
Hari ini Zain sedang menemani Natali makan malam. Natali tampak tidak nafsu makan. Zain berinisiatif menyuapi Natali agar dia mau makan.
"Sayang, kamu gak makan sih?" tanya Zain.
"Aku makan kok" balas Natali yang langsung menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
Zain tersenyum.
Zain mengambil piring Natali. Natali bingung kenapa Zain tiba-tiba mengambil piringnya.
"Kenapa?" tanya Natali.
"Aku suapin ya" ucap Zain.
"Gak usah Zain, aku bisa sendiri kok" tolak Natali.
"Tapi aku mau nyuapin kamu" kekeh Zain.
"Kamu juga belum selesai makannya"
"Cuma ngeliatin wajah kamu aja aku udah kenyang sayang" Zain menggombal.
"Ih,, apaan sih, pake ngegembel segala"
"Eh,, gombal ya bukan gembel" ralat Zain.
"Iya heheh,," Natali tertawa.
Zain senang karna Natali sudah bisa tertawa lagi.
"Sekarang kamu makan ya. Sini aa..." Zain mengarahkan sendok berisi makanan pada mulut Natali.
Natali membuka mulutnya dan menerima suapan dari Zain. Natali mengambil piring milik Zain lalu menyuapkan makanan pada Zain. Zain menerima suapan dari Natali. Seperti itulah makan malam romantis antara Zain dan Natali.
Dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, mereka harus rela kehilangan orang yang mereka sayangi. Setelah kehilangan oma Sari, mereka harus semakin meneguhkan hati mereka setelah kehilangan bayi yang dikandung Natali.
Keesokan paginya, Natali dan Zain melakukan sarapan bersama. Sarapan mereka diiringi dengan candaan dan gombalan dari Zain.
Keadaan damai itu seketika hilang saat ada anak buah Zain yang melapor pada Zain.
"Lapor tuan!" salah seorang anak buah Zain menghampiri Zain.
"Ada apa?" tanya Zain.
"Terjadi keributan di luar tuan"
"Keributan apa?"
"Ada seorang wanita yang bernama Rose memaksa masuk dan ingin menemui tuan"
"Rose.." gumam Zain. "Usir saja dia" titah Zain.
"Tapi tuan, dia mengatakan kalo dia.." anak buah Zain menggantungkan ucapannya.
"Dia kenapa?" tanya Natali penasaran.
"..." anak buah Zain tidak berani menjawab.
"Katakan dia kenapa!" tekan Zain.
"Dia mengaku sedang mengandung anak tuan" jawabnya.
Natali dan Zain melebarkan mata mereka.
"Mengandung.." gumam Zain.
"Mengandung.." gumam Natali.
"Zain apa yang dia katakan? Tidak mungkin wanita asing mengandung anakmu" tanya Natali.
"Tidak Natali, jangan percaya pada ucapannya. Itu pasti orang gila. Dia ingin menjatuhkanku" balas Zain.
"Kalo begitu temui dia dan katakan kau bukan ayah dari anak yang sedang dia kandung itu" tantang Natali.
Zain terdiam.
Diamnya Zain menjadi pirasat buruk bagi Natali.
"Jangan bilang kau tidak berani mengatakan itu" ujar Natali.
"Tidak bukan begitu sayang" sangkal Zain.
"Kalo begitu kenapa kau tidak mau mengatakan itu?" desak Natali.
Natali terdiam saat melihat seorang wanita berambut pendek dengan rambut dicat merah, berpakaian se** sedang memberontak.
Wanita itu tampak senang saat melihat kedatangan Zain dari belakang Natali.
"Zain, akhirnya kau keluar. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku" teriak Rose.
Natali menghampiri Rose. Begitupun dengan Zain.
"Lepaskan dia" titah Natali.
Para anak buah Zain melepaskan Rose.
"Zain, kau harus bertanggung jawab Zain" ucap Rose.
"Tanggung jawab apa yang harus dilakukan suamiku?" tanya Natali pada Rose.
"Dia sudah menghamiliku" jawab Rose.
Plak..
Natali menampar Rose. Rose tampak syok karna mendapat tamparan dari Natali.
"Jaga mulutmu itu nona. Pria yang ada di hadapanmu adalah suamiku. Tidak mungkin dia ayah dari anak yang kau kandung itu" ucap Natali.
"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada suamimu itu" balas Rose.
Natali melihat ke arah Zain.
"Zain, benar apa yang dia katakan? Kau bukan ayah dari anak yang dia kandung kan?" tanya Natali meminta kepastian.
"E,, Ya. Aku bukan ayah dari anak itu" jawab Zain dengan gugup.
"Kenapa kau harus gugup? Jika kau memang bukan ayahnya, kau tidak perlu gugup"
"Tidak sayang, percayalah padaku. Aku bukan ayah dari anak yang dia kandung" Zain berusaha membuat Natali percaya padanya.
"Heh.." Natali menyunggingkan senyum.
Plak..
Natali menampar Zain.
"Kegugupanmu sudah menjawab semuanya" ujar Natali.
Natali melenggang pergi meninggalkan Zain. Dia pergi menuju kamarnya.
"Sayang,, dengerin aku dulu.." cegah Zain. Namun Natali tidak mendengarkan Zain.
Zain tampak panik. Dia bingung harus berbuat apa. Zain melihat ke arah Rose.
"Kau.." geram Zain. "Gara-gara kau, aku dalam masalah" tekan Zain.
"Gara-gara kau juga aku mengandung anak ini" balas Rose dengan menekan kata-katanya.
Zain pergi menusul Natali.
Tok.. tok.. tok..
Zain mengetuk pintu kamarnya.
"Sayang, buka pintunya. Aku bisa jelasin semua ini" bujuk Zain.
Natali tidak membalas.
"Hiks,, hiks.." Natali menangis di dalam kamar.
Hatinya terasa sakit saat mendengar Zain menghamili wanita lain. Mungkin inilah yang dia rasakan saat tau wanita yang dia cintai, yaitu Natali hamil anak Vano.
Namun keadaan ini berbeda dengan Natali. Zain menikahi Natali setelah dia tau dia mengandung anak Vano. Zain menerimanya dengan tangan terbuka. Zain juga bersedia menjadi ayah bagi anak yang dikandung oleh Natali.
Sedangkan sekarang?
Natali mengetahui Zain sudah menghamili wanita lain dengan situasi mereka sudah menikah. Ditambah lagi beberapa hari yang lalu Natali baru saja kehilangan bayinya. Dia merasa sangat terpukul.
Sebut saja Natali egois. Tapi memang itulah yang sedang dirasakan oleh Natali saat ini.
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak
Terus dukung author ya😉