VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Curhat 2



Menjelang siang, Natali mengajak Rose pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota yang kini Natali tinggali. Ini pertama kalinya Natali pergi jalan-jalan tanda Zain. Dan ini juga pertama kalinya dia pergi ke mall. Dia sangat antusias sekali. Sudah berbulan-bulan Nataki mengurung diri di istana mewah Zain. Kini dia sudah siap untuk menghabiskan banyak uang.


"Wah,, aku sangat senang bisa ke sini" ucap Natali dengan mata yang berbinar.


Rose tidak tau kenapa Natali sangat senang hanya dengan pergi ke mall.


"Sepertinya kau tidak pernah ke mall ya?" tebak Rose.


"Setelah ke Italia, aku memang tidak pernah ke mall" jawab Natali sekenanya.


"Kenapa? Padahal kau sudah cukup lama di Italia kan?"


"Aku tidak mau. Aku terlalu malas untuk masuk ke kerumunan seperti ini"


"Lalu kenapa sekarang kau mau ke sini?"


"Karna aku perlu tau bagaimana mall di Italia. Aku akan tinggal selamanya di sini bersama Zain dan anak-anak kita nanti. Dan lagi, karna aku ada teman, jadi aku mau ke mall"


Rose terdiam. Rupanya Natali sudah menganggap dirinya sebagai teman.


"Apa kau sebelumnya tidak mempunyai teman?" tanya Rose.


"Beberapa bulan lalu aku punya teman baru yang sama dari Indonesia. Namanya Amanda dan tuan Daniel. Setelah mereka kembali ke Indonesia, aku tidak mempunyai teman. Tapi aku juga punya teman. Ada dokter Harry, bi Lusy, paman James, Leo dan juga kau. Aku senang sekarang"


Lagi-lagi Rose terdiam.


"Sudah lah,, aku ke sini untuk belanja. Aku akan menghabiskan uang Zain. Rose, ayo kita pilih semua barang yang kita mau"


Natali menarik tangan Rose. Pertama mereka mampir di sebuah toko baju.


"Rose, ayo pilih baju mana yang kau mau. Kau harus memilih baju yang agak longgar. Karna kandunganmu sebentar lagi membesar"


Rose tidak menanggapi ucapan Natali. Dia hanya memperhatikan Natali yang terlihat sangat senang.


Natali sibuk ke sana-kemari memilih baju. Sementara Rose hanya menatap Natali. Sudah ada setumpuk baju yang dipilih Natali. Namun belum satupun baju yang dipilih oleh Rose. Natali menghampiri Rose.


"Rose, kenapa kau tidak memilih baju untukmu?" tanya Natali.


Lamunan Rose terbuyarkan.


"Em,, aku tidak punya uang untuk membeli baju sebanyak itu" alibi Rose.


"Ih,, belanjaan kita akan dibayar oleh Zain. Kau tidak usah khawatir" balas Natali.


"Aku takut tagihannya akan besar. Belanjaanmu saja sebanyak itu. Itu hanya baju. Belum lagi kau pasti akan mengajakku ke toko sepatu, tas dan make up. Kartu Zain lasti akan membengkak"


"Ahahah.. tenang saja Rose. Zain tidak akan bangkrut hanya karna aku berbelanjaa sebanyak ini. Aku tau kau juga pasti tau itu kan?"


Rose terdiam.


"Jangan beralibi. Sebenarnya apa yang mengganggumu?" tanya Natali.


"Tidak ada" jawab Rose.


"Lalu kenapa kau tidak memilih baju?"


"Aku hanya bingung mau pilih yang mana"


"Tidak usah bingung, kau pilih saja yang menurutmu bagus dan cocok. Kalo begitu, ayo aku akan membantumu memilih baju"


Natali membantu Rose memilih baju. Setelah selesai memilih baju, Natali dan Rose lanjut ke toko sepatu, tas dan juga make up. Ya, yang dikatakan Rose benar. Natali pasti akan mengunjungi semua toko itu.


Selesai berbelanja, keduanya pergi ke restoran untuk makan siang. Natali sangat lapar hanya karna belanja. Setelah makan, mereka duduk di sebuah taman sambil memakan es krim. Natali sangat menikmati es krim rasa coklat miliknya.


"Hm.." balas Natali.


"Aku boleh nanya sesuatu gak?"


"Boleh, emang mau nanya apa?" ucap Natali sambil memasukan suapa es krim ke dalam mulutnya.


"Waktu itu kau bilang, kau melihat Vanya dalam diriku"


"Hm,, terus?"


"Siapa itu Vanya?" tanya Rose ragu.


Natali terdiam. Dia mengalihkan pandangan pada Rose. Natali menaruh es krimnya di sebelahnya.


"Kalo kamu gak mau jawab juga gak papa kok. Aku cuma iseng aja nanya itu" ucap Rose. Dia tidak mau Natali marah padanya.


Hening seketika.


"Vanya itu aku" ujar Natali tiba-tiba.


Rose mengerutkan keningnya heran.


"Maksudmu?" bingung Rose.


"Vanya itu aku. Nama lengkapku, Vanya Natalia Putri. Sebelum ke Italia, aku tinggal di Indonesia. Di Indonesia aku dikenal sebagai Vanya. Aku bekerja pada Arsen" Vanya hendak bercerita.


"Arsen?"


"Iya, dia itu Zain. Saat di Indonesia Zain dikenal dengan nama Arsen. Dia seorang selebriti terkenal. Saat itu aku menjadi managernya. Aku mempunyai sahabat baik bernama Vano. Arsen dan Vano memang tidak dekat. Jika mereka bertemu, mereka juga tidak akur. Suatu saat, Vano melewati batasnya padaku. Aku yakin kau tau dia melewati batas seperti apa" Natali menatap Rose. Kemudian dia menatap lurus ke depan.


"Aku meminta pertanggung jawaban dia. Akhirna aku menikah dengan Vano. Kami mempunyai perjanjian. Jika dalam 3 bulan aku tidak hamil, maka kami harus bercerai. Karna dalam 3 bulan itu, Vano akan menikah dengan kekasihnya. Saat itu aku sudah sangat senang karna sudah 3 bulan, dan aku tidak menunjukkan gejala hamil" Natali mengubah pandangannya. Dia menatap ke bawah.


"Na'asnya, dihari pernikahan Vano, aku pingsan dan aku dinyatakan hamil. Keluarga Vano terkejut. Aku mengatakan kalo anak yang ku kandung ini adalah anak Vano. Namun mereka tidak percaya. Vano malah menuduh anak yang ku kandung adalah anak Zain. Karna dia pernah melihat Zain di rumahku. Dari situ aku kecewa pada semua orang"


Rose bungkam. Dia bingung harus merespon bagaimana.


"Sama seperti dirimu. Aku meminta Vano bertanggung jawab atas anakku. Aku ingin anakku memiliki nama ayahnya. Saat itu Zain sedang tidak di Indonesia. Aku sangat membutuhkannya. Tapi entah bagaimana, dia bisa dengan cepat ada di sisiku. Zain mengurus perceraianku dengan Vano. Dia berkelahi dengan Vano. Aku memintanya membawaku pergi. Aku sudah tidak kuat tinggal bersama orang yang tidak mempercayaiku. Dan akhirnya aku di sini. Zain bersedia menerima anakku. Perlahan aku pun jatuh cinta padanya. Dan akhirnya aku bahagia hidup bersama Zain. Aku sadar, aku sudah memilih jalan yang tepat hidup bersama Zain.


Rose terdiam.


"Jadi, waktu kau keguguran itu, saat kau sedang mengandung anak Vano?" tanya Rose.


"Ya" jawan Natali singkat.


Rose tidak menyangka hidup Natali seberat itu.


"Kau beruntung karna Zain tidak seperti Vano"


Rose menatap Natali.


Natali nerusaha menetralkan kembali pikirannya. Dia tidak mau bersedih hanya karna mengingat masalalunya yang kelam.


"Anakmu dan anakku akan menjadi kaka adik. Aku senang karna anakku akan mendapat saudara" Natali tersenyum.


"Natali, jika suatu saat aku tidak ada, tolong jaga anakku. Kau maukan, menjadi ibu untuknya?" pinta Rose.


Dahi Natali mengerut.


"Apa maksudmu?"