VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Siuman



Oma Sari berada di ruang ICU. Kondisi oma Sari sangat memprihatinkan. Terdapat pendarahan di otaknya dan kedua kakinya patah.


Zain sudah menyuruh anak buahnya menyelidiki kasus ini. Kini Zain berada di ruang Natali. Natali beruntung karna janin yang dikandungnya tidak kenapa-napa. Zain menggenggam tangan Natali.


"Eum.." legung Natali sadar dari pingsannya.


"Sayang.." ujar Zain senang.


"Zain.."


Natali mengumpulkan tenaganya. Dia menyadari kalo dirinya ada di rumah sakit. Seketika dia tersadar akan apa yang terjadi pada dirinya dan oma Sari.


"Zain, oma.."


Zain menatap Natali.


"Zain, oma baik-baik sajakan? Oma selamatkan?" tanya Natali panik.


Natali hendak bangun dari tidurnya.


"Sut,, kamu tenang dulu ya. Kamu masih lemah" ucap Zain.


"Zain,, oma.."


"Iya,, tapi kamu tenang dulu. Ayo baring lagi.."


Natali kembali membaringkan tubuhnya.


"Zain,, oma.." rengek Natali.


"Oma selamat sayang" jawab Zain.


Natali bernafas lega mendengar ucapan Zain.


"Hanya saja.." Zain menggantungkan ucapannya.


Baru saja menghirup nafas lega, tiba-tiba saja Zain mengatakan hal yang mengkhawatirkan.


"Hanya saja apa Zain? Oma baik-baik aja kan?" tanya Natali.


"Oma kritis. Ada pendarahan di otaknya. Dia harus segera dioperari. Jika tidak segera dioperasi, maka nyawanya tidak bisa diselamatkan" jawab Zain dengan wajah yang menekuk.


Natali terdiam. Dia merasa tersedak oleh nafasnya sendiri.


"Lalu kenapa tidak langsung dioperasi?"


"Dokter bilang, kita harus menunggu oma siuman dan sampai kondisi oma keluar dari masa kritisnya. Jika kita mengoperasinya sekarang, sama saja kita mendorong oma pada lubang kematian" tutur Zain.


"Apa tidak ada cara lain?"


"Tidak ada. Hanya itu satu-satunya cara menyelamatkan oma. Dokter juga bilang, kita tidak akan tau kapan oma akan sadar. Jika dalam waktu 1 minggu oma tidak sadar, maka dia akan.." Zain tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Natali terkejut dengan apa yang Zain katakan. Dia tidak menyangka kondisi oma Sari separah itu.


Zain menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar.


"Hisk,, hiks,, hiks.." terdengar isakan kecil dari Zain.


Zain berusaha menahan tangisannya. Natali tau Zain yang paling sedih atas kondisi oma Sari. Natali bangun dan langsung memeluk Zain. Dia berusaha menenangkan Zain. Dulu Zain lah yang selalu berusaha menenangkannya jika dia bersedih. Dan kini, giliran Natali lah yang menjadi penenang kesedihan Zain.


"Aku takut oma kenapa-napa. Aku gak siap kehilangan oma.." ucap Zain.


"Sut,, Zain. Jangan ngomong gitu. Aku yakin oma akan selamat. Kamu juga harus yakin" Natali berusaha menguatkan Zain.


3 hari kemudian.


Oma Sari masih belum sadar juga. Zain sangat khawatir kalo oma Sari belum sadar juga. Kondisi Natali sudah pulih. Dia sudah tidak dirawat di rumah sakit. Saat ini Natali dan Zain sedang berada di ruangan oma Sari. Natali mengeluarkan makanan yang baru saja dia beli dari kantin rumah sakit.


"Zain, makan dulu yuk" ajak Natali.


"Tidak. Kamu saja" tolak Zain.


"Kenapa kamu gak mau makan? Kamu udah 3 hari lho belum makan"


"Kamu harus makan. Kalo kamu gak makan, nanti kamu sakit. Gimana kalo nanti pas oma sadar, dia liat kamu sakit? Dia pasti sedih. Kamu mau liat oma sedih?"


Zain terdiam.


"Makan yuk. Sedikit,, aja" bujuk Natali.


Akhirnya Zain menganggukkan kepalanya.


Natali mengajak Zain duduk di sofa.


"Aku suapin ya" ujar Natali.


Natali menyendokkan makanan dan diarahkan pada Zain.


Zain hanya menatap sendok itu tanpa mau membuka mulutnya.


"Zain,, buka mulutnya dong.." ujar Natali.


Zain masih enggan membuka mulutnya.


"Sayang.." bujuk Natali.


Zain menatap Natali. Tidak biasanya Natali memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.


Zain pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Natali. Zain hanya makan 3 suap saja. Dia tidak berselera lagi melanjutkan makannya.


"Makasih ya udah mau makan" ucap Natali.


Zain tersenyum tipis.


"Aku yakin sebentar lagi oma pasti akan segera sadar. Kamu yang sabar ya" Natali berusaha menguatkan Zain.


Malam pun tiba.


Pukul 20.00 Zain masih setia berada di samping oma Sari sambil menggenggam tangannya. Natali pun selalu mendampingi Zain. Tiba-tiba ada pergerakan pada tangan oma Sari.


"Oma.." ujar Zain merasakan pergerakan. "Sayang,, oma sayang.."


"Tangan oma gerak Zain.." ujar Natali.


Zain segera menekan tombol yang ada di samping ranjang oma Sari. Tak berselang lama, dokter pun datang ke ruangan oma Sari.


"Dok oma saya dok.." ujar Zain tampak senang.


"Saya akan memeriksa kondisi oma tuan. Tuan dan nyonya diharapkan untuk keluar dulu" arahan dokter.


Dengan terpaksa Zain dan Natali keluar dari ruangan oma Sari. Zain dan Natali harap-harap cemas menunggu dokter keluar.


"Sayang,, oma akan baik-baik saja kan?" tanya Zain gelisah.


"Tentu saja. Oma pasti akan baik-baik saja. Dia akan sembuh dan berkumpul lagi bersama kita" balas Natali.


Zain terhibur dengan jawaban Natali.


15 menit kemudian dokter keluar.


"Dok, bagaimana kondisi oma saya?" tanya Zain.


"Dia sudah keluar dari masa kritisnya. Dan jika besok kondisinya membaik, kita dapat melakukan operasi" jawab dokter.


"Huh,, syukurlah.." Zain dan Natali bernafas lega.


"Kami boleh masuk dok?" tanya Zain.


"Tentu saja. Hanya saja, oma tuan jangan terlalu sering diajak bicara karna kondisinya masih lemah"


"Baik dok"


Zain dan Natali dengan senang masuk ke dalam ruangan oma Sari. Mereka sudah tak sabar ingin melihat oma Sari.