
Zain masih saja memikirkan keinginna Natali. Lamunannya terbuyarkan oleh getar ponselnya yang menunjukkan panggilan masuk. Panggilan itu dari Leo, asisten Zain.
Zain bangun dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo tuan" sapa Leo.
"Ya, ada apa?" tanya Zain.
"Tuan, nanti sore tuan dijadwalkan ada pertemuan penting dengan tuan Shif" jawab Leo.
"Bukankah pertemuan itu besok?"
"Benar tuan. Aku memajukan jadwalnya karna besok tuan akan disibukan dengan foto prewedding. Itu pasti akan memakan waktu seharian penuh. Lagi pula tuan Shif besok harus kembali ke India karna ada urusan mendadak. Maaf karna baru memberitahumu tuan" jelas Leo.
"Kau benar. Baiklah kau tentukan saja di mana tempatnya"
"Baik tuan"
Panggilan pun berakhir.
Zain meletakan ponselnya di atas nakas kemudian dia menatap Natali yang tertidur pulas. Zain menatap lekat wajah cantik Natali. Wajahnya sangat cantik meski tanpa polesan make up.
"Aku sangat beruntung bisa memilikimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu" ujar Zain.
Setelah puas memandangi wajah cantik Natali, Zain pun pergi ke bawah untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.
Sore menjelang, Zain sudah berangkat untuk pertemuan penting. Pertemuan itu diadakan di salah satu restoran mewah milik Zain. Leo sengaja menyiapkan pertemuan di restoran itu.
Saat Zain pergi, Natali belum bangun. Zain sengaja tidak membangunkan Natali. Dia tidak mau mengganggu Natali.
Pukul 17.30 pertemuan itu sudah selesai. Tidak ada kendala apa pun. Zain pun memutuskan untuk langsung pulang. Dan Leo mengurus hal yang belum selesai.
Saat menuju pintu ke luar, Zain mengecek ponselnga. Dan dia tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang berjalan bersama seorang wanita.
"Uh,, sorry,, sorry.." ucap Zain.
"Ya,, tidak papa" balas orang itu.
Tung..
"Kau.."
"Kau.."
"Kau Daniel kan?"
"Zain?"
"Hei.."
Suatu kejuatan Zain bisa bertemu dengan teman lamanya. Ya. Zain bertemu dengan Daniel Aiden. Yang artinya seorang wanita yang bersama Daniel adalah Amanda.
Zain dan Daniel teman kuliah. Mereka berpisah saat keduanya sudah lulus. Zain dan Daniel saling berpelukan. Mereka senang karna bisa bertemu kembali.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Zain.
"Aku baik. Dan kau?" jawab serta tanya Daniel.
"Aku juga baik"
"Wah,, ini sudah lama sekali" ujar Zain.
"Iya. Dan kau tidak berubah sama sekali" balas Daniel.
"Kau juga tidak berubah"
"Kalian saling kenal?" tanya Amanda yang sedari tadi dikacangin.
Zain dan Daniel menatap Amanda.
"Ah iya, perkenalkan. Ini istriku, Amanda Batari" Daniel memperkenalkan Amanda pada Zain. "Sayang, ini Zain. Teman kuliahku"
"Zain"
"Amanda"
Zain dan Amanda berjabat tangan.
"Amanda Batari? Aku rasa wah pernah mendengar nama itu" pikir Zain.
"Kau mau pergi?" tanya Daniel.
"Ya, awalnya begitu" jawab Zain.
"Jangan pergi dulu. Kita baru saja bertemu. Mari kita minum dan makan dulu. Aku dengar makanan di restoran ini sangat enak"
"Tentu saja. Ini restoran milikku"
"Eh,, sombong sekali kau"
"Hahah.." Zain dan Daniel tertawa.
"Baiklah. Kalo begitu ayo. Aku akan menemani tamu istimewa yang datang ke restoranku"
Zain, Daniel dan Amanda duduk di ruang VIP restoran.
"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak bisa hadir saat pernikahan kalian" ucap Zain.
"Terima kasih. Kami sangat menyayangkan kau tidak hadir" balas Daniel.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Zain.
"Beberapa bulan yang lalu. Aku sudah berusaha mencari kontakmu, namun aku tidak menemukannya. Jadi kau tidak hadir dipernikahan kami" jawab Zain.
"Tuan Zain, apa kau sudah menikah?" tanya Amanda.
"Wah,, siapa wanita beruntung itu?" tanya Daniel.
"Namanya Natali. Dia juga orang Indonesia"
"Orang Indonesia? Wah,, ternyata sudah banyak orang Indonesia di Italia ini"
"Kalian sendiri datang ke sini untuk keperluan apa?"
"Kami datang sebagai pengantin baru yang pergi honeymoon" ucap Daniel dengan bangga.
"Kapan kalian akan kembali?"
"Beberapa hari lagi"
Zain menganggukkan kepalanya.
Entah kenapa nama 'Amanda Batari' terus melayang dipikirannya.
"Tunggu.." gumam Zain menyadari sesuatu.
"Kau Amanda Batari?" tanya Zain.
"Ya. Aku Amanda Batari. Memang kenapa?" jawab Amanda bingung.
"Kau desainer itu? Kau yang merancang gaun pengantin?"
"I-iya. Aku seorang desainer"
Zain mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto gaun yang akan dipakai oleh Natali.
"Ini, gaun rancanganmu bukan? Gaun yang ada simbol hatinya"
Daniel dan Amanda melihat foto gaun itu.
"Ya. Ini gaun rancanganku" jawab Amanda.
"Hah,, syukurla.." ujar Zain.
"Memang kenapa?" tanya Daniel bingung.
"Begini. Kalian harus membantuku" ucap Zain.
"Membantu apa?"
"Kalian harus datang kepernikahanku. Terutama Amanda"
"Iya, kami pasti datang. Tapi kenapa?"
"Natali akan memakai gaun ini saat pernikahan. Dan dia mengidam ingin dihadiri oleh desainer gaun itu"
"Maksudmu aku?" tanya Amanda.
"Iya" jawab Zain.
"Ngidam? Seperti orang hamil saja" celetuk Daniel.
"Dia memang sedang hamil" jawab Zain.
Daniel dan Amanda terdiam dan menatap Zain.
"Kalian baru mau menikah, tapi calon istrimu sudah hamil?" Daniel tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zain.
"Iya. Dia mengandung anakku. Aku tidak mau dia dimiliki oleh pria lain. Jadi aku harus memilikinya segera" tutur Zain.
Daniel dan Amanda saling menatap. Mereka mengingat saat mereka belum menikah. Kakek mereka berusaha menyatukan mereka dengan segala cara.
"Aku sangat beruntung memiliki Natali dihidupku" ujar Zain.
"Aku pun sama beruntungnya denganmu" balas Zain.
"Kau tau, banyak wanita yang menginginkanku. Tapi hatiku berlabuh pada Amanda" Daniel menatap Amanda.
"Ya, kau benar. Tuan Zain, apa kau tau, suamiku ini terkenal sebagai play boy kelas kakap. Dia sudah banyak mengencani wanita. Bahkan pegawainya pun ikut menjadi sasarannya" timpal Amanda.
"Eh,, sayang. Aku tidak seperti itu. Kau jangan cemburu. Kau taukan, aku hanya mencintaimu dan sangat mencintaimu. Zain, aku bukanlah seorang play boy"
"Aduh,, aku lebih percaya pada perkataan Amanda daripada kau"
"Hahahh.." ketiganya tertawa.
"Maaf, aku harus segera pulang. Natali pasti mencariku"
"Ya. Baiklah"
"Bagaimana kalo nanti malam kalian datang makan malam di rumahku?" tawar Zain.
"Boleh" jawab Daniel dan Amanda.
"Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan kalian. Berikan nomormu. Aku akan mengirimkan alamatku"
Daniel memberikan nomornya pada Zain. Kemudia Zain menyimpan nomornya dan mengirimkan alamat mansionnya.
"Aku pamit. Kalian silahkan nikmati makanannya"
Daniel dan Amanda menganggukkan kepala mereka.
Zain memanggil salah seorang pegawai.
"Ya, tuan Zain"
"Tolong kalian layani mereka. Mereka adalah tamu istimewa" pesan Zain.
"Baik tuan" patuh pegawai itu.