
"Mah,, pah,, Vano mau ke mana?" tanya Helen.
"Mama juga gak tau dia mau pergi ke mana" jawab Julia.
Vano berjalan dengan tergesa-gesa. Dia segera pergi ke garasi dan masuk ke dalam mobilnya. Vano menjalankan mobilnya menuju rumah Vanya. Dia ingin mengetahui apa alasan Vana mengirim surat cerai padanya.
Sesampainya di rumah Vanya, Vano langsung turun dan dia langsung masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu. Di sana dia bisa melihat Vanya yang sedang tersenyum sambil melihat tv. Vanya terhibur oleh acara tv.
Vano langsung menghampiri Vana dan menariknya agar bangun.
Plak,,
Vano men*mpar Vanya dengan keras, hingga Vanya terduduk lagi di sofa. Sudut bibir Vanya mengeluarkan darah segar. Vanya memegang wajahnya yang terasa panas karna t*mparan Vano. Vanya berdiri dan berhadapan dengan Vano.
"Van, lo apa-apaan sih!" bentak Vanya.
"Maksud lo apa ngirim surat cerai ini? Lo mau cerai dari gue?" tanya Vano dengan marah.
"Ya. Gue mau cerai dari lo. Gue gak mau punya status istri dari cowok br*ngsek kayak lo"
"Lo bilang gue br*ngsek?"
"Iya. Emang itu kenyataannya. Lo br*ngsek, lo b*jingan tau gak"
"Lo berani ya ngomong gitu sama gue"
"Ya. Gue berani. Lo mau apa, kalo gue berani? Lo mau n*mpar gue lagi? Lo mau m*kul gue? Atau,, lo mau b*nuh gue? Ayo,, gue gak takut Van"
"Gue makin yakin, kalo anak itu bukan anak gue. Anak itu pasti anak cowok lain, kan? Anak cowok hidung belang? Ya, kan?"
"Terserah lo mau ngomong apa. Gue gak peduli" balas Vanya yang tanpa rasa takut.
"Denger. Lo tau kan, kalo lo cerai dari gue, anak lo gak akan punya nama ayahnya. Dan lo mau itu terjadi sama anak lo?"
"Gak masalah. Lebih baik anak gue gak punya nama ayah. Daripada dia punya nama ayah, tapi ayahnya br*ngsek kayak lo"
"Lo bakalan hidup susah"
"Gue bakalan banting tulang buat hidupin anak gue"
"Anak lo bakalan kurang kasih sayang"
"Gak akan. Gue akan kasih anak gue kasih sayang melebihi kasih sayang seorang ayah. Yaitu kasih sayang seorang ibu"
"Anak lo bakalan nanya siapa ayahnya"
"Gue akan jawab dia gak butuh ayah, karna dia punya ibu"
"Lo bakalan dapet hinaan dari masyarakat"
"Lo pikir gue peduli sama omongan orang lain? Gak. Gue gak peduli"
Vano kehabisan kata. Vanya selalu bisa menjawab ancamannya. Vano tidak bisa membuat Vanya bergantung padanya.
"Sekarang, cepet lo tanda tanganin surat cerai itu" titah Vanya.
"Ok. Gue bakalan tanda tangan. Tapi lo, gak boleh nyesel"
"Gue gak akan pernah nyesel"
Vano menandatangan surat cerai itu dengan terpaksa.
"Liat, gue udah tanda tangan. Puas lo?"
"Sekarang lo pergi dari rumah gue" usir Vanya.
"Inget ya. Meski lo dateng dan mohon-mohon buat ngasih nama gue ke anak lo, gue gak akan sudi. Anak lo bakalan jadi anak tanpa ayah"
"Pergi!" teriak Vanya.
"Gue gak akan pernah nerima anak lo"
Vano sangat kesal karna Vanya terus berteriak dan mengusirnya.
"Lo bener-bener gak takut ya sama gue" tantang Vano.
"Gak. Gue gak pernah takut sama lo. Sekarang lo cepet pergi dari rumah gue. Gue gak mau liat muka b*jingan lo lagi" balas Vanya.
Vano melayangkan tangannya pada Vanya dan bersiap untuk m*namparnya lagi. Vanya menutup matanya kala Vano mengangkat tangannya. Namun Vanya tidak merasakan t*mparan dari Vano. Akhirnya dia membuka mata.
Alangkah terkejutnya saat dia melihat Arsen berdiri di hadapannya dan menahan tangan Vano. Arsen dan Vano tampak saling tatap. Tapi tatapan Arsen lebih tajam dan menghunus.
Bugh,,
Arsen meninju Vano sekuat tenaga sampai Vano terjungkal ke belakang.
"Beraninya lo mau m*kul Vanya. Lo udah bosen hidup?" ujar Arsen dengan dingin.
"Kurang ajar lo" geram Vano.
Vano bangkit dan bersiap untuk membalas tinjuan Arsen. Arsen juga sudah siap untuk bertarung dengan Vano.
"Akh.." pekik Vanya saat melihat perkelahian Arsen dan Vano.
Pertarungan mereka sangat sengit. Namun Arsen lebih mendominasi pertarungan. Arsen terus menghajar Vano tanpa ampun. Vano sudah hampir babak-belur dihajar oleh Arsen.
"Sen,, udah cukup" ucap Vanya.
Arsen menghentikan aksinya. Arsen menyeret Vano ke luar rumah Vanya. Arsen menghempaskan tubuh Vano ke tanah.
"Pegi lo. Jangan pernah lo ke sini lagi. Jangan temuin Vanya lagi.Kalo coba temuin Vanya, gue pastiin lo gak akan hidup lama" ucap Arsen.
Setelah mengatakan itu, Arsen masuk kembali ke dalam rumah Vanya.
"Van, lo gak papa?" tanya Arsen khawatir pada Vanya.
"Gak gue gak papa" jawab Vanya.
Arsen melihat luka di sudut bibir Vanya. Arsen mengusap luka itu. Dia merasa marah saat melihat luka Vanya. Arsen langsung memeluk Vanya dengan erat.
"Maafin gue Van. Gue telat" sesal Arsen.
"Gak Sen, lo gak telat kok" balas Vanya.
Arsen melepaskan pelukannya.
"Gue denger apa yang Vano bilang ke lo. Semuanya" ucap Arsen.
Ya, Arsen memang mendengar semua apa yang dikatakan Vano pada Vanya. Tapi Arsen tidak tau saat Vano men*mpar Vanya. Dia datang saat Vanya dan Vano sedang beradu mulut. Arsen pikir akan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan sendirinya. Karna mereka yang memulia, maka mereka juga yang harus mengakhiri.
Mata Vanya mengembun. Dia ingin menangis.
"Hiks,, hiks,, hiks.." Vanya menangis.
"Lo kenapa? Lo hebat karna lo udah berjuang Van. Lo menang. Vano udah kalah" ucap Arsen.
"Gue lega Sen. Gue udah mutusin hubungan gue sama Vano. Hiks.." balas Vanya.
Arsen memeluk Vanya lagi guna memberikan rasa tenang. Vanya sangat nyaman berada dalam pelukan Arsen.
"Sen, bawa gue pergi. Gue gak mau hidup di sini lagi. Gue gak mau ketemu sama keluarga Vano" pinta Vanya.
Arsen melepas pelukannya dan menatap Vanya dengan lekat.
"Memang itu yang akan gue lakuin. Gue akan bawa lo pergi ke tempat yang sangat jauh. Kita akan memulai kehidupan baru kita" balas Arsen.
Vanya tersenyum. Sungguh, dia sangat beruntung memiliki Arsen di sisinya.
"Sekarang, ayo kita beresin barang-barang lo. Malam ini kita pergi dari negara ini"
Vanya menganggukkan kepalanya.