
"Kepalamu berdarah" ujar Zain.
Zain melihat luka yang ada di kepala Natali. Dan benar saja. Ada bekas kuku di kepala Natali. Zain sangat kaget.
"Suster!" panggil Zain dengan berteriak. "Cepat siapkan ruangan khusus. Istriku terluka" titah Zain.
Natali membelalakan matanya. Tiba-tiba saja Zain menyuruh perawat menyiapkan ruangan.
"Zain, untuk apa kau meminta ruangan?" tanya Natali.
"Kepalamu terluka dan berdarah" jawab Zain.
"Ini hanya luka kecil. Nanti juga sembuh"
"Lukamu ini tidak boleh dibiarkan. Jika dibiarkan bisa saja infeksi"
Natali hanya menurut saat Zain menuntunnya ke ruangam khusus. Dia tidak bisa membantah ucapan Zain.
Luka Natali diobati oleh dokter yang bernama Harry. Harry adalah teman seperkuliahan Zain. Dan Kini pun mereka masih berteman. Zain menatap Natali dengan cemas. Dia takut Natali akan kenapa-napa.
"Bagaimana kondisi Natali?" tanya Zain.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau tenang saja. Ini hanya luka kecil. Besok juga akan kering" jawab Harry.
"Jika luka kecil bagaimana mungkin bisa berdarah?" protes Zain.
"Luka itu akibat dari kuku pria itu. Sepertinya kukunya panjang"
"Tadi kau bilang hanya luka kecil. Lalu kau bilang kuku pria itu panjang. Pasti ada kuku yang tertinggal di kepala Natali. Lukanya pasti sangat dalam. Pasti ada luka 1 cm di kepala Natali"
"Hei,, kukunya tidak sedalam itu. Lukanya hanya goresan saja. Tidak usah berlebihan" jelas Harry.
"Zain, aku tidak papa. Dokterkan sudah menjelaskannya padamu. Lagipula ini hanya goresankan. Tidak apa. Tenang saja ya" bujuk Natali.
"Pria itu benar-benar kurang ajar. Liat saja. Akan kuberi dia pelajaran" umpat Zain.
Natali melihat raut kemarahan pada Zain. Dia harus cepat membuat Zain teralihkan dari kemarahannya.
"Em,, Zain. Bagaimana kalo kita periksa kandunganku. Aku penasaran bagaimana bentuk janinku di dalam sini" pinta Natali.
Seketika Zain menatap Natali dan tersenyum.
"Benar juga. Aku ingin melihat calon anakku" balas Zain yang teralihkan. Usaha Natali berhasil.
"Tunggu. Calon anak? Apa maksudnya ini? Siapa wanita ini?" tanya Harry bingung.
"Oh iya, aku belum memperkenalkan dia padamu. Dia adalah Natali. Wanita yang sering kuceritakan padamu. Dia calon istriku" Zain memperkenalkan Natali.
"Oh,, wanita itu" ujar Harry menganggukkan kepalanya. "Tunggu. Calon istri? Tadi kau bilang calon anak? Apa dia sedang mengandung anakmu?" tanya Harry.
"Tentu saja"
"Kalian belum menikah, tapi sudah mau punya anak? Kalian sudah melakuka hal yang seperti itu"
*Jangan ditiru ya. Itu hanya pemikiram author saja. Sebenarnya hal itu tidak dibenarkan. Harap bijak dalam membaca. Dan tolong pahami, ini hanya sebuah novel ya. Ini hanya imajinasi, bukan kenyataan.
"Lalu kenapa kau menikahinya? Bukankah kau bilang status tidak penting?"
"Ini berbeda. Aku ingin memiliki Natali sepenuhnya. Dia itu sangat cantik. Aku tidak mau sampai dia diambil pria lain. Aku takut dia diambil oleh mu. Kau kan jomblo akut"
"Heh, jaga ya kalo ngomong. Gue malu lo panggil jomblo akut"
Zain tertawa.
"Katanya mau diperiksa. Ayo. Aku akan memeriksa Natali sendiri. Suatu kehormatan bagiku jika bisa memeriksa calon anak pertamamu" ajak Harry.
"Apa tidak ada dokter wanita? Aku ingin diperiksa oleh dokter wanita" ucap Natali.
"Tentu saja ada. Biar dokter wanita yang akan memeriksamu" jawab Harry.
Natali pun diperiksa oleh dokter wanita. Natali dan Zain bisa melihat janin yang ada di perut Natali dari layar USG.
"Apa itu janinnya?" tanya Natali.
"Iya nona" jawab dokter.
"Kenapa kecil sekali?"
"Memang masih kecil tuan. Kandungannya baru menginjak 6 minggu"
"Apa dia sehat?" tanya Natali.
"Sangat sehat nona. Aku rasa dia akan tumbuh menjadi anak yang sangat pintar" jawab dokter.
"Apa sudah bisa tau jenis kelaminnya apa?" tanya Zain dengan polosnya.
"Heheh,, tentu saja belum tuan. Jenis kelamin bayi akan bisa terlihat jika sudan 4 bulan ke atas. Ini masih 6 minggu tuan" jawab dokter itu.
Natali tertawa mendengar jawaban dokter. Dia juga tertawa karna lucu atas pertanyaan Zain.
"Tuan, sekarang tuan harus memiliki rasa sabar yang lebih untuk istri tuan. Karna selama masa trimester pertama kehamilan, seorang ibu akan mengalami ngidam. Dia akan meminta apa pun yang dia inginkan. Emosinya juga akan naik turun. Sang ayah harus sabar dalam menghadapi kondisi itu" jelas dokter.
Zain menganggukkan kepalanya mengerti.
"Dan juga.." dokter menggantungkan ucapannya.
"Dan juga apa dok?" tanya Zain penasaran.
"Dan juga, tuan jangan terlalu sering mengunjungi anak tuan. Mengunjungi boleh. Tapi jangan terlalu berlebih. Karna itu bisa membahayakan kandungan istri tuan" lanjut dokter.
Wajah Natali dan Zain memanas. Natali malu saat dokter mengatakan hal itu.
"Iya dok" balas Zain kikuk.