VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Penculikan



Natali menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Dia harus mengakui kalo dia lemah tanpa Zain. Begitu pun Zain. Zain lemah tanpa Natali.


Natali teringat sesuatu. Dia ingat saat Zain memerintahkan anak buahnya untuk menghukum bos pembajak. Hukumannya persih dengan apa yang Natali katakan pada bos pembajak itu. Ya,, meski pun Zain menambahkan hukumannya.


"Zain, bagaimana kau tau apa yang aku katakan pada bos pembajak itu?" tanya Natali.


"Leo memberitahuku" jawab Zain.


Natali menganggukkan kepalanya. Dia tahu Sam yang sudah memberitahu Leo.


"Aku tidak menyangka istriku ini bisa menggertak seseorang" ucap Zain sambil tertawa kecil.


"Hei,, kau pikir aku lemah apa!" kesal Natali.


"Tidak. Kau tidak lemah. Kau sangat menggemaskan. Kelinci putihku.." Zain mencubit gemas kedua pipi Natali.


"Ah,, Zain. Aku bukan kelinci putih" Natali menjauhkan tangan Zain.


"Lalu kau apa?"


"Aku singa putih"


"Emang ada singa putih? Perasaan ada juga harimau putih"


"Ada lah,, kau yang tidak tau"


Zain tersenyum dan mengacak puncak rambut Natali.


"Ah,, Zain. Nanti rambutku berantakan" kesal Natali.


Entah kenapa Zain sangat suka menjahili Natali dan membuatnya kesal. Ini adalah hobi barunya.


Zain menarik Natali hingga Natali dalam pangkuannya.


"Akh.." pekik Natali kaget. "Zain turunkan aku" pinta Natali.


"Tidak mau" tolak Zain.


"Ya sudah. Tubuhku berat. Tubuhmu akan terasa remuk karna aku mendudukkimu"


"Ahahah.." Zain tertawa renyah.


Leo juga menahan tawanya mendengar ucapan Natali.


"Kenapa kau tertawa?" heran Natali.


"Sayang,, kau tidak seberat dan sebesar itu. Aku bahkan tidak merasa sedang memangkumu"


Natali membelalakan matanya. Dia tersinggung dengan ucapan Zain.


"Jadi kau bilang aku kurus, tidak tulang dan tidak berdaging?" tanya Natali tak terima.


"Tidak sayang,, bukan itu maksudku. Kau tidak kurus. Kau sangat perpect. Sangat sempurna" jelas Zain.


"Ah,, kau bohong.."


Nataki merengek dengan memvkul dada bidang milik Zain. Zain tersenyum melihat Natali. Dia menangkup wajah Natali dan..


Cup..


Zain menempelkan bibirnya dengan bibir Natali. Natali membuka matanya lebar. Zain memainkan bibirnya pada bibir Natali. Natali tidak membalas Zain. Dia bahkan memberontak. Akhirnya Zain melepaskan bibirnya.


"Zain,, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak malu? Ada Leo di sini" ucap Natali.


"Aku tidak melihat apa pun nyonya" ujar Leo.


Zain tersenyum menang.


"Huh.." Natali mendengus kesal.


"Rasanya aku menginginkanmu sayang.." bisik Zain dengan suara yang sudah berat.


Natali tau, jika Zain sudah menginginkan sesuatu, maka Zain ingin saat itu juga.


Mendapat usapan dirahangnya, membuat Zain semaki bergejolak menginginkan Natali.


Natali sadar bujukannya gagal dan malah membuat Zain semakin menginginkannya.


"Tidak mungkin kan, kita melakukannya di mobil?" tanya Natali.


"Kenapa tidak? Kita belum pernah mencobanya kan?"


Natali bingung harus membujuk Zain bagaimana lagi. Saat dia mau berucap, Zain lebih dulu membuka suaranya.


"Leo.." ucap Zain.


"Baik tuan" patuh Leo.


Belum diperintah pun Leo sudah mengerti apa yang dimaksud tuannya. Natali kaget. Kenapa Leo bisa langsung mengerti ucapan Zain?


Tangan Zain mulai tidak bisa diam. Tangannya sudah meraba kemana-mana. Natali menjadi was-was.


Leo mengeluarkan tangannya dan memberi kode untuk menepi ke samping. Tak lama semua mobil anak buah Zain, termasuk mobil Zain berhenti di area yang tak berpenghuni.


Leo dan anak buah yang lain keluar dari mobil. Mereka mengelilingi mobil Zain Sejauh 30 meter dengan membelakanginya. Natali yang melihat itu semakin was-was. Tidak mungkin kan Zain mau melakukan itu saat ini, di dalam mobil? Yang benar saja? Memang tidak ada tempat lain apa? Pikir Natali.


"Zain.." ujar Natali.


Saat ini Zain sudah nangkring di gunung kembar Natali. Zain membenarkan posisi Natali menjadi menghadapnya. Zain menyingkapkan rok yang Natali kenakan.


"Ah.." Natali merasakan sesuatu masuk ke dalam area sensitifnya.


Dan terjadilah penyatuan yang panas antara Zain dan Natali.


Setelah melakukan penyatuan, Natali tertidur. Dia kelelahan karna permainan Zain.


Saat dia membuka mata, dia sudah berada di dalam kamarnya dan Zain. Natali merenggangkan tubuhnya yang terasa pedal. Dia mengedarkan pandangannya mencari Zain. Namun dia tak menemukan Zain.


Kruyuk...


*Anggap suara perut ya🤭


Perut Natali berbunyi. Natali merasa lapar. Saat dia melihat jam, ternyata sudah pukul 15.00. Cukup lama dia tertidur.


Sebelum makan, Natali memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah mandi, Natali turun untuk makan.


Di sisi lain.


"Tolong,, siapa pun. Tolong aku.." teriak seorang wanita dengan mata tertutup, dan kedua tangan yang terikat.


"Tolong aku,, hiks,, aku diculik oleh sekelompok orang,, tolong aku.." teriaknya lagi.


"Buka penutup matanya" titah seorang pria berbadan tegap.


"Baik tuan"


Penutup mata wanita itu dilepaskan.


Wanita itu menyipitkan matanya melihat silaunya lampu di ruangan yang temaram. Wanita itu menatap pria yang menyuruh orang lain membuka penutup matanya.


"Arsen. Kau Arsen kan" tebak wanita itu.


"Bukan. Namaku Zain. Bukan Arsen" balas pria itu.


Ya. Pria itu adalah Zain. Zain memerintahkan anak buahnya untuk membawa wanita yang sudah mengambil fotonya dan juga Natali secara diam-diam.


"Tidak. Kau Arsen. Bukan Zain" tegas wanita itu.


Zain menyunggingkan senyum disalah satu sudut bibirnya.


"Rupanya kau masih ingat aku. Helen!" ucap Zain.