
Setelah puas meminun air, Vanya mengambil ponselnya dan menelpon Arsen. Namun yang menganggkat telpon bukan Arsen, melainkan Gave.
"Hallo Van" sapa Gave.
"Eh, Gave? Kok lo sih yang angkat telpon Arsen?" tanya Vanya.
"Dia lagi syuting" jawan Gave.
"Oh,, ya udah. Sekarang kalian ada di mana?" tanya Vanya.
"Kita ada di studio y, emang lo di mana? Kata Arsen lo lagi nenangin mamanya Vano"
"Iya, tadinya juga gitu. Tapi sekarang gue ada di rumah gue"
"Oh,, lo ada di rumah lo" guman Gave.
"Sekarang gue ke sana ya"
"Gak usah, gue aja yang ke rumah lo" tiba-tiba Arsen yang berbicara.
"Loh,, Arsen" ujar Vanya.
"Ya, ini gue"
"Katanya lo lagi syuting"
"Baru selesai nih"
Setelah selesai syuting, Arsen memamg melihat Gave menanggakat telpon diponselnga. Dia pum bertanya siapa yang telpon, dan ternyata Vanya yang menelponnya. Arsen pun mengambil alih panggilan itu.
"Sekarang jadwal syuting lo di mana?" tanya Vanya.
"Lo lupa? Hari ini jadwal gue cuma 1. Dan harusnya kita bikin vlog. Cuma karna lo pergi ke rumah tente Julia, jadi bikin vlog dibatalin deh" jawab Arsen
"Kenapa dibatalin? Lanjut aja bikin vlog, lagian gue juga gak bakalan masuk ke vlog lo"
"Lo harus masuk Van, penonton vlog gue, mau lo mukbang sama gue"
"Gue gak mau ah"
"Lo itukan makannya banyak, jadi itu bukan masalah besar dong buat lo"
"Iya, tapi kalo harus makan depan kamera gue gak bisa Sen, gue malu. Tar orang kira gue rakus lagi"
"Gak akan Van, kan judulnya juga mukbang. Bukan kerakusan sang Vanya manager artis terkenal Arsen"
"Ah,, lo mah. Ya udah, gue ke rumah lo ya"
"Iya. Gue jemput lo"
"Gak usah, gue bawa motor gue aja"
"Oh,, ok deh"
panggilan pun berakhir.
Vanya pergi ke rumah Arsen dan menemani Arsen membuat vlog. Vanya baru pulang sore hari.
2 hari kemudian, Vanya mendapat telpon dari Julia. Julia memintanya untuk datang ke rumahnya. Vanya pun pergi ke-kediaman Bazla. Saat Vanya datang, Julia dan Bram sudah menunggunya di ruang keluarga. Vanya pun langsung duduk. Vano dan Dion pun juga ikut hadir di sana. Vanya sudah tau kenapa dia dipanggil oleh Julia. Pasti ini menyangkut permasalahan 2 hari yang lalu.
"Van, kamu pasti udsh tau kan, kenapa tante panggil kamu?" tanya Julia.
"Lalu kamu kenapa ngelakuin itu? Kenapa kamu gak bantu Vano? Kamu kan udah janji sama tante, sama om. Kamu mau bantuin Vano. Kenapa kamu tiba-tiba pergi tanpa mau bantuin Vano? Dion juga sama. Vano bilang, Dion dihasut sama kamu" tanya Julia.
Vanya menatap Julia. Rupanya Vano tidak menceritakan awal permasalahan dengan Helen pada Julia.
"Apa Vano gak bilang sesuatu sama tante?" Vanya balik bertanya.
"Gak. Dia gak bilang apapun pada tante. Dia cuma bilang kamu gak mau bantuin dia lagi" jawab Julia.
"Oh,, jadi gitu" ucap Vanya. "Tante, tau gak kenapa aku gak mau bantuin Vano? Itu karna emang Vano-nya yang gak mau aku bantuin. Dia udah nolak bantuan aku sama Dion" jelas Julia.
"Nolak gimana? Coba jelasin sama om" tanya Bram.
"Om jadi gini..." Vanya menceritakan saat Helen datang ke TKP, beradu mulut dengan Vanya dan akhirnya Vano lebih memilih Helen daripada Vanya dan Dion.
"Apa benar semua itu Van?" tanya Bram pada Vano.
"..." Vano tidak menjawab.
"Van,, jawab, apa bener yang dikatakan Vanya?" Julia mengulangi pertanyaan suaminya.
"Dia gak akan jawab tante. Dia itu lebih milih pacar matrenya itu" celetuk Vanya.
"Heh, jangan panggil pacar gue kayak gitu ya. Dia itu gak matre kayak lo" sargah Vanya.
"Oh,, sekarang lo anggep gue cewek matre? Hello,, jangan samain gue sama pacar lo ya. Pacar lo itu emang matre. Gue gak matre tuh, gue mau beli apapun pake uang sendiri. Gue kerja coy,, gue banting tulang buat ngidupin diri gue sendiri. Gue gak mau cari cowok cuma buat dimanfaatin duitnya doang"
"Cewek kalo matre itu wajar" potong Vano.
"Ya, itu bener. Cewek emang harus matre. Tapi pacar lo itu lebih dari matre tau gak. Pacar lo itu cuma meresin duit lo doang. Lo sadar gak sih" balas Vanya.
Vanya dan Vano bertengkar di depan Julia, Bram dan Dion. Vano selalu kalah jika berdebat dengan Vanya. Dia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan Vanya. Namun Vano terus membantah dan berusaha menyalahkan Vanya.
"Udah lah,, lagian rugi 5 M itu kecil" cibir Vano.
"Rugi 5 M kecil lo bilang? Coba lo bilang ke gue, apa aja yang udah lo lakuin buat bangun perusahaan lo yang sekarang udah jadi perusahaan besar? Lo bangun perusahaan lo dengan jentikan jari? Dengan modal berkhayal doang? Gak kan? Butuh waktu bertahun-tahun supaya perusahaan lo bisa kayak sekarang. Kalo lo anggep 5 M itu kecil, terus buat apa lo biarin polisi nyelidiki kasus kebakaran gudang lo itu? Kenapa lo gak tutup aja kasusnya gitu? Supaya polisi gak terbebani dengan kasus lo" Vanya memarahi Vano di depan orang tuanya.
Vano hanya menundukkan kepalanya saja mendengar Vanya memarahinya.
"Harusnya, kalo lo angggap 5 M itu kecil, pas lo tau gudang lo kebakaran, lo jangan panik jangan khawatir. Lo harusnya ngomong gini. Ah,, udahlah, cuma rugi 5 M doang. Besok bikin yang baru. Gitu harusnya. Harusnya lo juga biarin api ngebakar habis gudang lo itu. Lo larang tu pemadam kebakaran, supaya mereka gak perlu repot-repot mademin api. Kalo apinya ke bangunan lain, lo gak usah khawatir. lo tinggal ganti aja pake duit lo. Kan, 5 M lo bilang cuma. Apalagi bangunan lain yang kebakar. Paling juga 100 jutaan. Kecil itu mah.." lanjut Vano.
Vanya terdiam. Dia cukup lelah memarahi Vano.
"Ya,, itu urusan gue" balas Vano.
Vanya membulatkan matanya.
"Tante denger sendirikan? Itu urusannya dia. Vano gak perlu bantuan dari aku. Vano emang gitu. So bisa hidup sendiri" ucap Vanya.
Setelah mengatakan itu, Vanya pergi dari kediaman Bazla. Paginya dimulai lagi dengan pertengkaran. Itu membuat kepalanya ingin meledak.
"Van,, tunggu.." cegah Julia. Namun dia tak berhasil menghentikan Vanya.
"Vano,, kamu ini gimana sih? Vanya tuh punya niat baik sama kamu. Tapi kamu malah seperti itu sama dia" omel Julia.
"Pokoknya kamu harus minta maaf sama Vanya" titah Bram.
"Kamu denger itu?"
"Iya,, iya,, nanti Vano minta maaf" balas Vano.