VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Keras Kepala



Natali sangat khawatir pada Rose. Dia takut Zain akan melakukan hal yang dia tidak inginkan.


"Zain,, dia pergi kemana?" gumam Natali.


Natali mundar-mandir ditempat yang sama saat Zain memerintahkan anak buahnya membawa Rose pergi.


Natali berusaha menghubungi Zain. Namun Zain tidak bisa dihubungi. Natali bingung harus mencari Zain ke mana. Jika dia mengecek seluruh ruang di mansion ini, butuh waktu berjam-jam.


"Aku harus minta bantuan siapa?" Natali sangat bingung.


Natali hanya terpikirkan satu nama saja. Yaitu Harry. Dia yakin kali Harry pastu tau dan Harry pasti akan membantunya. Natali menekan nama Harry dan melakukan panggilan dengannya.


Tut.. tut..


Hari tidak menjawab.


"Harry, tolong cepat datang ke mansion. Aku butuh bantuanmu. Zain sangat marah pada Rose. Dia membawanya ke ruang bawah. Aku tidak tau di mana letak ruang bawah" Natali meninggalkan pesan suara untuk Harry.


"Semoga saja Harry cepat ke sini" harap Natali.


Natali tidak bisa tinggal dan menunggu Harry datang. Sambil menunggu Harry, Natali harus menyelamatkan Rose dari Zain.


"Bi Lusi" gumam Natali.


Natali yakin Bi Lusi pasti tau di mana ruang bawah. Natali mencari bi Lusi ke belakang.


"Bi.." panggil Natali.


"Bibi.." panggil Natali lagi.


"Iya nyonya.." jawan bi Lusi. "Ada apa nyonya?" tanya bi Lusi.


Rupanya bi Lusi ada di halaman belakang sedang menggunting rumput.


"Bi, bibi tau di mana ruang bawah?" tanya Natali.


Bi Lusi membuka matanya lebar. Kenapa Natali menanyakan ruang bawah?


"Tidak tau nyonya" jawab Lusi berbohong.


"Bi,, tolong beri tau aku di mana ruang bawah. Aku harus menyelamatkan Rose" pinta Natali.


"Nona Rose? Memang kenapa dia nya?"


"Rose di bawa oleh Zain ke ruang bawah. Aku takut Rose kenapa-napa bi"


Bi Lusi terdiam.


"Bi,, tolong bantu aku. Zain sangat maray. Dia tidak mendengarkanku. Dia pasti akan mendengarkan bibi"


"Maaf nya, tuan Zain tidak akan mendengarkan siapa pun saat marah"


"Bi,, aku takut terjadi sesuatu pada anak yang dikandung Rose. Aku tidak mau anak itu kenapa-napa"


"Nyonya,, anak itu belum tentu anak tuan Zain. Kau tidak perlu khawatir seperti itu"


"Bagaimana jika itu anak Zain? Anak itu tidak bersalah bi.


Bi Lusi terdiam.


Natali mengambil gunting rumput yang dipegang ni Lusi. Natali menempelkan gunting itu di tangannya seolah dia akan menggunting tangannya dengan gunting rumput itu.


"Nyonya,, apa yang kau lakukan. Cepat berika gunting itu" ucap bi Lusi kaget.


"Tidak akan. Cepat suruh Zain ke sini. Jika dia tidak ke sini, maka dia akan melihat mayatku"


"Nyonya,, bibi mohon jangan lakukan itu. Berikan guntingnya"


"Cepat suruh Zain ke sini" titah Natali.


Dengan terpaksa bi Lusi mengikuti perintah Natali. Bi Lusi menelpon James. James tak kunjung mengangkat telponnya. Namun akhirnya tersambung juga.


Di sisi lain.


Rose sudah berada di ruang bawah. Kini dia ada dalam fosisi tidak menguntungkan. Rose duduk dengan tangan dan kakinya yang diikat. Mata Rose tidak ditutup karna Rose sudah tau bagaimana bentuk ruang bawah.


Di dalam sana sudah ada James dan anak buah Zain yang lain. Zain masuk ke dalam. Semua orang menundukkan kepalanya kecuali Rose. Rose menatap Zain dengan tatapan menantang.


"He'eh.." Zain tertawa kecil.


"Kenapa kau harus menahan diri? Lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku tuan Zain" balas Rose.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Dulu kau melihat orang lain yang ters*ksa di sini. Dan sekarang, orang lain yang akan melihatmu ters*ksa di sini" Zain menatap Rose.


"Aku tau kau masih bekerja untuk Owen. Dan aku juga tau apa tujuanmu. Sebelum memulai penghakiman, aku akan memberimu kesempatan. Berapa bayaranmu? Apa yang Owen janjikan padamu? Di mana Owen?" tanya Zain.


Rose menatap Zain.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu" jawab Rose.


"Oh,, rupanya kau setia pada tuanmu itu. Kita akan lihat sampai mana kesetiaanmu akan bertahan"


Zain mengisyaratkan pada anak buah Zain agar bergerak. Anak buah Zain mengerti apa isyarat Zain. Anak buah Zain mengambil kabel yang mengalir listrik. Rose tau apa tujuan Zain. Rose sangat takut Zain akan memerintahkan anak buahnya untuk menyetrumnya dengan kabel itu. Namun dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Zain.


"Kau tahu, tuanmu itu pengecut. Dia tidak bisa berhadapan denganku secara langsung. Dia itu bodoh. Dan kau sama bodohnya dengan dia" cibir Zain.


"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas aku tidak akan bicara" balas Rose.


Anah buah Zain maju mendekat pada Rose. Dia mendekatkan kabel berakiran listrik pada tangan Rose.


Rose sangat ketakutan. Saat tinggal beberapa mili dari kulit Rose, tiba-tiba Rose berteriak.


"Tuan Zain, jangan lupa aku sedang mengandung anakmu" teriak Rose.


Anak buah Zain menghentikan pergerakannya.


"Kau sedang mengandung anakku?" tanya Zain.


"Iya. Ini adalah anakmu. Darah dagingmu" jawab Rose dengan wajah ketakutan.


"Oh,, iya. Bagaimana aku bisa lupa" ujar Zain.


Zain menatap James.


"Paman James, apa kau percaya kalo wanita ini sedang mengandung anakku?" tanya Zain pada James.


"Tidak tuan" jawab James.


"Apa kalian percaya?" tanya Zain pada anak buahnya yang lain.


"Tidak tuan" jawab anak buah Zain.


"Kau dengar itu? Mereka tidak percaya kalo kau mengandung anakku. Begitupun aku. Aku tidak percaya kau sedang mengandung anakku. Bisa saja itu anak pria lain. Kau kan sering celap celup" ucap Zain.


Rose melebarkan matanya.


"Tidak! Ini anakmu tuan Zain. Percayalah" ucap Rose.


"Percaya padamu? Mustahil"


Zain terdiam.


"Begini saja. Aku akan percaya jika kau mengatakan keberadaan Owen"


"Tidak akan" balas Rose.


Plak..


Zain menampar Rose.


"Dasar wanita keras kepala" cerca Zain. "Cepat sertum dia" titah Zain.


"Baik tuan"


Kabel mulai mendekati kulit Rose. Namun terhenti saat James memberikan telpon pada Zain.


"Tuan, ini telpon untumu" ucap James.


"Dari siapa?" tanya Zain.


"Bi Lusi" jawab Zain.


Zain menatap James dengan bingung. Seketika dia teringat pada Natali. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Natali.


Jangan lupa tinggalkan jejak


Terus dukung author