VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Kebahagiaan



Pukul 17.00, Zain pergi untuk menghadiri rapat. Lebih tepatnya dia sedang melakukan kumpulan bersama anggota mafia lain.


Natali pergi ke kamar Rose sambil membawa potongan buah dan jus segar. Dia mencari kesempatan agar bisa bertemu dengan Rose. Jika saat ada Zain di rumah, dia tidak diperbolehkan menemui Rose atau berbicara dengannya.


Tok.. tok.. Tok..


Natali mengetuk pintu kamar Rose.


"Masuk" ujar Rose.


Natali masuk ke dalam kamar Rose.


"Kau.." Rose terkejut dengan kedatangan Natali. Rose pikir yang mengetuk pintu kamarnya bi Lusi. Namun ternyata Natali.


Natali tersenyum pada Rose.


"Huh.." Rose mendengus sebal saat melihat senyuman Natali.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Rose.


"Aku datang untuk memberimu buah dan jus" jawab Natali.


"Bawa kembali. Aku tidak mau" titah Rose.


"Kau harus memakan buah dan jus ini" titah Natali.


"Tidak. Beri saja ku minuman, itu akan lebih bagus"


"Kau harus ingat, dalam perutmu ada anak Zain yang harus kau jaga"


"Heheh,, anak Zain? Dia bahkan nyaris memb*nuhku. Dia tidak perduli pada anak ini"


"Kau harus sabar menghadapi Zain. Salah sendiri kau mau mengandung anak Zain"


"Kau menyalahkanku?"


"Ya. Kau yang salah. Zain tidak bersalah. Dan anak itu tidak bersalah"


"Zain yang salah. Bukan aku"


"Kau lah yang bersalah. Kau membuat Zain bersalah. Kau juga yang membuat anak itu bersalah"


Rose terdiam.


"Jika saja kau tidak menuruti tuanmu dan kau tidam mengkhianati Zain, mungkin ini tidak akan terjadi" ucap Natali.


"Ini semua terjari karna Zain. Keluargaku m*ti karna Zain" balas Rose.


"Begitukah? Bukankah kau sendiri yang membuat keluargamu m*ati?"


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah tau kau masih bekerja untuk Owen. Dan Owenlah yang sudah mengirimmu ke sini" Natali menatap Rose.


"Kau berusaha menjatuhkan Zain dengan memanfaatkan anak yang kau kandung itu. Ibu macam apa kau? Kau menggunakan anakmu untuk kepentinganmu sendiri. Kau tidak pantas disebut seorang ibu"


"Tau apa kau? Kau tidak mengetahui apa pun tentangku"


"Heheh.." Natali tertawa kecil.


"Kau sedang ketakutan. Kau sadar bahwa kau salah sudah menuruti Owen dan masuk ke rumah Zain. Kau baru 2 hari tinggal di sini. Tapi Zain sudah memperlakukanmu seperti itu. Dengan adanya anak Zain di dalam perutmu, kau pikir Zain akan bersikap lembut padamu? Kau pasti tau betul Zain sangat mencintai keluarganya. Namun anak itu belum tentu akan dicintai Zain dan akan menjadi bagian dari keluarga Zivon. Kau salah Rose" tutur Natali.


Rose tak menyangka Natali mengetahui isi pikirannya.


"Aku sudah lama mengenal Zain. Aku sangat tau apa yang akan dilakukan Zain pada seorang pengkhianat sepertimu. Ingat kata-kataku. Zain tidak akan tinggal diam. Hanya karna aku melarangnya menyakitimu, bukan berarti kau aman. Orang lain yang akan melakukannya untuk Zain"


Natali berbalik untuk pergi. Namun dia berhenti sejenak.


"Habiskan buah dan jus itu. Ingat, jika kau mencoba minum dan mer*kok lagi, aku tidak akan tinggal diam. Kau akan menerima akibatnya"


Setelah itu Natali pergi dari kamar Rose.


"Akh.." teriak Rose.


"Sial! Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa jadi aku yang salah? Dia yang salah. Dia yang menyuruhku melakukan ini" gumam Rose.


Rose membenarkan perkataan Natali. Zain pasti akan menyaikitinya dengan cara apa pun. Jika dia tidak segera keluar dari rumah ini, dia akan terkurung selamanya dan merasakan derita berkepanjangan.


"Pada siapa aku harus minta tolong?" gumam Rose.


"Bos. Dia pasti akan membantuku" gumam Rose.


Rose mengambil hpnya dan mencari nomor bosnya. Saat dia hendak melakukan panggilan, dia teringat satu hal.


"Dengar, jika kau ingin pergi dari rumah itu, maka kau akan m*ti ditanganku"


Seketika kalimat itu terlintas dipikiran Rose.


"Akh,, bagaimana ini?" Rose sudah putus asa.


Rose melihat ke arah buah dan jus. Dia hanya terpikirkan satu orang yang bisa membantunya. Yaitu Natali. Meskipun Natali sedikit kasar terhadapnya, Rose yakin Natali akan membantunya.


"Aku harus meminta bantuannya" gumam Rose. "Tapi bagaimana? Aku tidak mau secara terang-terangan mengatakan aku membutuhkan perlindungannya. Dia akan berpikir aku lemah dan aku kalah. Tapi saat ini tidak ada yang bisa membantuku selain dia. Setidaknya jika aku didekatnya, aku akan merasa terlindungi"


Rose mengalami kebimbangan. Dia terhalang gengsinya untuk meminta bantuan Natali. Tapi jika dia tidak meminta bantua Natali, dia akan dalam bahaya.


1 bulan kemudian.


Natali dan Zain sedang pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Natali. Entah kenapa akhir-akhir ini Natali sering merasa mual dan muntah. Dia juga lebih cepat lelah dari biasanya.


"Harry, bagaimana kondisi Natali?" tanya Zain.


"Dia tidak mengalami masalah serius. Hanya saja.." Harry menganggantungkan ucapannya.


"Hanya saja apa?" tanya Natali penasaran.


"Hanya saja ada sesuatu di perutmu yang bisa membuat perutmu membesar. Dan itu dalam waktu yang cukup lama. Sekitar 9 bulan" jawan Harry.


"Apa maksudmu? Apa yang ada di dalam perut istriku?" Zain tidak mengerti sama sekali.


"Janin" jawab Harry.


Natali menutup mulutnya tidak menyangka.


"Benarkah?" tanya Natali.


Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Selamat Zain, kau akan segera menjadi ayah" ucap Harry.


"Apa! Benarkah?"


Zain menatap Natali. Natali tersenyum pada Zain. Zain memeluk Natali dengan erat.


"Terima kasih sayang. Kau sudah memberiku kebahagiaan yang sangat besar" ucap Zain.


Natali menangis haru.


Zain mengecup kening, wajah dan bibir Natali sekilas. Hal itu dilakukan di depan Harry. Zain tidak bisa menutupi rasa rasa bahagianya.


"Terus,, lanjut aja. Sekalian turunin celananya. Aku gak papa kok di sini" desis Harry.


Zain dan Natali tersenyum.


"Kau jangan iri. Aku sudah menikah. Dan kau belum. Makanya kau harus cepat menikah. Atau kau akan menjadi bujang lapuk" ledek Zain.


"Diam kau" balas Harry.


Natali tertawa kecil.


"Usia kandunganmu baru berjalan 3 minggu. Usia itu masih sangat rentan pada keguguran. Kau harus menjaga kandunganmu dengan baik. Rahimu sudah bagus dan sehat"


"Baik Harry" ucap Natali.


"Dan ini untukmu Zain" Harry menajamkan kata-katanya.


"Jangan terlalu sering mengunjungi calon anakmu itu. Jika kau sering mengunjunginya, dia akan bosan. Saat lahir ke dunia, dia tidak akan mau bertemu denganmu karna kau sering mengunjunginya"


"Ck,, kau ini" decak Zain.


Natali tersipu mendengar ucapan Harry.


Jangan lupa tinggalkan jejak


Terus dukung author