Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Epilog



Leura mengencangkan sealtbet, senantiasa terus mengarahkan jalan pada ayahnya yang menyetir, "Aku masih ingat, ini jalan menuju bangunan itu, mirip pabrik. Mereka pasti di sana."


Sementara Luz hanya bisa mengerutkan dahi setiap kali kendaraan beroda empat yang ditumpanginya membelokkan arah sesuai ucapan Leura, "Sebelumnya, aku tidak mengerti apa yang akan kita lakukan."


Urgre meliriknya sekilas lewat spion, "Mesin waktu itu, yang sudah kau gunakan. Harus segera dihancurkan sebelum berhasil dikuasai tangan yang tidak berhak. Ereluz, harusnya kau sudah mendengar hal ini dari pengalamanmu menjelajah waktu."


"Aku.. lari dari tanggung jawab itu. Seseorang dari masa lalu sudah permah mengatakan kalau akulah pemegangnya," ujar Luz, perkataan sejujur-jujurnya yang pernah ia ungkapkan selama ini.


"Masalahnya, sekarang mesin waktunya sudah dibawa sekelompok orang yang bukan hak. Kita tidak mungkin merebutnya, jadi kita harus menghancurkannya, maksudku kau."


Ia kembali mendongak, usai beberapa saat hanya menundukkan kepala seolah merasa bersalah, "Kenapa, aku?"


"Karena kaulah pemegang yang sebenarnya. Kau bisa mengakhiri penyelewengan ini semua," Urgre mejeda dengan menghela napas sejenak, "Mesin waktu adalah sesuatu yang membuat kita tamak, lupa akan kodrat. Kalian tahu sendiri kalau waktu adakah segalanya, impian manusia memang menciptakan pemutar alur waktu sesuai keinginan, dan jika hak itu terjadi, diketahui semua orang. Mereka akan melakukan apapun sesuka hati, karena merasa bisa mengembalikan semua berkat mesin waktu."


Leura menyahut, "Untuk itu... dari pada diperebutkan demi hal duniawi, ayah lebih memilih menghancurkannya?"


...---...


"Prof. Alenio," Julian menegakkan tubuh, sambil berjalan dengan cara aneh karena pakaiannya yang unik, "Bajunya berat sekali, terbuat dari apa benda ini?"


"Baja, untuk meminimalisir efek radiasi wormhole. Jadi ketika kau sampai ke semesta tujuan, tidak ada hal buruk yang akan melukai fisikmu."


"Ini aman kan?"


"Sudah jelas. Sekarang bersiaplah di tempatmu, terowongan hologram itu," pria itu lantas duduk menghadap mesin komputer kuno.


"Emm, pemilik mesin waktu ini tidak mungkin bertindak kan?" Julian ikut duduk disampingnya, sambil menatap datar layar komouter tersebut. Sejenak ketika Prof. Alenio mengalihkan atensi padanya, Julian justru melengos, "Aku mengkhawatirkan keselamatanku sendiri, bagaimana jika aku masih berada di tempat lain dan kalian ditangkap polisi."


Prof. Alenio tertawa kecil, "Orang itu tak akan menghubungi polisi. Bisa-bisa dia sendiri yang jadi tersangka."


Disisi lain, mobil sedan keluaran lima belas tahun lalu, tengah bersembunyi dibalik pepohonan rimbun yang mengitari bangunan serupa pabrik tersebut. Leura kembali masuk mobil setelah beberapa saat mengendap untuk mengintip situasi, "Penjaga di mana-mana, padahal waktu itu tidak ada orang sama sekali."


"Mereka pasti sudah siaga dengan kedatangan kita," sambung Urgre, ia melirik sedikit tepat pada gerbang utama yang tertutup rapat dengan dua penjaga berdiri di depannya, "Mobil ini pasti masih kuat menabrak gerbang besi itu. Kalian pegangan yang erat, kita melaju kecepatan tinggi," ujarnya sigap, sontak membuat dua gadis remaja itu membelalakka mata.


Luz memegang dada, 'Astaga, aku merasa belum benar-benar sembuh.'


Mobil itu benar-benar melaju, dengan berani menerjang gerbang besi tanpa ada rasa keraguan sama sekali, membuat kedua penjaga yang tadinya sudah bersiaga terpaksa menyingkir, daripada mengorbankan nyawa dengan yang bukan tandingan.


Usai berhasil menghancurkan pintu masuk, mobil tiba-tiba berhenti. Sudah jelas rusak.


Leura menghadap ke belakang, "Luz, masuk ke dalam dan hancurkan mesin waktunya."


"Ta-tapi, Leura. Kau dan ayahmu bagaimana?"


"Kami pasti bisa mengatasi ini. Mereka tidak akan berani membunuh. Cepatlah pergi agar semua segera selesai," ketika penjaga mulai mengerumuni, Leura dan Urgre segera keluar, sementara Luz yang berada di jok belakang. Mengendap-endap keluar, lantas memasuki celah bangunan tersebut yang rupanya langsung terhubung dengan ruang kendali listrik dan peralatan lain.


Prof. Katana tersenyum miring saat mendaoati panggilan untuk memeriksa situasi dari kamera pengintai, "Mereka nekat datang, beruntung penjaga sigap menangkap."


"Hanya dua orang yang ditangkap, sementara CCTV gerbang menangkap rekaman satu lagi orang yang duduk di jok belakang," pria itu menunjuk gambar orang agak buram.


"Pantau terus CCTV lain, kemungkinan dia sudah masuk. Julian--Julian? Di mana anak itu?!" Srharusnya Julian berada di sampingnya, namun anak itu tiba-tiba menghilang.


Prof. Katana menuding pakaian logam di depannya, "Prof. Alenio, anakmu kabur lagi. Dia melepas baju pelindungnya dan pergi entah kemana."


Namun ternyata, orang yang mereka cari sedang berada di depan, bersidekap dada sambil senantiasa mendengarkan ocehan kecewa Leura yang kini sudah diborgol, "Julian! Kau sangat jahat melakukan ini padaku, pada keluargaku."


Lelaki itu meraih tangannya, dan menggenggam sebelah lubang borgol untuk dilepaskan, "Maaf, kalian jangan bertindak banyak kalau tidak mau disakiti. Mereka tidak akan segan-segan melakukannya karena kami bahkan bisa memalsukan kematian."


Leura menukikkan alis tajam, "Bisa-bisanya kau bicara seperti itu padaku?"


"Aku akan melepaskanmu, tapi jangan pernah kembali datang, jangan cari mesin waktunya lagi," setelah tangan gadis itu lepas dari borgol, Julian sigap memegangi keduanya dengan erat. Ia lantas beralih memandang salah seorang penjaga, "Antarkan mereka pulang, jangan sampai terluka sedikitpun."


Julian memandang sendu kepergian mereka, mendadak atensinya beralih pada celah menuju ruang listrik, ada sekelebat bayangan yang terus mondar-mandir di dekat jendela kaca gelap.


Luz mengintip lubang kunci, pintu keluar ruang listrik ini langsung terhubung dengan laboratorium di mana orang-orang yang memakai snelli berlalu-lalang, 'Aku bisa merasakan mesin waktunya di dalam, tapi di sana ada begitu banyak orang. Harus cari cara!'


Ia memutar pandangan ke sekitar, dan menemukan suatu ide. Tanpa pikir panjang, Luz menekan tombol peringatan kebakaran dan menyalakan pancuran. Hal itu membuat air mengucur di setiap sudut ruangan yang berfasilitas.


Ia menanti semua irang keluar, dan segera berlari menuju mesin waktu di sudut ruangan, setelah sepi tentunya.


Luz meraih benda keras dari besi berbentuk tangan, ia hampir saja memukul komputer kuantum itu ketika seseorang menghalanginya. Tangan berurat mencekal erat pergelangannya. Sementara si pelaku jistru menyeringai sambil berbisik dari belakang, "Kau cukup bagus untuk bertindak kacau, tapi cak cukup pandai mengelabui. Aneh sekali orang-orang langsung panik, berhamburan keluar saat kau menekan tombol peringatan."


Luz hampir pingsan saat berbalik, ia tidak bisa mengekspresikan keterkejutannya dengan baik. Akhirnya ia menjatuhkan tangan besi itu, dan langsung memeluk lelaki dihadapannya, sambil melingkarkan lengan di lehernya, "Aku tak mau tahu bagaimana kau bisa kemari, tapi terimakasih."


Julian menjauh seraya mendoronya, "Apa-apaan!"


"Juan?"


Seketika Julian mengerti posisi, ia menaikkan sebelah sudut bibir seakan mengejeknya, "Julian, bukan Juan. Oh, orang yang kau maksud pasti raja penguasa Aragon itu ya? Sayang sekali dia sudah kembali meninggalkanmu," ia menatap Luz kasihan, "Kau ingin bertemu dengannya lagi kan?"


Gadis itu juga sadar jika yang dihadapannya bukan orang yang ia pikirkan.


Julian memegang bahunya sambil melempar senyum manis, "Kalau begitu jangan hancurkan benda ini, kau bisa kapan saja pergi ke masa lalu dan menemuinya."


'Semua harus segera diakhiri,' mendadak sebuah kata terlintas, Luz sontak menggelengkan kepala. Ia menjauh dari Julian dan secara dadakan menghantam mesin waktu menggunakan kursi, "Takdir adalah takdir, tuhan sudah memberikan kesempatan untuk hidup, kita tidak boleh lagi melakukan penyelewengan. Kita tidak boleh."


Julian mengacak surai, "Sialan!"


"Ka-kau jahat."


Julain tak begitu peduli dengan gadis itu, ia menatap kedipan merah dengan hitungan angka mundur, "Sial! Sial! Sial! Benda ini akan meledak!"


...---...


Saat semua orang sudah berada di luar ruangan, Prof. Alenio menelisik satu-per satu, orang yang paling ia kenal justru tidak ada di kerumunan itu, "Julian masih di dalam!"


Dan ketika beberapa dari mereka hendak kembali masuk, ledakan keras justru terdengar, api dan asap berkobar kemana-mana merambat dengan cepat seluruh bangunan tersebut, "Tapi apinya berkobar semakin ganas, kita tidak mungkin menerobos untuk menyelamatkannya."


"Astaga, semuanya hancur! Kacau sudah!" Panik Prof. Katana.


Tak lama kemudian gerombolan mobil dengan sirine bersahut-sahutan mendekat, semua orang sontak berhamburan, "Polisi datang, kita harus pergi."


Cassandrea, Urgre, dan Leura berada di salah satu mobil polisi itu. Ibu Ereluz mengusak kasar surqinya sambil berseru, "Lagi-lagi Ereluz menjadi korban! Ini semua gara-gara kau, Urgre!"


Namun ketika mobil baru saja berhenti, sosik gadis berjalan terpincang-pincang sambil menahan tumpuan pada lelaki disampingnya dengan wajah tampak melepuh sebelah, "I-itu Luz..."


"Dan Julian."


Cassandrea berlari mendekati mereka. Gadis itu tersenyum lebar melihat kedatangan sang ibu, namun sedetik kemudian keduanya limbung, "Luz!"


Ereluz memejamkan mata sambil mangatur napas, sama seperti Julian, "Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


Perlahan, napas mereka melemah dan kemudian tidak ada sama sekali. Tubuh keduanya membujur kaku dan tak ada pergerakan.


Seperti yang sudah dikatakan, takdir adalah takdir, tuhan telah memberikan kesempatan untuk hidup, segala penyelewengan harus diakhiri. Ereluz seharusnya sudah mati sejak lama, tapi dia berhasil merusak susunan waktu, sementara Julian, mungkini kali ini waktu yang tepat untuk menerima ajalnya.


Sama seperti kehidupan mereka sebelumnya, Sierra dan Juan tidak bersatu, layaknya Ereluz dan Julian yang juga tidak ditakdirkan, meski mereka menghembuskan napas terkhir secara bersamaan.


END