
"Oma.." ucap Zain lembut.
Oma Sari menengokkan kepalanya.
Zain memberikan senyuman lembut pada oma Sari. Zain sangat bahagia melihat oma Sari sudah sadar. Begitu juga Natali, dia tak kalah bahagia dari Zain.
Oma Sari membalas senyuman Zain dan Natali dengan lembut namun tipis.
"Kamu gak papa sayang?" tanya oma Sari pada Natali.
Natali terkejut dengan pertanyaan oma Sari. Saat keadaannya sedang seperti ini, sempat-sempatnya dia mengkhawatirkan orang lain.
"Aku gak papa kok oma,, oma jangan dulu banyak bicara ya. oma harus istirahat" balas Natali.
Malam semakin larut. Natali dan Zain tidak pulang. Mereka memilih menginap di rumah sakit dan menemani oma Sari. Natali sedang tidur dipangkuan Zain. Entah kenapa sedari tadi Zain tidak bisa tidur. Dia terus saja mengkhawatirkan oma Sari.
Zain mengelus kepala Natali sambil melamun. Tiba-tiba lamunannya buyar saat mendengar seseorang memanggilnya. Rupanya oma Sari yang memanggilnya.
"Zain.." panggil oma Sari dengan pelan.
"Oma" ujar Zain.
Zain mengangkat kepala Natali dan menggantikan bantal sofa dikepalanya. Setelah itu Zain pergi menghampiri oma Sari.
"Oma,, kenapa oma belum tidur?" tanya Zain.
"Kamu juga belum tidur" balas oma.
"Oma harus tidur. Besok oma akan menjalani operasi. Oma akan kembali seperti semula"
"Oma tidak ingin itu"
"Kenapa? Apa yang oma pikirkan?"
"Kamu ingat keinginan oma?"
"Keinginan yang mana? Apa Zain belum memenuhi keinginan oma?"
"Tidak, kamu memenuhi semua keinginan oma. Oma ingin melihat kamu bahagia dan bersama orang yang tepat dan tulus mencintai kamu. Keinginan oma sudah terpenuhi. Setelah itu terwujud oma akan bisa pergi dengan tenang"
"Oma,, jangan bicara seperti itu. Gak baik. Oma pasti akan sembuh"
"Dengar Zain, oma rasa waktu oma tidak akan lama lagi"
"Oma..."
"Zain, oma selamat atau tidak, yang jelas oma bisa tenang. Kamu harus menjaga Natali dengan baik. Jaga juga kandungannya. Kamu tidak boleh terlalu fokus bekerja" oma Sari memberi petuah pada Zain.
Zain menggenggam tangan oma Sari dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya di tangan oma Sari. Tubuh Zain bergetar mendengar ucapan oma Sari.
"Dan juga oma minta maaf karna oma selalu mengungkit tentang ayah kamu. Kamu tau, ayah kamu sangat menyayangi kamu. Jika mungkin, kamu harus berbaikan dengan adikmu" lanjut oma Sari.
"Sut,, oma. Udah, istirahat. Besok lagi ya" ucap Zain.
"Oma sangat mengharapkan kamu bisa berbaikan dengan adikmu"
Natali datang dari belakang. Dia menahan air matanya karna mendengar ucapan oma Sari.
"Natali.." gumam oma tersenyum.
Oma mengulurkan tangannya pada Natali. Natali pun menerima uluran tangan dari oma Sari.
Zain melihat pada Natali.
"Oma.." gumam Natali.
"Oma jangan bicara seperti itu. Lebih baik oma tidur, oma istirahat. Oma harus menyiapkan tenaga untuk operasi besok"
"Oma sangat menyayangi kalian.. huh.. huh.. huh.." Nafas oma Sari mulai tidak teratur.
Zain dan Natali panik. Zain segera menekan tombol yang ada di samping.
"Oma,, oma,, kenapa?"
"Oma,, oma.."
Dokter segera datang ke ruangan oma Sari. Dokter pun langsung memeriksa kondisi oma Sari. Zain dan Natali diminta untuk menunggu di luar.
5 menit kemudian dokter keluar dengan wajah yang sendu. Zain dan Natali tidak suka pada ekpresi dokter.
"Dokter apa yang terjadi pada oma?"
"Dia baik-baik saja kan?"
"Maaf tuan Zain, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi,, oma Sari tidak tertolong" jawab dokter.
Deg..
Bagai pertir yang menyambar dengan dasyat. Jantung Zain dan Natali serasa ingin copot mendengar ucapan dokter.
"Tidak mungkin. Oma pasti baik-baik saja" sangkal Zain.
Zain segera menerobos masuk ke dalam. Natali mengikuti Zain dari belakang.
"Oma,, bangun. Kenapa oma seperti ini? Oma,, aku tidak bisa kehilangan oma.." tangis Zain pecah.
Natali dapat melihat kesedihan Zain yang begitu mendalam. Natali berusaha menenangkan Zain.
"Oma,, bangun,, kali ini aku tidak suka becarna oma.." Zain mengguncangkan tubuh oma Sari.
"Natali, lihat lah! Oma tidak mau bangun. Suruh dia bangun sayang,, katakan padanya jangan tinggalkan aku,, hiks,, hiks.." tangis Zain.
"Zain,, udah Zain,, oma udah tenang di sana Zain" ucap Natali.
"Tapi besok oma mau dioperasi Nat. Dia akan sembuh. Dia akan sehat lagi"
"Zain,, sekarang oma udah gak kesakitan lagi. Dia udah sembuh Zain.."
Zain memeluk tubuh oma Sari yang sudah tidak bernyawa. Dia sangat kehilangan orang yang paling dia sayangi setelah kepergian ayah dan ibunya.
Natali memeluk Zain dengan erat. Zain menangis sejadi-jadinya dipelukan Natali.
"Hiks,, hiks,, hiks.."
"Kamu kuat Zain. Kita harus kuat. Kamu gak boleh lemah"
Natali berusaha menguatkan Zain meskipun hatinya sendiri hancur atas kepergian oma Sari.
Hallo semua🤗
Author come back
Maaf ya cerita ini gak maju-maju. Ide di kepala author ilang. Author jadi bingung nih.
Tapi authot akan berusaha untuk up lagi😆
Jangan lupa tinggalkan jejak
dan terus dukung author ya😆