VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Baikan



Zain mencoba menenangkan Natali dengan terus mengusap punggungnya.


"Si-siapa kalian?" tanya para pembajak itu.


"Berani sekali kalian melakukan ini"


"Hajar mereka"


Para pembajak mulai menyerang anak buah Zain. Namun para pembajak itu bukanlah tandingan Zain. Mereka tidak ada apa-apanya bagi anak buah Zain. Mereka bagai debu yang langsung hilang ketika ditiup angin.


Kini semua pembajak sudah ditaklukkan. Mereka semua dikumpulkan di depan Zain dan Natali.


Perlahan tangis Natali mulai berhenti. Dia menatap para pembajak itu yang sudah kalah dari anak buah Zain.


Sam mendekat pada Leo dan mengatakan semua yang terjadi. Dia juga mengatakan apa yang Natali katakan pada para pembajak itu. Setelah mendapat bisiskan dari Sam, Leo mendekat ke arah Zain. Dia membisikan apa yang Sam bisikan padanya.


Seketika amarah Zain memuncak. Dia sangat marah mendengar apa yang dilaporkan oleh Leo.


"Se-sebenarnya siapa kalian? Kenapa kalian menyerang kami?" tanya bos pembajak.


Leo maju ke arah bos pembajak itu dan..


Bugh..


Leo memvkul bos pembajak itu dengan keras. Semua orang ketakutan melihat Leo memukul bos pembajak.


"Dengar, pisahkan tangannya dari badannya. Robek mulutnya hingga dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Gantung kepalanya ditiang lampu jalan. Sebarkan tubuhnya untuk dimakan anj1ng liar" titah Zain.


Seketika semua orang menjadi ricuh. Mereka sangat takut dengan ucapan Zain.


"Tu-tuan,, ampuni aku. Aku mengaku aku salah. Aku minta maaf. Aku sangat menyesali perbuatanku ini" mohon bos pembajak itu.


"Kau tidak pantas mendapat maaf dariku. Kau sudah berani mencoba menyentuh istriku. Kau sudah melukai istriku. Kau harus menanggung akibatnya" ucap Zain.


"Nyonya,, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf nyonya. Aku hilap..."


Bos pembajak itu mendekat pada kaki Natali. Namun..


Bugh..


Zain menend4ng kepala bos pembajak itu dengan kuat. Bos pembajak tersungkur ke belakang. Hingga hidungnya berdarah.


"Jangan berani mendekat pada istriku. Atau kau akan m4t1 mengenaskan sekarang juga"


Zain membawa Natali keluar dari pesawat itu. Leo mengikuti langkah Zain.


Zain membawa Natali ke mobil lewat jalan pintas. Zain meminta Natali masuk ke dalam mobil terlebih dulu. Natali memegang ujung baju Zain, pertanda dia tidak mau ditinggalkan.


"Aku akan berbicara sebentar dengan Leo" ujar Zain.


Tanpa berucap, Natali melepaskan tangannya.


Zain berbicara dengan Leo.


"Selidiki perempuan berambut orange yang duduk di ujung sebelah kanan. Diam-diam dia mengambil fotoku dan Natali. Setelah itu, bawa dia ke tempat biasa" titah Zain.


"Baik tuan" patuh Leo.


"Dan lagi,, suruh orang untuk mengurus mereka semua. Aku akan pergi"


"Baik tuan. Aku akan menyuruh orang untuk membereskan semua ini. Aku akan mengantarmu dan menyuruh anak buah agar mengawalmu pergi"


"Hem.."


Setelah berbicara dengan Leo, Zain masuk ke mobil. Dia duduk di sebelah Natali, di kursi penumpang. Zain melihat Natali yang masih sesekali menangis dan mengusap air matanya.


Natali tau Zain duduk di sebelahnya, namun dia memilih untuk melihat keluar jendela. Natali memainkan ujung kemejanya.


Zain menggenggam tangan Natali. Dia tau sekarang Natali masih sangat syok.


"Sayang.." panggil Zain lembut.


Mendapat panggilan lembut dari Zain, seketika Natali tidak bisa membendung air matanya. Dia kembali menangis.


"Hiks,, hiks,, hiks.."


Zain kaget saat Natali kembali menangis. Dia pun memeluk Natali.


"Syut,, udah,, jangan nangis lagi.." ucap Zain menenangkan Natali.


"Syut,, cup,, cup,, cup,, udah dong.." Zain seperti sedang menenangkan anak kecil yang menangis karna kehilangan mainannya.


"Ih.." Natali memvkul dada Zain.


"Aw.." pekik Zain.


"Kamu,, istrinya lagi nangis juga. Bukannya ditenangin, ini malah dibercandain.." keluh Natali melepaskan pelukannya.


"Ih,, aku gak bercandai kamu. Aku ini lagi nenangin kamu lho.." balas Zain.


Natali tidak memperdulikan ucapan Zain. Dia kembali menatap ke arah luar.


Zain tersenyum melihat Natali. Dia tau dia memang salah, dalam pertengkarannya dengan Natali.


Zain membalikkan tubuh Natali. Dia menatap mata Natali dengan teduh. Zain menggenggam tangan Natali.


"Sayang,, maafin aku ya. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak mengatakan itu" sesal Zain.


"Ya. Kau memang salah. Kau sudah mengusirku" balas Natali.


"Iya,, aku minta maaf karna sudah mengusirmu"


"Kau juga salah karna tidak mencegahku"


"Aku juga salah karna tidak mencegahmu"


"Kau juga salah karna tidak mencariku"


"Aku juga salah karna tidak mencarimu"


"Kau datang terlambat"


"Aku salah karna datang terlambat"


Natali mengabsen setiap kesalahan Zain. Dan Zain, dia hanya bisa pasrah menerima setiap kesalahan yang diabsen oleh Natali.


"Aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Kau mau kan memaafkanku?" ucap Zain mengangkat jari kelingkingnya.


"Kau janji tidak akan melakukan itu lagi?" tanya Natali memastikan.


"Ya. Aku berjanji padamu" jawab Zain dengan pasti.


"Baiklah. Aku memaafkanmu" Natali mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Zain.


Zain tersenyum. Dia langsung memeluk Natali dengan erat. Natali membalas pelukan Zain. Tak lama pelukan mereka terlepas. Zain melihat sudut bibir Natali berdarah. Dia menjadi marah melihat itu. Natali tau kalo Zain melihat bibirnya.


"Ini tidak papa kok Zain. Tidak sakit juga" ucap Natali.


"Maafkan aku karna tidak bisa menjagamu dan calon anak kita dengan baik" ucap Zain menundukkan kepalanya.


"Tidak Zain, kau menjaga kami. Iya kan sayang.." Natali memegang tangan Zain dan mengeluskannya pada perut Natali.


Zain tersenyum. Dia merasakan perut Natali sedikit membesar. Ya,, meskipun masih terlihat rata.


Zain meraih tengkuk Natali dan mulai melvma4 bibir mungilnya. Zain membersihkan darah yang ada di bibir Natali dengan air liurnya. Sesekali Natali membalas permainan Zain.


Setelah 5 menit, keduanya melepaskan tautan yang tersambung. Zain mengusap bibir Natali yang basah akibat ulahnya.


"Kenapa kita belum pulang?" tanya Natali.


"Leo akan mengantar kita" jawab Zain.


"Lalu di mana Leo? Kenapa dia belum ke sini?"


"Dia sedang mengurus sedikit urusan. Sebentar lagi dia ke sini"


Tak berselang lama, Leo masuk ke dalam mobil.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu, tuan, nyonya" ucap Leo.


"Tidak apa" balas Natali.


"Kita langsung pulang saja" intruksi zain.


"Baik tuan"


Leo menjalankan mobil Zain menuju mansion milik Zain. Mobil Zain dikawal oleh 4 mobil anak buah Zain yang lain.