Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
The Lost Girl



"Kalian pikir dengan begini aku akan pasrah?!" Luz terbelalak melihat sosok tak asing di hadapannya. Mereka berhenti di perbatasan antara Galicia dan Aragon, tubuh gadis itu terombang-ambing ketika di seret semakin masuk menuju hutan.


Jevin berceletuk sambil mengikuti dari belakang, tangannya bersidekap di depan dada, "Tolong ikat mulutnya, terlalu banyak bicara."


Sementara Luz tak sama sekali mengalihkan perhatian pada salah satu lelaki di samping, yang tengah menyeret tubuhnya. Luz berdecak kemudian berbisik, "Hey, Amer! Ternyata kau... licik, pengkhianat!"


Dia menyeringai kecil tanpa memandang lawan argumen, "Bukan aku yang pengkhianat, tapi dirimu sendiri, dasar muka dua," sindir Amer membuat Luz seketika menyadari kelakuannya sendiri. Tapi ia tetap tak ingin mati dalam keadaan seperti ini, dibunuh oleh keserakahan mereka yang memiliki sifat tak jauh darinya.


Semua harus diselesaikan, yang jahat harus mati. Maka setelah itu jika ia yang harus dieksekusi pun tak masalah. Barangkali itu hukuman dari tuhan untuk menebus segala kesalahan di masa lampau. Tapi seharusnya kematian bukan jalan satu-satunya.


Luz merengut sebal sambil kembali berontak, "Jika kalian berani membunuhku, maka--"


"Diamlah... Sierra yang ku kenal, tak berisik seperti ini," potong Ares. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar.


"Aku bukan Sierra!"


"Lihat, sekarang kau mengakuinya," ujar Ares kemudian, Luz merasa terjebak, ia hanya bisa terdiam.


Kepulan asap hitam memenuhi, aura kehangatan yang semakin panas terasa mendekat. Kini di hadapan semua orang, kobaran api merah itu seolah sengaja dipersiapkan untuk memanggang tubuh Luz hidup-hidup. Jevin memegang bahunya seraya membisikkan kalimat yang membuat tubuh gadia itu menegang kaku, "Ereluz, di depan sana, seperti yang kau lihat. Kobaran api itu akan menghanguskan tubuhmu. Tapi tenang saja, untuk saat ini kau masih bisa melihat dunia karena ada hal yang harus kau lakukan."


Amer merasa ada yang salah, ia pun mengintrupsi, "Meskipun dia salah, kita tak boleh membunuhnya sembarangan, Pangeran Jevin."


Sebenarnya kobaran api besar itu sengaja dibuat untuk menghangatkan para pasukan dari kerajaan Galicia yang sering berjaga di sekitar kawasan, jadi api itu tak untuk membunuh Luz, melainkan hanya untuk menakuti dan membuatnya percaya jika mereka tak main-main.


Jevin berbalik sambil tersenyum, "Tenang saja Amer, api itu hanya untuk ancaman. Kita akan mengamankan gadis nakal ini sementara di Galicia untuk menghindari perbuatan Juan."


"Benar, selama kita membuat kesepakatan di Aragon, maka Ereluz lebih baik diamankan di Galicia, kastilku. Maka tidak akan ada pengganggu ataupun penyusup," kata Ares yang semakin membuat Luz merinding. Sejak tadi, pria itu menatapnya penuh ancaman.


"Ayahku harus tahu siapa dia, lalu membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan pada gadis ini," timpal Jevin, "Bukankah begitu, Ereluz? Kau siap menanggung apapun konsekuensi atas perbuatan yang sudah kau lakukan?"


"Raja Saloar bahkan sudah tahu siapa aku," Luz menaikkan sebelah alis, "Jadi, jika kau mengancam kami untuk mendapatkan takhta Aragon, itu tak akan berhasil. Juan tetap penerus sah, tidak bisa digantikan siapapun."


"Bicara apa kau?!" Jevin panik karena ada Amer, jika panglima itu mengetahui sebab ia berada di sini.


Ares Mendengus, "Sudahlah, dia pasti hanya mengancam. Kalau Raja Saloar memang sudah tahu, harusnya dia sudah dieksekusi. Jangan terlalu mudah mempercayai."


"Aku tak bohong. Kalian akan menyesal jika berbuat buruk pada Juan."


...---...


Juan memasuki rumah kontrak yang ditempati Feuji dan Reagel sementara, ia melangkahkan kaki secara kasar lalu duduk a bentar dan kembali mondar-mandir kebingungan, "Dia tak ada dimanapun, beberapa utusanku pergi ke Kastillia. Mereka tidak menemukan jejak Ereluz sama sekali. Karena identitasnya masih sebagai Sierra, harusnya jika dia benar-benar pergi ke sana, penduduk Kastillia pasti mengenali."


Hal itu membuat Juan dan Reagel terdiam seketika. Bagaimana kalau apa yang Feuji ucapkan memang benar, pelaku hilangnya Sierra saja belum diketahui, haruskah Luz juga ikut menjadi korban. Atau setiap reinkarnasi orang yang sama akan mengalami hal yang sama pula. Bulankah ini tidak adil?


Juan kemudian berceletuk setelah sekian lama terdiam, "Tempat mana saja yang kemungkinan Luz datangi?"


Tak ada yang menjawab. Mereka memang tak tahu apapun.


Hingga beberapa menit, Feuji baru berceletuk, "Bagaimana dengan rumah Hareen? Masa lalu dari kehidupan lama Reagel?"


Semebtara Juan membalasnya dengan gelengan kepala, "Tidak mungkin Ereluz pergi ke sana, untuk apa? Bukankah seharusnya dia mencariku?"


"Orang itu bersangkutan dengan dirinya, Luz mungkin memang datang ke rumahnya."


"Tapi letak tempatnya kalau tidak salah di desa balik bukit ujung Aragon, itu sangat jauh. Sebaiknya aku mengutus orang untuk pergi ke sana, selagi kita mencari di sekitar sini saja."


Reagel menyela, "Sebelumnya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan? Seperti hal-hal janggal yang tidak terlalu tampak."


"Tidak ada--tapi, aku tak melihat kakak pertamaku seharian ini, seharusnya dia masih di Aragon karena tuntutan pergi ke wilayah kepemilikannya masih ditunda dua bulan lagi. Aku curiga, sebaiknya ku temui ayah dulu," Tanpa mengatakan apapun, Juan melenggang pergi menemui sang ayah di kastil.


Pria itu langsung menyambutnya dengan jawaban jelas. Membuat Juan kembali dirundung kebingungan, "Jevin meminta izin untuk melihat kesana, subuh dia sudah berangkat."


"Lalu bagaimana dengan Ares? Apa dia sudah kembali?"


"Ayah menyelesaikan sendiri masalah perselisihan itu, Ares akhirnya mengalah karena tak mendapat bukti jelas. Dia sudah kembali ke kerajaanya."


Yang lebih muda mengacak surainya kasar, disertai tatapan penuh kesedihan, "Ereluz menghilang, aku sudah mengirim utusan kemana-mana, tapi masih tak ada kabar tentangnya. Karena Jevin dan Ares menghilang, aku mendadak jadi curiga pada mereka."


"Jadi maksudmu, mereka menculik Ereluz? Itu sangat tidak mungkin. Ares dan Jevin bahkan tak dekat dengan gadis itu."


"Ayah tak pernah tahu tentang mereka, Ares sepertinya memang menyimpan dendam padaku, pada Sierra juga. Bisa jadi dia yang membawa Ereuz pergi."


Sang ayah menahan, tatapan mata menyiratkan kekesalan meskipun tertutupi raut kasih sayang, "Jangan kembali berurusan dengan Galicia, baru saja masalah selesai, kau akan membangun yang baru? Jauhi Ares ataupun Galicia, Ereluz pasti ada di sekitar sini."


"Aku tetap akan menemuinya dengan jalur damai, ayah tenang saja."


...---...


Telapak kekat tersebut menyentuh permukaan kulit wajahnya, dengan erat dia mencengkeram hingga menimbulkan ruam merah di sekujur wajah, "Luz, itu bangkai Sierra. Kalau kau tak mau jadi sepertinya, maka turuti ucapanku dan... teruslah berada di pihak kerajaan Galicia sampai kapanpun."


TBC