VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Sakit 2



Bram dan Julia sudah seperti orang tua Vanya. Mereka sering berkunjung ke rumah Vanya. Oleh sebab itu mereka sudah apa seluk beluk rumah Vanya. Mereka juga tak segan berada di rumah Vanya. Jika mereka berkunjung, mereka tidam seperti tamu. Tapi mereka seperti pemilik rumah. Dan Vanya lah yang seperti tamu. Dia akan dimanjakan oleh Julia dan Bram.


Bram dan Vano duduk di ruang tamu, Julia pergi ke dapur untuk menaruh makanan yang dia bawa. Sementara Vanya bingung harus bagaimana. Karna biasanya dia akan ikut duduk bersama Bram dan Vano. Tapi saat ini dia enggan untuk bergabung bersama mereka. Vanya memutuskan untuk membantu Julia di dapur.


"Tan,, Vanya bantu ya" aju Vanya.


"Gak usah sayang. Kamu kan lagi sakit, mending kamu duduk sama Om dan Vano aja. Nanji tante bawain kamu makanan" tolak Julia.


"Enggak tan. Vanya mau bantu tante" balas Vanya.


"Gak usah sayang,, mending kamu duduk aja"


"Tan,, Vanya mau bantu tante.." kekeh Vanya.


"Hem.." Julia menghembuskan nafas pasrah. "Baiklah. Kalo begitu, tolong ambilkan mangkuk ya sayang.." pasrah Julia mengalah.


"Baik tantenku yang cantik.." balas Vanya dengan tersenyum.


Vanya melangkah untuk mengambil mangkuk. Namun baru satu langkah, dia merasakan pusing ke kepalanya. Pandangannya menjadi kabur. Vanya memegang kepalanya.


Bruk..


Vanya pun pingsan.


"Vanya.." pekik Julia.


Bram dan Vano terlonjak kaget saat mendengar suara Julia.


"Ma.." ujar Bram dan Vano bersamaan.


Mereka berdua segera menghampiri Julia di dapur. Tampak Julia yang sedang berjongkok didekat Vanya.


"Vanya.." ujar Vano dan Bram.


"Ma,, Vanya kenapa?" tanya Vano panik.


"Gak tau, tadi dia maksa mau bantu mama. Akhirnya mama suruh Vanya bawain mangkuk. Tapi tiba-tiba Vanya pingsan" jelas Julia.


"Van, angkat Vanya ke kamarnya" titah Bram.


"Baik pah.." setuju Vano.


Vano menggendong tubuh Vanya ke kamar Vanya. Vano membaringkan tubuh Vanya yang tidak berdaya itu.


"Vanya,, kamu kenapa sayang?" tanya Julia khawatir.


"Van,, lo kenapa?"


"Ma, papa telpon dokter ya" ujar Bram.


"Iya pah.." setuju Julia.


Bram menelpon dokter lalu dia pergi keluar untuk menjemput dokter itu. Julia dan Vano masih berusaha untuk membuat Vanya sadar. Julia memberi Vanya minyak aroma terapi guna menyadarkan Vanya.


"Eum.." Vanya mulai sadar dari pingsannya.


"Van,, kamu udah sadar sayang?" tanya Julia.


Vanya berusaha memperjelas pandangannya.


"Air, Vano cepat ambilkan air" titah Julia.


"Iya ma" balas Vano.


Vanya bisa melihat bagaimana kekhawatiran Julia padanya.


"Van,, kamu kenapa sayang? Harusnya kalo kamu sakit, bilang sama tante. Jangan nyiksa diri kamy sendiri" Julia sangat khawatir pada Vanya.


"Tan,, Vanya gak papa kok. Vanya udah bilangkan, Vanya cuma kecapean aja. Tante jangan lebay ah.." balas Vanya dengan candaan.


"Kamu ini,, lagi sakit juga, masih aja bercanda"


"Vanya gak papa. Vanya cuma butuh istirahat aja"


Julia menatap Vanya dan mengelus rambutnya.


"Ma, ini minumnya" ujar Vano yang baru datang mengambil air.


Tatapan Vanya dan Vano bertemu. Vanya langsung membuang mukanya saat bertatapan dengan Vano.


Julia menerima air yang Vano bawa.


"Sayang, minum dulu ya" Julia memberi Vanya minum.


Vanya pun diperiksa oleh Adi.


"Gimana Di? Apa Vanya baik-baik saja?" tanya Julia saat Adi sudah selesai mengecek Vanya.


"Vanya tidak baik-baik saja. Saat ini kondisinya masih sangat lemah. Aku yakin, selama beberapa hari ini Vanya tidak makan dengan teratur dan minumpun tidak teratur. Ditambah Vanya mengalami demam. Hal itu membuat Vanya dehidrasi atau kekurangan cairan pada tubuhnya. Aku sarankan agar Vanya melakukan rawat inap di rumah sakit" jelas Adi.


"Ya sudah, kalo begitu ayo kita ke rumah sakit" ajak Bram.


"Apa! Tidak perlu om. Aku baik-baik saja. Aku tidak perlu ke rumah sakit" tolak Vanya.


"Sayang,, kamu harus di rawat di rumah sakit. Ini demi kesembuhanmu" bujuk Julia.


"Tapi tan,, Vanya juga bisakan istirahatnya di rumah aja. Gak perlu ke rumah sakit. ya kan om?" Vanya memanggil Adi dengan sebutan om. Karna umur Bram dan Adi tidak jauh beda.


"Vanya, sebaiknya kamu dirawat saja" balas Adi.


"Hah,, bagaimana ini?" bingung Vanya.


Vanya tidak mau jika harus masuk rumah. Jika dia sakit, biasanya dia meminta Vano untuk membujuk Julia dan Bram agar dia tidak masuk rumah sakit. Tapi saat ini, dia tidak mau meminta Vano melakukan hal itu.


Julia dam Bram terus berusaha agar Vanya mau dirawat. Namun jawaban Vanya masih tetap sama, yaitu 'tidak mau'.


Tanpa ada yang menyuruh, Vano maju ke arah Vanya dan dia langsung menggendong Vanya.


"Ahk.." pekik Vanya yang kaget saat tiba-tiba Vano menggendongnya.


Vano langsung membawa Vanya turun ke bawah. Julia, Bram dan Adi hanya menatap Vanya dan Vano dengan heran. Tidak biasanya Vano bersikap seperti itu.


"Van, lo apa-apaan sih! Turunin gue" titah Vanya tidak terima.


"Diem lo. Lo harus dirawat di rumah sakit" balas Vano dengan dingin. Dia sudah jengah dengan Vanya yang selalu menolak dibawa ke rumah sakit.


"Gue gak mau" tolak Vanya.


"Lo marah sama gue, lampiasin ke gue. Jangan ke tubuh lo. Tubuh lo gak salah apapun" ujar Vano.


Vanya bungkam. Memang benar dia marah pada Vano. Dan dia juga salah karna sudah menjadikan tubuhnya sebagai korban dari kemarahannya.


Vano memasukan Vanya ke dalam mobilnya. Kemudian Vano menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Bram, Julia dan Adi mengikuti dari belakang.


Singkat cerita, kini Vanya sudah ada di dalam kamar rawatnya di rumah sakit.


"Van, kamu harus jaga kesehatan kamu ya sayang. Kamu dengerkan apa kata dokter tadi? Jangan bekerja terlalu keras, jangan kecapean, jangan telat makan"


"Iya tan, Vanya denger kok" balas Vanya.


"Van, maaf ya. Om harus pergi, ada meeting penting. Om gak bisa nungguin kamu di sini" ucap Bram.


"Tante juga minta maaf ya sayang, tante juga ada urusan. Tante gak bisa nemenim kamu di sini" timpal Julia.


"Iya,, gak papa kok om,, tante. Vanya udah sembuh kok. Kalian gak usah khawatir" balas Vanya.


"Udah sembuh gimana? Orang baru juga masuk ke rumah sakit" celetuk Julia.


"Heheh.." Vanya tersenyum mendengar celetukan Julia.


"Ma,, pah,, kalian gak usah khawatir. Vano akan di sini nemenin Vanya" ujar Vano tiba-tiba.


Vanya menatap Vano dengan heran.


"Ya sudah, kalo ada Vano di sisi kamu, tante jadi khawatir"


"Kami pamit ya.." ucap Bram.


"Van, tolong jaga Vanya ya" ucap Julia.


"Iya ma" balas Vano.


Julia dan Bram pergi dari kamar Vanya. Dan terisalah Vanya dan Vano di kamar itu. Keduanya saling diam. Tak ada yang ingin memulai percakapan.


"Van.." panggil Vano.


"..." tak ada jawaban dari Vanya.


"Van.." Vano mencoba memanggil Vanya lagi.


"..." masih tak ada jawaban dari Vanya.


Vano tau Vanya sangat marah padanya. Dia pun memaklumi itu.