VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Senyum Bangga



Zain mengajak Natali pulang ke mansion. Sesampainya di mansion, Natali sama sekali tak berbicara pada Zain. Bahkan selama diperjalanan pulang Natali hanya diam. Tak ada satu kata pun keluar dari bibir Natali.


Natali berdiri sambil menghadap jendela. Dia menatap keluar dengan tatapan kosong.


"Sayang.." Zain memeluk Natali dari belakang.


"Kamu yang merencanakan ini kan Zain?' tanya Natali.


"..." Zain terdiam.


"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu membawa masalaluku? Bukankah kamu sendiri yang bilang aku harus lupain dan tinggalin masalalu. Tapi kenapa sekarang malah kamu yang membawa masalaluku?" tanya Natali.


Zain melepaskan pelukannya. Dia membalikkan tubuh Natali agar menghadapnya.


"Maafin aku ya sayang. Aku tau aku salah. Tapi bukan aku yang membawa masalalumu. Vano sendiri yang datang ke sini. Dia mencarimu dan ingin membawamu pergi." Zain mulai menceritakan yang sebenarnya.


"Aku bisa saja menghabisinya. Tapi dia memberi taruhan. Dia mempertaruhkanmu. Dia bilang kau akan mau kembali bersamanya. Aku sangat takut itu terjadi. Aku tidak mau kehilanganmu. Hanya kau yang aku miliki." ucap Zain.


"Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Natali.


"Aku sangat mempercayaimu. Itu sebabnya aku menerima taruhan itu. Karna aku yakin aku akan menang dan kau hanya menjadi milikku. Aku mau membuat Vano sadar kalo kau sudah melupakannya dan tidak memperdulikannya. Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini. Dengan begitu, aku akan lebih tenang memilikimu." jelas Zain.


Zain menundukkan kepalanya. Dia jadi merasa bersalah. Natalu dapat melihat ketulusan dari suaminya. Natali memeluk Zain.


"Makasih untuk semuanya. I love you." ucap Natali.


"I love you too." balas Zain.


Pelukan mereka semakin erat. .


Malam hari, Zain menemui Vano. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Vano setelah kalah dari Zain. Zain dan Vano bertemu di restosan. Zain meneguk wine miliknya. Senyum angkuh terukir di bibir Zain.


Vano merasa sangat sedih dan kecewa. Dia merasa sudah cdicampakkan oleh Natali dengan begitu tidak adilnya.


"Kau sudah tau sendiri hasil dari taruhan ini." ucap Zain membuka mulut.


Tak ada jawaban dari Vano.


"Sekarang, kau pergi dan jangan pernah mencari istriku lagi. Jika kau berani menyentuh istriku, aku tidak akan membuat hidupmu tenang. Aku akan menghancurkan kehidupanmu dan juga keluargamu." ancam Zain.


Vano tertunduk lesu.


"Relakan Vanya bersamaku. Aku berjanji akan melindungi dia dan membahagiakannyan. Aku tidak akan membuat dia menangis. Kecuali tangisan bahagia." ucap Zain dengan tulus.


Vano menganggukkan kepalanya. "Aku percaya. Aku akan pergi. Aku tidak akan mencari dan mengusik kalian lagi." putus Vano. "Besok pagi aku akan segera pergi." sambung Vano.


Vano berdiri dan melangkah pergi. Baru beberapa langkah, Vano sudah membalikkan tubuhnya.


"Arsen, terima kasih. Aku titip Vanya padamu." ucap Vano sambil tersenyum.


Zain menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Vano.


Tak terasa kini kandungan Natali sudah menginjak 7 bulan. Dan kandungan Rose sudah menginjak 9 bulan. Sebentar lagi Rose akan melahirkan.


Hubungan Natali dan Rose masih dekat. Bahkan hubungan mereka makin dekat. Jujur saja Zain tidak menyukai itu. Tapi mau bagaimana lagi. Natali ingin berteman dengan Rose.


"Zain, pergi lah sana.." bujuk Natali.


"Tidak.." tolak Zain.


"Zain.. Kau harus pergi. Kasihan Leo yang sudah lama menunggumu." Natali masih berusaha membujuk Zain.


"Em.. Tidak mau sayang." tolak Zain.


"Zain.."


Seperti ini lah keadaan pagi ini. Zain memeluk Natali di ruang keluarga. Di mana ada Leo yang sedang menunggu Zain. Zain tidak mau melepaskan Natali.


"Dia selalu memerintahku sayang.." adu Zain pada Natali.


Leo membulatkan matanya saat seorang pak bos menadukan asistennya pada ibu bos.


"Benarkah?" tanya Natali.


"Iya. Dia selalu mengatakan tuan Zain, setelah ini ada rapat penting. Tuan, setelah makan siang ada harus bertemu seseorang dan tidak bisa diwakilkan. Tuan anda harus membaca menandatangi dokumen ini secepatnya. Tuan, waktu makan siangmu hanya 15 menit." jelas Zain mengatakan apa yanh sering Leo katakan padanya.


"Tuan, tugas saya memang meningatkan jadwa tuan." balas Leo.


"Diam kau." desis Zain.


Natali tersenyum melihat tingkah Zain.


"Zain, pergi ya. Semakin cepat kamu menyesaikan pekerjaan, semakin cepat pula kamu bersantai. Setelah pekerjaan selesai, kamu bisa langsung pulang." ucao Natali.


Zain tidak bisa lagi menolak Natali. "Baiklah. Aku pergi sebentar. Jaga diri kamu." pasrah Zain.


"Iya sayang."


"Sayangnya dady, jaga momy ya. Dady mau kerja dulu. Nanti dady jengukin kamu." ucap Zain mengelus perut Natali yang sudah membesar.


"Iya Dady.." balas Natali sambil tersenyum.


Zain mengelus kepala Natali dan mencium keningnya. Tak lupa Zain juga mengecup sekilas bibir Natali.


"Bye.. Bye.. Dady.." Natali melambaikan tangannya


"Bye sayang.." balas Zain.


"Tuan cepat lah. Kita sudah telat 30 menit." protes Leo.


"Kau ini, lama-lama kupotong juga mulutmu." desis Zain.