VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Oma Sari



Keesokan harinya, Natali terbangun dari tidurnya. Dia melihat kesekeliling kamar yang dia tiduri. Kamar ini berbeda dari kamar yang biasa dia tempati. Natali baru ingat kalo semalam dia tidur bersama Zain dan di kamar Zain.


Natali menatap kamar Zain yang begitu luas dengan arsitektur yang sangat berkelas.


"Kau sudah bangun?" tanya Zain yang baru masuk ke dalam kamar.


"Kau habis dari mana?" Natali menjawab pertanyaan Zain dengan sebuah pertanyaan.


"Aku dari bawah. Aku bawakan jus alpukat untukmu" jawab Zain.


"Wah,, di Itali juga ada alpukat?"


"Tentu saja. Aku berpikir untuk membuka lahan dan menanam pohon alpukat"


"Kau ini. Sudahlah. Kalo kau menanam alpukat, mau ke manakan alpukat itu?"


"Mau aku jual lah"


"Kau mau seberapa sultan lagi, tuan Zain? Kekayaanmu tidak akan habis sampai 10 turunan"


"Biar saja. Aku akan menambahnya menjadi 20 turunan"


"Kau ini" decak Natali.


"Kau jadi ingin bertemu dengan nenekku?"


"Ya. Tentu saja. Ayo, aku sudah tidak sabar"


"Kau mandi dulu, setelah mandi kita sarapan lalu berangkat untuk menemui nenekku. Oke"


"Oke"


Singkat cerita, kini Natali dan Zain sudah berada dalam mobil. Mereka akan bertemu dengan nenek Zain di rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Natali terus melihat keluar. Baru kali ini dia pergi keluar jalan-jalan. Karna selama 1 minggu dia di Itali, dia tidak pernah sekali pun pergi jalan-jalan. Zain masih belum mengizinkan Natali pergi keluar. Lagi pula Natali juga malas untuk keluar.


30 menit mobil melaju, Akhirnya mereka sudah sampai di rumah Sakit. Zain membawa Natali ke ruangan di mana nenek Zain di rawat. Saat hendak masuk, Natali menolak masuk. Dia sangat gugup. Zain meyakinkan Natali dan akhirnya Natali pun mau ikut masuk.


"Selamat pagi oma" sapa Zain.


"Eh,, bujang lapuk? Kau ke sini lagi?" balas seorang nenek berumur 69 tahun.


"Aku masih muda oma. Aku bukan bujang lapuk" balas Zain.


"Ya. Oma tau itu. Tapi kau masih belum menikah. Itu sebabnya oma akan terus memanggilmu bujang lapuk"


"Ck, oma ini" decak Zain. "Bagaimana kondisi oma?" tanya Zain.


"Oma akan tetap hidup sampai kau mempunyai pasangan dan menikah. Oma tidak akan tenang jika meninggalkanmu sendirian"


"Oma tidak boleh bicara seperti itu. Oh iya oma, aku mau memperkenalkan seseorang pada oma"


"Siapa? Jika kau mau memperkenalkan penjaga baru, oma tidak mau bertemu dengannya"


"Tidak oma, dia bukan penjaga baru. Dia itu orang spesial"


"Benarkah? Siapa dia?"


"Ini dia"


Zain memperkenalkan Natali yang ada di sebelahnya. Namun ternyata Natali tidak ada di sebelahnya. Natali bersembunyi dibalik tubuh besar Zain.


"Eh,, mana Natali?" heran Zain.


Natali keluar dari balik tubuh Zain dan tersenyum pada nenek Zain. Zain tersenyum karna tingkah lucu Natali.


"Selamat pagi oma. Perkenalkan aku Natali" ucap Natali.


"Natali? Apa kau calon menantuku?" tanya oma antusias.


"Ya oma. Dia calon menantu oma" jawab Zain.


Natali mendekat pada nenek Zain.


"Kenapa kau bersembunyi di balik benteng besar itu?" tanya nenek.


Natali tersenyum kecil saat mendengar Zain disebuh benteng besar.


"Maaf oma, aku gugup" balas Natali.


"Tidak usah gugup" nenek Zain tersenyum pada Natali. "Jadi, namamu Natali?"


"Iya oma"


"Perkenalkan. Oma adalah neneknya bujang lapuk itu. Nama oma Sari"


"Oma, sudah kubilang, jangan panggil aku bujang lapuk. Aku akan segera menikah" rengek Zain.


"Menikah? Akhirnya kau melepas julukanmu itu" lega Sari (nenek Zain).


"Hanya oma yang memanggilku bujang lapuk. Orang lain tidak berani memanggilku seperti itu" balas Zain.


"Natali, dia memang seperti itu. Kau harus sabar menghadapinya" ucap Sari pada Natali.


"Iya oma. Aku sudah tau bagaimana Zain yang sebenarnya" balas Natali menatap Zain.


"Jadi kapan kalian akan menikah? Oma ingin kamu segera menikah." tanya Sari.


"3 hari lagi oma" jawab Zain.


Natali melihat ke arah Zain. Dia baru tau mereka akan menikah 3 hari lagi. Mungkin karna perkataannya kemarin malam, membuat Zain mempercepat waktu pernikahan.


"Baguslah. Oma ingin segera menimang cicit om" celetuk Sari.


Natali menatap Zain. Natali tau omanya pasi ingin memiliki cicit dari Zain. Tapi dia harus menunggu lama untuk mendapatkan itu.


"Oma, kau akan segera mendapatkan cicit" ujar Zain.


Natali menatap Zain. Dan Sari juga menatap Zain.


"Cicit? Benarkah itu?"


"Iya oma. Natali sedang mengandung anakku" ucap Zain menatap Natali sambil tersenyum.


"Kau sedang mengandung?" tanya Sari pada Natali.


Natali menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Sari mengembangkan senyumnya sempurna. Akhirnya setelah penantian panjang, kini dia akan segera mendapatkan cicit.


"Kau ini anak nakal Zain. Kau pasti memaksa Natali melakukan itu" tuduh Sari.


"Tidak oma. Kami melakukannya atas dasar cinta" sangkal Natali. Dia tidak mau Sari berpikiran seperti itu pada pria baik seperti Zain.


"Ya, oma. Kami akan membesarkan anak kami dengan baik" timpal Zain.


"Oma terharu sekali. Kau itu sama seperti ayahmu Zain" ujar Sari.


"Jangan samakan aku dengan dia oma. Kami berbeda" potong Zain dengan cepat.


Seketika raut wajah Zain berubah. Dia menunjukkan raut wajah tidak suka saat mendengar Sari menyamakan dirinya dengan Ayahnya.


Natali melihat perubahan pada Zain. Hal itu menimbulkan pertanyaan dibenak Natali.


Sari juga melihat perubahan dari Zain. Dia jadi merasa bersalah karna sudah mengungkit ayah Zain.


"Aku keluar dulu. Aku harus menelpon seseorang" ucap Zain.


Zain pun keluar dari ruangan Sari.


Natali menyadari pasti ada yang tidak beres. Mana mungkin Zain tiba-tiba keluar untuk menelpon seseorang.