
Vanya sudah berada di hotel mewah milik keluarga Bazla. Acara diselenggarakan begitu besar. Meskipun beberapa bulan lalu Vano baru saja rugi, tapi dia tetap menggelar pesta pernikahan mewah.
Vanya bertugas membantu WO pernikahan. Dia tidak bisa jika harus diam saja. Meskipun ini pernikahan sahabatnya, dia tidak bisa malas-masalan saja. Dia juga ikut sibuk bersama yang lainnya.
Vanya sama sekali tidak merasa sedih Vano akan menikah dengan Helen. dia hanya merasa kecewa karna Vano tidak mendengarkan pendapatnya dan juga keluarganya.
Dan kini, pernikahan yang sakral pun sedang berlangsung.
Sebelumnya author minta maaf, karna semua tokoh dalam novel ini beragama non Islam ya,, jadi author gak bisa jelasin gimana proses pernikahan Vano.
Ok, kita lanjut saja. Vano dan Heleh sudah resmi menjadi suami istri. Vano menc*um Helen di depan semua orang. Melihat itu, hati Vanya merasa panas mengingat saat Vano dulu menikahinya karna terpaksa.
Acara pun dilanjutkan dengan berdansa diiringi oleh musik syahdu dan romantis dan menari diiringi musik gembira. semua orang menari dan bersenang-senang. Vano dan Helen pun juga sama menari bersama yang lainnya mengikuti alunan musik.
Jika semua orang bersenang-senang, lain halnya dengan Vanya. Vanya duduk di pojokan, menghindar dari kerumunan orang yang sedang menari. Tiba-tiba Dion datang menghampirinya.
"Sendirian aja" sapa Dion.
"Iya nih, gue gak terlalu suka sama keramaian kayak gini" balas Vanya.
"Gak terlalu suka gimana. Lo tiap hari nemenin Arsen syuting, pasti banyak orang. Harusnya lo udah terbiasa suasana kayak gini"
"Iya sih,, tapi ini beda. Gue gak tau kenapa gak suka keramaian gini sekarang"
"Ah,, elo mah emang gitu aja"
"Eh,, lo kok di sini? Kenapa gak ikut nari di sana?" tanya Vanya.
"Gue lagi gak mood"
"Seorang Dion gak mood? Wah,, baru denger gue. Emang lo gak bawa pacar lo apa?"
"Pacar dari Hongkong. Gue gak punya pacar"
"Yang bener lo. Alah,, bohong lo. Gak mungkin lo gak punya pacar"
"Gue serius. Gue gak punya pacar. Emang wajah gue keliatan lagi bercanda apa?"
Vanya melihat wajah Dion. Dion memang tidak seperti sedang bercanda.
"Kenapa lo gak punya pacar? Gak mungkin kan, kalo gak ada cewek yang mau sama lo"
"Eh,, tu mulut dijaga ya. Banyak cewek yang ngantri mau sama gue. Tapi emang guenya aja yang gak suka sama mereka. Mereka semua kayak Helen. Cuma mau harta doang"
"Terus lo maunya kayak gimana? Nanti gue cariin deh. Mau artis? Nanti gue kenalin sama artis muda yang cakep. Mau yang dewasa? Gue juga bisa cariin buat lo. Mau janda? Juga ada. Lo tinggal ngomong sama gue. Nanti gue cariin deh buat elo. Yang jelas gak kayak si Helen itu" tutur Vanya panjang lebar
"Gue mau yang sama kayak elo" balas Dion.
"Kayak gue? Gak ada yang kayak gue mah,, adanya juga gue"
"Ya udah, gue mau sama lo aja"
Vanya terdiam mencerna perkataan Dion.
"Lo bisa aja. Bercanda lo gak lucu tau gak" cengir Vanya.
"Gue gak bercanda. Gue emang suka sama lo"
Vanya teridam dan menatap Dion dengan wajah syoknya.
"Ahahahah..." Dion tertawa.
Vanya heran kenapa Dion tertawa.
"Lo percaya?" tanya Dion di sela-sela tawanya.
"Jadi lo bohong?"
"Iya,, hahahah..."
"Ih,, lo ini,, gue syok tau gak" geram Vanya.
Setelah puas tertawa, Dion berhenti tertawa. Dia menatap Vanya.
"Kita nari yuk" ajak Dion.
"Gak ah, gue gak mau"
"Ayo.."
"Enggak. Gue gak bisa nari.."
"Ayolah,, kita seneng-seneng aja. Ya,, meskipun kita gak seneng sama acaranya" bujuk Dion.
Dion menarik tangan Vanya dan mengajaknya ke dalam kerumunan yang sedang menari.
Dion dan Vanya menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik. Mereka menggerakkan tubuh dengan lincah. Namun tiba-tiba kepala Vanya terasa sangat berat. Pandangan berputar ke mana-mana. Sebelum datang ke acara ini, Vanya memang sudah tidak enak badan. Namun dia tetap memaksakan dirinya.
Bruk..
Vanya jatuh pingsan.
"Vanya.." pekik Dion.
"Vanya.." pekik Vano.
"Vanya.." pekik Julia dan Bram.
Semua orang terkejut saat Vanya tiba-tiba pingsan.
"Van,, lo kenapa?" Dion dan Vanya segera membungkuk pada Vanya.
"Van,, bangun.." Vano menepuk pelan pipi Vanya. Namun Vanya tak kunjung sadar.
Akhinya Vano memutuskan menggendong tubuh Vanya dan membawanya kesalah satu kamar yang ada di hotel itu.
Semua keluarga Vano hadir di dalam kamar. Mereka sangat terkejut saat Vanya tiba-tiba pingsan. Di kamar itu sudah ada Vano, Dion, Julia, Bram dan Adi, sebagai dokter. Kebetulan Adi hadir di acara pernikahan itu. Sementara Helen dia tetap di luar menemani para tamu. Lagi pula Helen tidak perduli apa yang terjadi pada Vanya. Dia sangat bahagia karna pernikahan yang selama ini diidam-idamkan terwujud juga.
Vano dan yang lainnya membiarkan Adi mengecek kondisi Vanya. Sedetik kemudian Adi tampak kaget. Dia menemukan hal yang aneh dan hal yang cukup mustahil tetapi nyata.
"Adi, gimana kondisi Vanya?" tanya Bram.
"Om, gimana kondisi Vanya?" tanya Vano.
Adi tampak menghirup nafas berat sebelum berbicara.
"Kondisi Vanya sedang lemah. Dan juga.." Adi menggantungkan ucapannya.
"Dan juga apa om?" tanya Vano penasaran.
"Dan juga,, kondisi janinnya cukup sehat" lanjut Adi.
Duar...
Bagai petir disiang bolong. Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Adi. Apalagi Vano. Dia tidak menyangka Vanya akan hamil anaknya. Vano bingung harus bahagia atau sedih. Karna dia barusana menikah dengan Helen. Bagaimana dia akan mengatakan pada keluarganya kalo anak yang dikandung Vanya adalah anaknya.
"Janin? Maksudmu apa Adi?" tanya Julia tidak mengerti.
"Vanya sedang mengandung. Usia kandungannya sudah berjalan 1 bulan" jawab Adi.
"Tapi itu tidak mungkin. Vanya belum menikah"
"Kalo soal itu, aku tidak tau. Sebaiknya kalian bertanya langsung pada Vanya saat dia sudah siuman. Sebentar lagi dia juga akan siuman. Aku rasa masalah ini harus dibicarakan secara kekeluargaan. Jadi aku permisi dulu" pamit Adi.
Adi pun pergi dari kamar itu.
Semua orang terlalu syok mendengar ucapan Adi. Tak ada yang berbicara diantara mereka. Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan pada Vanya yang mulai siuman.
"Eum.." legung Vanya.
Vanya membuka matanya dan dia tampak heran. Kenapa semua orang menatapnya dengan tatapan syok. Vanya memegang kepalanya dan mendudukkan tubuhnya.
"Tante,, om, kalian kenapa?" tanya Vanya bingung.
Julia maju mendekati Vanya. Dia duduk di sebelah Vanya.
"Vanya, katakan. Siapa ayah dari anak itu?" tanya Julia.
Vanya mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Julia.
"Anak apa tante? Aku gak ngerti" Vanya bertanya balik.
"Adi bilang, kamu sedang mengandung. Dan usia kandunganmu itu sudah menginjak 1 bulan" jawab Julia.
Deg..
Jatung Vanya seakan berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir, nafasnya tertahan dan hatinya bergemuruh mendengar ucapan Julia.
"Anak? Mengandung? Aku hamil" gumam Vanya tidak percaya.
Sama halnya dengan Vano, Vanya juga bingung harus bersikap seperti apa. Apakah dia harus senang? Sedih? Atau apa?
"Siapa ayah dari anak itu Van?" Julia mengulangi pertanyaannya.
Seketika Vanya tersadar. Dia harus mengatakan apa pada Julia? Tidak mungkin dia mengatakan kalo ini anaknya Vano.