
Helen tersenyum. Seketika dia mendapat angin segar.
"Arsen,, tolong aku. Mereka semua menculikku. Aku sangat takut" pinta Helen.
"Di mana suami bodohmu?" tanya Zain.
"Suami? Maksudmu Vano?"
"Siapa lagi? Memang ada laki-laki bodoh lain yang ingin kenikahimu selain Vano?"
"Aku sudah bercerai dengan Vano. Dia bukan lagi suamiku"
"Kalo begitu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu"
"Kau benar. Tapi kau akan menyelamatkanku kan?" ucap Helen sambil tersenyum.
"Heheh,, mimpi kau" Zain tersenyum miring.
"Apa maksudmu Arsen? Kau tidak mau menyelamatkanku?" tanya Helen.
"Tidak"
"Jangan bilang,, mereka semua adalah anak buahmu yang sama saat di pesawat itu? Kau juga bersama dengan Vanya kan di sana?"
"Jadi benar kau mengambil fotoku dan juga istriku?"
Helen bungkam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Zain.
"Kenapa kau diam?" tanya Zain.
"Tidak. Aku tidak mengambil fotomu. Tunggu, kau bilang istri? Apa Vanya si wanita benalu itu adalah istrimu?"
Ucapan Helen membuat Zain marah. Tiba-tiba,,
Bugh..
Leo Zain memvkul Helen dengan keras hingga Helen tersungkur ke lantai.
Helen merasa pusing. Seketika dia sadar Zain bukan orang biasa.
"Berani sekali kau menyebut istriku sebagai benalu. Kau lah wanita benalu, dasar j4l4n9 murahan" sinis Zain.
Helen terdiam.
"Siapa kau sebenarnya? Kau tiba-tiba menghilang bersama Vanya" tanya Helen.
"Kau tidak perlu tau. Yang jelas, kau sudah melakukan kesalahan besar dengan datang ke Italia. Kau salah sudah mengambil fotoku dan Natali" jawab Zain.
"Natali? Siapa dia? Dia Vanya, bukan Natali. Dan kau Arsen. Bukan Zain"
"Kau salah lagi. Sudah kubilang, aku bukan Arsen. Tapi Zain. Dan dia istriku, Natali. Bukan Vanya"
Helen terdiam.
"Aku ingat, istriku sering mengeluh karnamu. Dia bilang, Vano selalu membela wanita j4l4n9 sepertimu. Hingga dia tidak percaya lagi pada istriku. Kau juga pernah menuduhnya mendorongmu kan?" ucap Zain.
"Tidak. Aku tidak pernah melakukan itu" sangkal Helen.
"Oh,, benarkah? Kalo begitu, apa istriku yang berbohong?"
"Ya. Dia yang berbohong. Dia itu pembohong besar"
Zain menajamkan matanya. Helen menjadi ketakutan mendapat tatapan dari Zain.
"Aku sudah muak denganmu" ujar Zain. "Leo, urus dia. Terserah apa yang ingin kau lakukan padanya, lakukan saja" titah Zain.
"Baik tuan"
Zain meninggalkan ruangan di mana Helen berada.
"Arsen,, jangan pergi. Tolong aku,, keluarkan aku dari sini.." teriak Helen.
Leo maju ke depan Helen. Dia mengamati Helen.
"Dari tubuhmu, sepertinya kau sering celap celup. Benarkan?" tebak Leo.
"Apa maksudmu? Celap celup apa?" tanya Helen ketakutan.
"Ck,, jangan pura-pura bodoh. Aku tau kau mengerti apa yang aku katakan" balas Leo dengan jengah.
Helen terdiam.
"Hei, berapa orang anggota kita yang ada di sini?" tanya Leo.
"Sekitar 30 orang tuan"
"Heheh,, bagus. Suruh mereka semua ke sini" titah Leo.
"Baik tuan"
Tak lama semua anak buah Zain sudah berkumpul.
"Tuan Zain punya hadiah untuk kalian" jawab Leo.
"Hadiah? Hadiah apa tuan?"
Leo menggerakkan kepalanya menunjuk Helen. Seketika Helen menjadi takut.
"Benarkah tuan?"
"Ya. Nikmatilah. Tapi ingat, jangan sampai dia m4ti. Jika sudah selesai, buang dia ke tengah gurun. Pastikan selama 1 minggu tidak ada yang melihatnya"
"Baik tuan"
Setelah memberi perintah, Leo pergi meninggalkan Helen dengan anak buah yang lain.
Helen sangat ketakutan mendengar ucapan Leo. Dia menyesal sudah datang ke Italia.
Leo masuk ke dalam mobil Zain. Zain menyunggingkan senyum tipis. Dia tau apa yang dilakukan Leo pada Helen. Saat dia melihat semua anak buahnya masuk ke dalam ruangan di mana Helen berada, dia langsung tau apa rencana Leo.
"Kau tidak ikut dengan mereka?" tanya Zain.
"Tidak tuan. Wanita itu bukan tipeku. Aku tidak berselera melihatnya" balas Leo.
"Heheh.." Zain tertawa kecil.
"Ke mana tujuanmu tuan?" tanya Leo.
"Ke mansion. Natali pasti sudah bangun. Dia akan mencariku saat tidak melihatku di rumah" jawab Zain.
"Baik tuan"
Di tempat lain.
Natali menuruni anak tangga untuk ke ruang makan. Setelah di ruang makan. Dia melihat ada banyak sekali makanan yang tersedia. Natali pun segera mengambil makanan itu ke atas piringnya. Tak lama bi Lusy datang.
"Nyonya.." sapa bi Lusy.
"Hai bi" balas Natali.
Bi Lusy mendekat pada Natali dan membantunya mengambil makanan.
"Eh,, tidak usah bi. Biar aku saja" cegah Natali.
"Tidak nyonya, biar bibi saja" tolak bi Lusy.
"Aku bisa sendiri bi"
"Baiklah nyonya.."
Natali makan dengan lahap. Bi Lusy memperhatikan Natali yang sedang makan.
"Bi, ayo sini ikut makan" ajak Natali.
"Tidak nyonya, bibi sudah makan" tolak Natali.
Natali menganggukkan kepalanya.
"Bibi sangat senang nyonya kembali, ke rumah ini" ujar bi Lusy.
"Aku juga senang bisa kembali ke sini bi" balas Natali. "Rose mana?" tanyanya.
"Non Rose ada di kamarnya. Mau bibi panggilin?"
"Gak usah bi"
Bi Lusy menganggukkan kepalanya.
"Bi, Zain ke mana? Aku tidak melihatnya" tanya Natali.
"Tuan Zain tadi pergi bersama tuan Leo" jawab bi Lusy.
"Udah lama bi?"
"Lumayan. Saat tuan Zain mengantar nyonya Natali ke kamar, tuan Zain langsung pergi. Mungkin sebentar lagi pulang"
Natali menganggukkan kepalanya. Bi Lusy pergi ke belakang.
Makanan yang ada di piring Natali sudah habis.
"Ah,, kenyangnya.." ujar Natali mengelus perutnya.
"Sayang, kamu sudah tidak laparkan?" tanya Natali sambil mengelus perutnya.
Di tempat dan waktu yang berbeda.
"Vanya? Ini Vanya kan?" gumam seorang pria.
"Akhirnya aku menemukan Vanya. Aku sangat senang bisa melihatmu kembali Vanya. Maafkan semua kesalahanku. Aku akan membawamu kembali. Aku akan membuatmu bahagia hidup bersamaku"