VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Cerai



"Sekarang, lo ganti baju. Gue bakalan nyiapin sarapan buat lo" ucap Arsen.


"Iya" Vanya menganggukkan kepalanya.


Arsen keluar dari kamar Vanya. Dia berjalan menuju dapur. saat sudah cukup jauh dari kamar Vanya, Arsen menelpon seseorang dari ponselnya.


"Hallo bos"


"Segera urus surat cerai Vanya dan Vano. Aku ingin surat cerai itu sudah siap dalam 1 jam" titah Arsen.


"Baik bos"


Arsen menggenggam ponseknya dengan kuat.


"Setelah Vanya cerai dari lo, gue bakalan bawa Vanya pergi sejauh mungkin. Gue gak akan biarin lo ketemu Vanya lagi" tekad Arsen.


Arsen melanjutkan langkahnya menuju dapur. Sesampainya di dapur, Arsen bingung harus memasak apa. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat omlet saja. Dia rasa, Vanya akan bosan jika dia memasak nasi goreng lagi untuknya.


Setelah omlet selesai, Vanya pun juga turun untuk sarapan.


"Eum,, baunya sangat enak" ujar Vanya.


"Tentu saja. Masakan buatan gue selalu enak"


"Gue bilang baunya yang enak, bukan masakannya" balas Vanya.


"Sama aja"


Vanya dan Arsen sarapan dengan tenang. Sampai akhirnya mereka menghabiskan makanan mereka.


"Kepala lo masih sakit?" tanya Arsen.


"Sedikit. Gue minum obat aja. Nanti sakitnya juga ilang" balas Vanya.


"Jangan minum sembarang obat Van. Lo itu lagi hamil. Bisa bahaya kalo lo minum obat yang salah" ucap Arsen.


Vanya tersenyum. Dia tak menyangka Arsen akan menghkawatirkan itu. Bahkan Vanya sendiri tak menyadarinya.


"Ya udah. Gue gak akan minun obat deh" balas Vanya.


"Gini aja. Nanti gue beli obat sakit kepala khusus buat ibu hamil, gimana?" usul Arsen.


"Boleh tuh" setuju Vanya.


Saat Vanya dan Arsen sedang mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang menekan bel rumah Vanya. Sontak Vanya dan Arsen melihat ke arah pintu.


"Siapa itu?" tanya Arsen.


"Gue gak tau" balas Vanya.


"Lo tunggu di sini. Gue yang buka pintunya"


"Iya"


Arsen pergi membuka pintu. Ternyata, anak buah Arsen lah yang mengetuk pintu itu. Dia memberika surat cerai milik Vanya.


"Kau sudah mengurusnya?" tanya Arsen.


"Sudah bos. Nona Vanya dan tuan Arsen hanya perlu menandatanganinya saja"


"Hm,, bagus. Kau tunggu di sini"


"Baik bos"


Arsen kembali ke dalam rumah dan menghampiri Vanya.


"Siapa Sen?" tanya Vanya.


"Anak buah gue" jawab Arsen.


"Anak buah?" gumam Vanya bingung.


"Ini" Arsen menyodorkan surat itu pada Vanya.


"Apa ini?" tanya Vanya bingung mendapat surat beramplopkan warna coklat.


"Lo buka aja" balas Arsen.


Vanya membuka isi dari amplop itu. Dia membaca surat yang ada di dalamnya.


"Surat cerai?" tanya Vanya.


"Ya"


"Tapi,, gimana bisa?" Vanya sangat bingung.


"Lo bilang, lo mau secepetnya cerau dari Vano kan? Dan gue udah bilang, gue bakalan bantu supaya lo bisa cepet cerai dari Vano" jelas Arsen.


"Tapi ini mustahil Sen"


"Van, dengerin gue. Lo mau terus terikat sama Vano? Lo mau tersiksa lagi? Lo mau bayi lo menderita dalam pernikahan lo?"


"Ya udah, lo harus tanda tangan surat ini. Atau jangan-jangan lo masih cinta sama Vano?"


"Gak. Gue gak cinta sama Vano. Gue benci dia. Gue akan tanda tangan surat ini"


Vanya mengambil pulpen dan segera menandatangani surat cerai itu.


Arsen mengambil surat cerai itu dan memasukannya kembali ke dalam amplop.


"Sekarang tinggal Vano yang harus tanda tangan surat ini. Gue akan suruh anak buah gue kasih surat cerai ini ke Vano"


Vanya menganggukkan kepalanya.


Arsen memberikan surat cerai itu pada anak buahnya lagi. Vano sengaja mengirimkan surat itu ke rumah keluaga Bazla. Biar mereka tau, Vanya tidak berbohong. Mereka akan menyesali apa yang mereka lakukan dan katakan pada Vanya. Setelah mereka sadar, Arsen akan membawa Vanya pergi jauh. Sehingga mereka akan menyesal seumur hidup mereka.


"Van, you okay?" tanya Arsen.


"Yes. I am okay" jawab Vanya.


"Gue mau pergi sebentar beli obat buat lo. Lo mau ikut gak?"


"Gak ah. Gue di rumah aja"


"Ya udah. Lo mau nitip apa?"


"Eum,, gak deh. Gue gak pengen makan apapun"


"Ok, gue pergi ya"


"Iya"


Arsen pergi meninggalkan rumah Vanya untuk membeli obat.


Vanya memilih untuk menonton tv untuk menghibur dirinya.


Di kediaman Bazla.


Semua keluarga Bazla sedang berkumpul di taman belakang. Mereka masih dalam suasana senang karna mendapat anggota keluarga baru, yaitu Helen.


Namun Vano sedikit kecewa saat malam pertamanya. Bukan karna dia tidak melakukan malam pertama sebagai suami istri. Tapi karna dia mengetahui kalo Helen sudah tidak perawan lagi. Ada sedikit rasa kecewa terselip di hati Arsen.


Rasanya berbeda seperti saat dia melakukan itu pada Vanya. Saat melakukan itu pada Vanya Arsen merasa bangga karna dia yang pertama kali melakukan itu pada Vanya.


Keluarga Bazla sedang mengobrol santai. Helen sedang ke kamar mandi.


"Permisi tuan" ucap pelayan pada Vano.


"Ya" balas Vano.


"Ini, ada kiriman buat tuan Vano"


"Kiriman apa?"


"Tidak tau tuan"


"Baiklah kau bisa pergi"


"Baik tuan, saya permisi" pelayan itu pergi.


Vano menerima amplop yang diberikan oleh pelayan itu. Dia pun membuka dan mengeluarkan isi amplop itu. Vano membaca isi surat itu. Vano membelalakan matanya setelah membaca isi surat itu. Ekspresinya menjadi kaget dan panik.


Julia, Bram dan Dion menyadari perubahan ekspresi Vano.


"Van,, ada apa?" tanya Julia.


"Van.." panggil Bram.


Vano terpaku di tempatnya. Dia bingung harus bersikap apa.


Bram merebut surat yang ada di tangan Vano. Bram membaca isi surat itu. Julia dan Dion juga ikut membaca isi surat itu. Semua orang tak kalah kaget setelah membaca surat itu.


"Van, apa maksudnya ini Van?" tanya Julia.


"Jadi bener, kamu dan Vanya sudah menikah?" tanya Bram.


"Jawab kak. Lo dan Vanya bener udah nikah?" timpal Dion.


Vano tersadar dan dia segera mengambil surat yang ada di tangan Bram. Vano pun pergi tanpa kata.


"Vano..."


"Vano,, mau ke mana kamu?"


Julia dan Bram terus memanggil Vano. Namun Vano tidak mendengarkan panggilan mereka.


Saat itu Helen baru datang.


"Mah,, pah,, Vano ke mana?" tanya Helen.