Gaun ini limited editions nona. Hanya ada 1 di dunia. Gaun ini didatangkan langsung dari Prancis. Dirancang oleh desainer terkenal asal Indonesia" jelas S.
"Indonesia?" tanya Natali.
"Iya nona"
"Siapa?" Natali sangat penasaran siapa desainer itu.
"Sebenarnya saya tidak boleh memberitahukan nama desainer ini. Tapi karna kalian adalah tamu kehormatan, saya akan memberitahu siapa nama desainernya. Namanya Amanda Batari"
"Wah,, gaun ini bagus sekali" ujar Natali.
"Butik kami selalu menjual gaun asli dari desanernya langsung. Dan kebetulan kami sudah bekerja sama dengan nona Amanda. Di luar sana banyak yang meniru karya orang lain. Termasuk karya nona Amanda. Tapi nona tidak perlu khawatir. Jika nona ingin membedakan barang asli dan paslu, nona bisa melihatnya lewat tanda pada baju" jelas S.
"Tanda apa?"
"Biasanya setiap desainer memiliki tanda tersendiri untuk menandakan kalo benda itu rancangannya. Dan untuk rancangan nona Amanda, nona bisa menemukan tanda hati di gaunnya. Nona mau melihatnya?"
Natali menganggukkan kepalanya.
"Mari saya akan perlihatkan"
S menunjukkan tanda hati yang terdapat di balik punggung gaun itu.
"Wah,, benar ada tanda hatinya" ujar Natali senang.
"Kau suka yang itu?" tanya Zain.
"He'em.." Natali menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Aku pilih yang ini" ucap Zain.
"Baik tuan" balas S.
Natali tersenyum senang. Dia sudah mendapatkan gaun untuk pernikahannya.
"Akan lebih menyenangkan jika pernikahan kita dihadiri oleh nona Amanda, desainer gaun itu" celetuk Natali.
Zain mendengar celetukan Natali.
"Kau serius?" tanya Zain.
"Apa?" Natali balik bertanya.
"Saat pernikahan kita kau mau dihadiri oleh desainer gaun itu?"
"Iya. Aku sangat menginginkan dia hadir" jawab Natali.
Zain terdiam.
"Apa ini termasuk bentuk ngidam? Kenapa keinginannya aneh sekali?" pikir Zain.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Tidak masalah jika dia tidak datang. Kita pulang yuk. Aku cape, ngantuk" ajak Natali.
Zain menganggukkan kepalanya.
Natali dan Zain pulang ke mansion. Sesampainya di mansin, Natali langsung tidur dengan ditemani oleh Zain. Natali tidak mau berjauhan dengan Zain.
Natali sudah tidur lelap. Sementara Zain masih setia membuka matanya dan memikirkan keinginan Natali.
Zain berpikir untuk mengundang Amanda ke pernikahannya dengan Natali. Tapi masa iya, dia harus pergi ke Indonesia untuk mengundangnya? Zain teringat pepatah orang Indonesia yang mengatakan. Jika keinginan seong ibu hamil tidak dipenuhi, maka nanti anaknya akan ngeces atau ileran. Zain tidak mau nanti calon anaknya ileran.
Zain bingung memikirkan hal itu.