VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Kehilangan?



Vanya pergi ke rumah Arsen. Dia sangat geram pada Arsen. Dia juga geram pada Julia dan Bram. Mereka hanya menjadi pendengar saat Vanya dan Vano berdebat. Mereka sama sekali tidak membela Vanya, meskipun mereka sudah tau kalo Vano salah.


Vanya langsung masuk ke rumah Arsen. Di rumah Arsen sudah ramai orang. Mereka akan siap-siap untuk menuju studio salah satu stasiun tv. Di sana Arsen akan melakukan syuting. Lebih tepatnya Arsen akan menjadi host dari acara itu. Ini pertama kalinya Arsen menjadi host.


Vanya langsung mendudukkan tubuhnya di kursi. Semua orang heran melihat Vanya yang tampak kesal.


"Van, lo kenapa?" tanya Gave.


"..." tak ada jawaban dari Vanya.


"Van, lo kenapa?" Arsen mengulangi pertanyaan Gave.


"..." Vanya masih tidak menjawab.


"Van.." panggil Arsen.


"Gue gak papa kok. Gue cuma cape aja. Di luar lagi panas" alibi Vanya.


"Ini masih pagi lo. Baru juga pukul 08.00. Mataharinya juga masih belum terlalu panas" timpal Gave.


"Bagi gue panas tau gak" balas Vanya kesal.


Arsen tau ada yang tidak beres pada Vanya. Dan dia yakin ini pasti ada hubungannya dengan Vano.


"Lo udah siap?" tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.


"Udah nih.." jawab Arsen.


"Ya udah ayo. Kita berangkat sekarang aja" ajak Vanya.


"Ayo" setuju semua orang.


Semua orang bersiap untuk ke lokasi. Namun saat mereka hendak melaju, tiba-tiba Vano datang dan menghentikan Vanya.


"Van tunggu" cegah Vano.


Semua orang memperhatikan Vanya dan Vano, termasuk juga Arsen.


"Vano! Ngapain lo ke sini?" tanya Vanya.


"Gue mau minta maaf sama lo" jawab Vano.


"Minta maaf soal apa?" Vanya pura-pura tidak tau.


"Soal sikap gue. Gue sadar gue salah. Lo mau kan maafin gue?"


"Butuh waktu berhari-hari ya buat lo sadar lo itu salah"


"Gue tau Van. Itu sebabnya gue minta maaf sekarang"


"Ya udah, nanti gue pikirin dulu. Seenggaknya butuh waktu 1 minggu baru bisa gue jawab permintaan maaf lo"


"Ko lama banget sih?"


"Lo juga lama sadarnya. Ya udah, gue juga bakalan lama maafin lo nya. Mungkin gue gak akan bisa maafin lo"


"Van,, jangan gini lah,, gue kan udah minta maaf sama lo. Masa lo masih mau gini sama gue"


"Van,, gue udah bilangkan sama lo. Apa yang lo tanam itu yang lo tuai. Jangan heran kalo sikap gue gini ke elo. Udah ya, gue sibuk" balas Vanya.


"Udah gue duga. Ini pasti gara-gara Vano lagi" gumam Arsen menatap Vano dari dalam mobilnya.


Beberapa hari kemudian, Vanya sudah memaafkan Vano. Vanya terpaksa memaafkan Vano, karna Julia terus membujuknya agar memaafkan Vano. Vanya merasa tertekan karna selalu dibujuk oleh Julia. Akhirnya Vanya pun memaafkan Vano.


Hubungan Vanya dan Vano sudah mulai baik. Vanya memutuskan untuk hidup dengan normal dan berusaha mengesampingkan sikap egois Vano. Dan hasilnya lumayan lah,, mereka sudah mulai akrab lagi. Sampai 2 bulan kemudian, 1 minggu lagi Vano akan menikah dengan Helen. Dan juga 1 minggu lagi pernikahan Vanya dan Vano akan berakhir. Itu pun jika Vanya tidak hamil. Jika Vanya hamil, entah bagaimana hubungan keduanya.


Arsen sedang berada di luar negri untuk bertemu keluarganya. Untuk 1 bulan kedepan dia akan cuti dari dunia pertelevisian dan dunia hiburan. Alasannya adalah urusan keluarga. Arsen pergi sendiri tanpa ditemani seorang pun. Bahkan Vanya tidak ikut dengan Arsen. Untuk sementara waktu Vanya akan terbebas dari pekerjaannya yang berat. Tapi itu berarti, sumber penghasilannya juga terhenti.


Sudah beberapa hari ini Vanya merasa tidak enak badan. Dia jadi cepat lelah dan tidak nafsu makan. Sesekali dia juga mual. Vanya menganggap dia hanya masuk angin biasa. Vanya juga tak mau memeriksakan kesehatannya ke dokter, karna minggu ini dia disibukan membantu persiapan pernikahan Vano sahabat karibnya.


Entah kenapa Vanya merasa kehilangan Arsen. Meskipun dia hanya sedikit merasakan itu. Kini rasa cinta yang dia rasakan untuk Vano sudah menghilang ditelan bumi.


Suatu malam, Vanya sedang bersiap tidur. Tapi dia belum bisa tidur. Dia teringat pada Arsen. Sudah beberapa hari ini dia tidak berbicara dan berukar pesan dengan Arsen. Vanya tidak tau Arsen pergi ke negara mana. Arsen tidak mau memberitahukannya pada Vanya, mau pun orang lain.


Vanya meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dia menatap ponsel itu.


"Sen, lo ke mana sih? Kok lo sampai sekarang gak pernah hubungin gue? Sekedar cuma nyapa doang? Nanyain kerjaan? Atau apa gitu? Biasanya lo yang duluan ngechat gue" gumam Vanya.


Vanya menatap nomor Arsen.


"Chat ga ya?" tanya Vanya.


"Chat ah"


"Eh,, jangan deh"


"Tapi gue penasaran banget"


"Ya udah, chat aja"


"Eh,, enggak deh. Gue takut dia keganggu. Mungkin dia emang lagi ingin sama keluarganya dulu. Dia gak mau diganggu sama siapa pun" pikir Vanya.


Vana meletakan kembali ponselnya di atas nakas. Dia pun mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram.


"Mending gue tidur. Kalo sampe 1 minggu lagi Arsen gak ngabarin gue, gue yang bakal hubungin dia duluan" ucap Vanya.


Tiba-tiba Vanya teringat pada masa-masa indahnya bersama Arsen. Di mana Arsen selalu mengatakan hal lucu dan hal romantis yang membuat Vanya tertawa terbahak-bahak. Setiap hari Vanya selalu mendapatkan cerita baru jika bersama Arsen. Namun setelah kepergian Arsen, di merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


Vanya tidak mencintai Arsen. Tapi Arsen selalu mengatakan kalo dia mencintai Vanya. Vanya selalu mengaggap Arsen bercanda. Mana mungkin Arsen menyukainya. Toh dia hanya seorang manager saja. Banyak artis lain yang kebih cantik dan body yang lebih aduhai dari Vanya. Vanya hanya remahan roti saja di antara mereka semua.


Vanya pun tertidur dengan pikiran yang masih tertuju pada Arsen.


1 minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Vano dan Helen. Meskipun Vano sudah mengetahui Helen seperti apa, tapi dia masih saja mau menikahinya. Mungkin ini yang disebut cinta itu buta. Tapi secara melenceng.


Julia dan Bram tidak bisa berbuat apapun. Mereka hanya bisa menuruti keinginan Vano saja. Mereka hanya bisa mendukung dan berdoa yang terbaik. Sementara Vanya, dia sudah lelah memebritahu Vano. Biar Vano merasakan sendiri akibatnya. Diberitahu sudah, jika masih tidak mendengarkan, maka apa yang akan terjadi kedepannya itu risiko sendiri.


Hallo semuanya,,


Author mau kasih tau ya, mulai besok novel ini berganti judul ya. Soalnya ini alurnya udah bukan yang direncanain oleh Author.


Judul sama cerutanya udah gak sejalan ya, jadi author mutusin buat ganti judul aja.


Judulnya jadi 'Vanya's Love Choice' atau 'Cinta Pilihan Vanya'


Sekian terima kasih