
"Hahahah..." Zain masih saja tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Natali.
"Kau tau, kau itu sangat lucu. Hahah.." jawab Zain yang masih saja tertawa.
"Lucu apanya? Aku sedang tidak membuat lelucon"
"Hahahah.."
"Berhentilah tertawa. Kau menakutiku"
"Hahah,, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya tertawa karena gemas melihatmu"
Natali mengerutkan keningnya. Zain berhenti tertawa dan berjalan menuju Natali. Dia menatap Natali dengan lekat.
"Dengar, keluargaku sudah tidak ada. Kini aku hanya mempunyai nenek saja" ucap Zain.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih" sesal Natali.
"Tidak. Aku tidak sedih kok. Aku biasa saja. Malah aku bahagia. Dengan kau bertanya di mana keberadaan keluargaku, itu berarti kau perduli padaku" balas Zain.
Natali tersenyum.
"Lalu di mana nenekmu?" tanya Natali.
"Ada di rumah sakit"
"Apa! Dia sakit?"
"Iya"
"Dia sakit apa?"
"Ya,, faktor usialah,, karna nenekku bukan gadis berusia 17 tahun"
"Aku ingin bertemu dengannya. Bisa kau membawaku bertemu dengan nenekmu?" pinta Natali.
"Tentu saja. Besok kita bertemu dengannya" setuju Zain.
"Asik.." balas Natali antusias.
Zain menatap lekat wajah Natali. Hal itu membuat Natali gugup.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Natali gugup.
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini Natali" ucap Zain.
"Mengatakan apa? Katakan saja. Aku tidak akan melarangmu"
Zain menggenggam tangan Natali. Kedua matanya menatap mata Natali dengan lekat.
"Aku mencintaimu. Bersediakan kau menikah denganku?" ungkap Zain.
Natali membulatkan matanya mendengar ungkapan perasaan Zain.
"Kau serius?" tanya Natali dan diangguki oleh Zain.
"Tapi Zain, kau taukan aku ini janda. Aku sedang mengandung. Aku juga sudah tidak perawan lagi. Bagaimana bisa kau mencintaiku?" tanya Natali.
"Aku tak perlu alasan untuk mencintaimu. Aku tak perlu status untuk mencintaimu. Aku juga tak perlu kesucian untuk mencintaimu. Aku sudah lama sekali mencintaimu. Aku mencintaimu apa adanya. Begitupun juga bayimu. Aku tidak perduli bayi itu bayi Vano. Yang jelas, aku ingin menjadi ayah dari bayi itu" ucap Zain dengan tulus.
"Aku tidak menyangka perasaanmu sedalam itu" Natali terharu pada ucapan Zain.
"Will you marry me?"
"Yes. I will" balas Natali.
Zain tersenyum bahagia. Akhirnya Natali menerimanya. Dan sebentar lagi mereka akan menikah.
Zain memeluk Natali sebagai ungkapan bahagianya.
"Terima kasih karna sudah menerimaku dan bayiku" ucap Natali"
"Mulai sekarang jangan sebut bayi itu bayimu. Tapi bayi kita"
Natali menganggukkan kepalanya.
Pelukan mereka terlepas.
"Tentu saja. Tak ada alasan untuk nenekku tidak menerimamu" jawab Zain.
"Lalu dengan bayiku?"
"Bayi kita. Ingat, bayi kita"
"Iya. Maksudku bayi kita. Bagaimana jika nenekmu tidak menerima kehadirannya?"
"Nenekku akan menerima bayi kita. Dia akan sangat senang"
"Benarkah?"
"Ya. Tentu saja"
"Huh,, aku senang saat kau mengatakan itu"
Natali tersenyum.
Zain memegang wajah Natali dan menatap mata Natali dengan lekat. Tatapan Zain terarah pada bibir ranum milik Natali. Natali tau apa yang Zain inginkan. Namun Zain pasti menunggu persetujuan dari Natali.
Natali berjinjit dan..
Cup,,
Natali menempelkan bibirnya pada bibir Zain. Zain kaget karna Natali tau keinginannya. Karna sudah mendapat lampu hijau dari Natali, Zain pun tak ingin melepaskan kesempatan itu.
Zain menahan tengkuk Natali dan memperdalam c*uman mereka. Mereka melakukan c*uman dengan lembut. Namun perlahan c*uman lembut itu berubah menjadi panas. Zain mendominasi c*uman yang panas itu.
Tubuh Natali meremang. Natali mengalungkan tangannya pada leher Zain. Zain menggendong tubuh Natali dan membawanya ke kamar Zain dengan c*uman yang tidak mau terlepas.
Sesampainya di kamar, Zain menidurkan Natali. Keduanya melepaskan tautan bibir mereka. Mereka sudah terbakar api gairah yang memburu.
Keduanya mengatur nafas mereka. Mereka sadar ini sudah terlalu jauh. Mereka bisa saja kelepasan dan melakukan hubungan.
"Zain.."
"Nat.."
Natali dan Zain memanggil satu sama lain secara bersamaan. Mereka bertatapan. Mereka langsung mengerti kalo pemikiran mereka sama. Mereka pun tersenyum. Zain menidurkan tubuhnya di sebelah Natali lalu memeluknya.
"Aku ingin menyentuhmu saat kita sudah resmi menjadi suami istri" ujar Zain.
Natali tersipu mendengar ucapan Zain.
"Maka percepatlah pernikahan kita" ucap Natali.
Ucapan Natali terdengar seperti sebuah permintaan. Itu berarti Natali sudah siap untuk segera menikah dan hidup bersama Zain untuk selamanya.
"Ya. Aku akan segera menikahimu" ucap Zain tersenyum.
"Aku mengantuk" ujar Natali.
"Tidurlah di sini. Aku akan tidur di sofa" balas Zain bangkit dari tidurnya.
"Kenapa harus di sofa? Tidur di sini saja. Bersamaku" cegah Natali menahan tangan Zain agar tidak bangun.
"Memangnya boleh?"
"Tentu saja. Entah kenapa aku ingin selalu didekatmu.
Zain tersenyum dan dia membenarkan posisinya.
"Kalo begitu, tidurlah. Aku akan tidur di sini bersamamu" ucap Zain.
Zain menyelimuti tubuh Natali sampai ke bagian dada. Zain mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu temaram.
Kini Natali dan Zain sudah di posisi siap untuk tidur. Zain menghadap langit-langit dengan satu tangan digunakan untuk menjadi bantal kepalanya. Natali juga sama seperti Zain. Hanya saja dia tidak menggunakan tangannya untuk dijadikan bantal.
Tiba-tiba, tangan Natali meraih tangan Zain dan menempatkannya di pinggang. Secara jelasnya, Natali ingin dipeluk oleh Zain.
Zain cukup terkejut. Dia pun membalikkan tubuhnya pada Natali. Natali pun membalikkan tubuh pada Zain. Natali masuk ke dalam pelukan Zain. Dia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Zain. Zain membiarkan Natali pada posisinya.
"Aku suka wangi tubuhmu. Itu membuatku merasa tenang" ucap Natali yang sudah hampir menutup matanya karna mengantuk.
Zain pun memeluk Natali dan mengelus kepala Natali dengan lembut.