
Setelah selesai makan siang, Natali segera pergi ke kamar. Dia sangat tidak enak pada Rose atas prilaku Zain.
"Zain.." panggil Natali.
Tak ada jawaban dari Zain.
Natali mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Namun dia tidak mendapati Zain berada di kamar. Natali pergi ke balkon. Dia melihat Zain sedang melamun sambip menyesap r0k0k.
Natali menghembuskan nafas panjang. Dia tau Zain pasti marah padanya. Natali menyiapkan diri untuk berhadapan dengan Zain.
"Zain.." panggil Natali lembut.
Zain tidak menjawab. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak.
Natali duduk di kursi sebelah Zain.
"Zain.." Natali berusaha menggapai tangan Zain.
Namun Zain menepis tangan Natali dengan kasar. Natali tertegun saat Zain menepis tangannya. Baru kali ini Zain bersikap kasar padanya.
"Zain,, dengerin penjelasan aku dulu" ucap Natali.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan" balas Zain dengan dingin.
"Zain-"
"Aku sudah melarangmu untuk tidak dekat dengannya. Tapi kau malah melanggar laranganku. Kau bahkan berteman dengannya" tutur Zain.
"Zain,, apa yang salah dengan sebuah pertemanan? Aku hanya ingin dekat dengannya"
"Tapi aku tidak mau kau berteman dengannya. Kau juga tau kan, siapa wanita itu? Dengar Natali, hanya karna aku mengizinkanmu pergi bersamanya, bukan berarti aku sudah mempercayai dia"
"Zain,, aku hanya ingin berteman saja. Aku kesepian Zain. Setelah pindah ke Italia, aku tidak punya teman. Aku mau punya teman Zain"
"Kau boleh punya teman sebanyak yang kau mau. Tapi tidak dengan wanita si4lan itu" tegas Zain.
"Zain.."
"Cukup Natali. Aku tidak mau berdebat lagi denganmu"
"Zain,, jangan seperti ini. Kau harus ingat, Rose itu mengandung anakmu Zain, darah dagingmu"
"Aku tidak sudi mempunyai keturunan darinya" sinis Zain.
"Zain.."
"HENTIKAN! JIKA KAU MAU BERDEBAT LAGI, SEBAIKNYA KAU KE LUAR DARI KAMAR INI" usir Zain dengan lantang.
Natali terdiam. Dia tidak menyangka Zain akan mengusirnya dari kamar.
"Kau tidak mau lagi satu ruangan bersamaku?" ujar Natali.
Zain tidak menjawab. Dia terus menatap ke depan.
"Baiklah. Jika kau tidak mau lagi satu ruangan bersamaku, lebih baik aku pergi dari rumah ini. Aku tidak bisa tinggal satu atap dengan orang yang tidak mau berada dalam satu ruangan bersamaku" ujar Natali.
Zain tidak menanggapi ucapan Natali.
"Kau tau Zain, setelah dipikir-pikir, baik di Indonesia atau pun di Italia, aku tidak besama orang yang tepat. Suami pertamaku tidak mau mengakui anak yang ku kandung. Dan suami keduaku, tidak mau berada dalam satu ruangan bersamaku. Aku merasa takdirku seperti buah simalakama. Bukannya mendapat kebahagiaan, aku justru masuk ke lubang yang salah lagi. Aku menyerah Zain. Kau menang dengan egomu itu"
Natali meninggalkan Zain. Dia mengambil kopernya dan mengemasi barang-barangnya. Dia membawa beberapa baju, uang dan juga paspor miliknya.
Natali ke luar dari kamar sambil menggusur kopernya. Bi Lusy sangat terkejut melihat Natali membawa koper.
"Nyonya,, nyonya mau ke mana? Kok bawa koper segala?" tanya bi Lusi.
"Aku mau pergi bi. Tidak ada gunanya aku tinggal di sini lagi"
"Tapi ini sudah mapir sore,, tidak baik jika nyonya pergi" cegah bi Lusy.
"Aku harus pergi bi. Aku titip Zain ya. Sampai jumpa"
Natali pergi tanpa menghiraukan bi Lusi yang berusaha menahannya. Natali pergi menuju gerbang. Saat dia berada di depan gerbang, para penjaga tidak mau membukakan gerbang untuknya.
"Maaf nyonya, kami hanya menerima perintah dari tuan Zain saja" tolak penjaga itu.
"Apa kau tidak mendengarku! Cepat buka gerbangnya" ucap Natali dengan berteriak.
Sorot mata Natali sangat tajam. Membuat nyali penjaga itu menciut. Akhirnya penjaga itu membukakan gerbang untuk Natali.
Natali berjalan ke luar dari mansion Zain. Dia menghentikan taxi dan masuk ke dalamnya. Dia benar-benar meninggalkan kediaman Zain. Bi Lusy yang melihat itu segera pergi ke kamar Zain.
Tok.. tok.. Tok..
Bi Lusy mengetuk pintu kamar Zain.
"Tuan,, ke luarlah tuan" panggil bi Lusy.
Tak ada respon dari Zain.
Tok.. tok.. tok..
Bi Lusy masih berusaha mengetuk pintu kamar Zain.
"Tuan.." panggil bi Lusy lagi.
Tok.. tok.. tok..
Untuk yang ketiga kalinya bi Lusy mengetuk pintu kamar Zain. Dan akhirnya Zain ke luar dari kamar. Zain menampilkan ekspresi dingin.
"Tuan,, nyonya Natali pergi tuan" adu bi Lusy.
"Biarkan saja" balas Zain.
Setelah itu Zain kembali masuk ke dalam kamarnya.
Bi Lusy sangat terkejut dengan siapa tuannya. Tidak biasanya Zain bersikap seperti ini jika menyangkut Natali. Namun kini Zain berbeda. Entah masalah apa yang dihadapi oleh Zain dan Natali. Sampai-sampai Natali harus meninggalkan mansion ini.
Rose tau kepergian Natali. Tapi dia tidak mau menghentikan Natali. Melihat kepergian Natali, membuatnya merasa senang dan juga sedih.
Dengan kepergian Natali, dia bisa menjadi nyonya rumah ini seutuhnya. Tapi dia juga bimbang. Tidak seharusnya dia senang, atas kepergian Natali. Rose menebak pasti gara-gara dirinya, Natali bertengkar dengan Zain, dan akhirnya Natali memilih pergi.
Natali sudah sangat baik pada Rose. Tadi saja setelah Zain pergi ke kamar, Natali berusaha mengibur Rose. Saat Zain berusaha berbuat jahat padanya, Natali selalu melindunginya. Dan sekarang apa? Saat Natali terkena masalah, Rose malah senang? Ck,, Rose pikir dia bukanlah teman yang baik untuk Natali.
Natali tidak tau harus pergi ke mana. Awalnya dia hanya menggertak saja pada Zain. Namun Zain malah tidak menghentikan kepergiannya. Padahal Natali sangat berharap Zain menghentikannya.
Sudah 15 menit Natali menaiki taxi tanpa tau arah tujuannya.
"Nona, katakan tujuanmu ke mana. Sudah 15 menit kau tidak mengatakan tujuanmu" ucap sopir taxi yang membuat lamunan Natali buyar.
"Em,, ke bandara saja pak" jawab Natali.
"Baiklah nona" balas sang sopir.
Sopir itu menjalankan mobilnya menuju bandara. 20 menit kemudian, dia sudah sampai di bandara. Natali turun setelah membayar ongkos taxi.
Natali memasuki area banda. Dia pergi membeli tiket.
"Nona, nona mau membeli tiket untuk penerbanan ke negara mana?" tanya petugas bandara.
"Em,, negara mana ya.." Natali berpikir.
"Nona belum tau mau pergi ke mana?"
"Iya, maaf ya kak"
"Kalo begitu nona bisa duduk dulu dan renungkan mau pergi ke negara mana"
"Baik kak"
Natali duduk di kursi tunggu. Dia bingung harus pergi ke negara mana. Yang terlintas dipikirannya adalah negara Indonesia. Jujur saja, Natali sangat merindukan negara kelahirannya itu. Tanpa mau pikir panjang, Natali memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Dia tidak perduli masalalunya. Kini dia adalah Natali. Bukan Vanya. Terserah Zain mau suka atau pun tidak.
Natali pergi ke tempat pembelian tiket.
"Kak, saya mau pergi ke Indonesia"