
Warga terkejut saat melihat Arabel keluar dari rumah Einne. Sedangkan si pemilik rumah mendesah lega, untung saja ada Arabel.
"Ya ampun kakek Fiji.., yang kau kira Puteri Mahkota itu ternyata hanya Arabel, anak pak Gamma pemilik peternakan."
Sedangkan kakek Fiji ling-lung, Nolian, sang anak pun langsung memaksa ayahnya untuk kembali ke rumah.
"Ada apa ramai-ramai?" Tanya Arabel.
"Kakek Fiji mengira ada Puteri Mahkota di rumah Einne, ternyata kau yang di sana."
Arabel mengernyitkan alis "Puteri mahkota?" Di rumah Einne hanya ada dirinya dan Luz, kalau misalkan kakek Fiji tidak berbohong, berarti Luz adalah Puteri mahkota yang di maksud.
"Sudahlah, kita bubar," kata Einne mengakhiri.
Wanita paruh baya itu pun masuk ke rumahnya diikuti Arabel.
Sesampainya di dalam, Arabel langsung mengunci pintu "Bibi Einne, apa yang dikatakan Kakek Fiji benar? Ada Puteri mahkota di sini? Dan yang ada hanya Luz, apakah Luz seorang Puteri mahkota?"
"Aku bukan Puteri mahkota woy! Aku Ereluz Rivera dari masa depan," Sahut Luz yang baru keluar dari tempat persembunyian sembari memakan apel.
Arabel kembali dikejutkan "Bicara apa kau ini? Mana ada masa depan?"
"Tentu ada, hari esok itu sudah termasuk masa depan, dan kemarin termasuk masa lalu," balas Luz sok menjelaskan.
"Astaga Luz, jangan mengada-ada..."
"Aku bicara apa adanya."
Einne menghela napas "Arabel, kenapa kau bisa di sini?"
"Luz menyuruhku memasak lagi bi, tadi sebenarnya kedatanganku kemari hanya untuk mengantar buah pada Hareen dan teman-teman."
"Oh syukurlah, sungguh. Untung saja ada dirimu, kalau tidak Luz pasti sudah ketahuan."
Einne lantas mengalihkan pandangan pada Luz, gadis itu tampak khawatir dengan arah penglihatannya "Luz, sekarang jujur padaku. Apakah kau Puteri mahkota?"
"Arabel bilang pria tua tadi gila, tapi kenapa bibi juga ikut-ikutan?"
"Bukan begitu..., kakek Fiji tidak mungkin mengada-ada, walaupun dia agak kurang sehat, tapi ingatannya sangat tajam. Kalau dia mengenal wajah Puteri mahkota, tak akan lupa begitu saja."
Luz memijat keningnya, ia merasa kecewa saat ucapannya tak dipercaya "Seperti kataku, bibi. Aku berasal dari tahun 2020, tandanya keberadaanku di sini adalah sebagai seseorang dari masa depan kan? Aku benar-benar jujur..."
Arabel yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dan menyimakn pembicaraan keduanya.
"Kalau kau seorang Puteri mahkota, dari mana asalmu? Kerajaanmu?"
"Bibi, sudah ku bilang, aku dari masa depan!"
Luz dan Einne tersentak saat Arabel berseru kencang "Luz!" Lantangnya "Apakah kau... Puteri Sierra dari Kastillia? Puteri yang hilang."
"Oh ya bisa jadi, apakah kau melihat lukisan Puteri Sierra waktu itu, Arabel? Para pengawal kerajaan berkeliling desa kita untuk menyebar gambar sang Puteri kan?"
Arabel menggeleng "Waktu itu aku di ladang, tidak ikut berkumpul."
"Heh, ya ampun. Sudah ku bilang, aku bukan Puteri apalah itu..."
"Jangan begitu! Kalau kau ada masalah dengan kerajaan. Maka bicarakan baik-baik, jangan kabur seperti ini..." Einne menepuk lembut surai Luz. Membuat pemiliknya merinding.
"Bibi..." Keluh Luz.
"Bibi Einne, ayo pastikan kalau Luz bukan Puteri mahkota. Katanya, ada satu lukisan Puteri Sierra yang masih dipasang di balai kampung. Kita bisa ke sana," Arabel menyarankan, membuat Luz melotot tidak terima.
"Harus berapa kali ku bilang?! Aku bukan Puteri mahkota!"
"Tapi kau mencurigakan!" Bentak Arabel balik.
"Ah, ya sudah. Silahkan pergi lihat lukisan itu... Aku juga tidak peduli," balas Luz acuh, sebab ini dirinya, masih dirinya anak ayah Jake dan ibu Cassandre. Bukan Puteri mahkota yang katanya hilang itu.
...---...
Einne dan Arabel benar-benar pergi ke balai kampung, memastikan kebenaran kalau Luz bukanlah seorang Puteri apalagi Puteri Sierra yang hilang.
Kecurigaan Einne memang sudah ada sejak kedatangan gadis muda yang katanya dari masa depan itu.
Ketika Hareen menemukannya, pakaian Luz saja sudah sangat mewah dan menawan, bagai seorang ratu. Apalagi dia sangat cantik, menambah kesannya sebagai seorang Puteri.
Tapi sikap Luz memang bar-bar dan banyak bicara, tidak ada kebijaksanaan, kelembutan, ke-anggunan, dan sebagaimana sikap seorang keluarga bangsawan pada umumnya.
Luz juga punya warna rambut yang sedikit aneh, memang tidak ada di jaman ini.
"Atau jangan-jangan, Luz adakah seorang dewi?" Celetuk Einne, membuat Arabel mendengus kesal.
"Bibi, seorang dewi tidak akan turun langsung ke bumi."
"Bisa jadi Arabel, dia sangat cantik. Saat pertama kali Hareen menemukannya di hutan, Luz memakai gaun mewah. Berliannya asli, pasti sangat mahal karena susah dicari. Kalau bukan bidadari lalu apa?"
Arabel mengerucutkan bibir, pujian Einne untuk Luz terlalu berlebihan, membuatnya minder 'Semoga saja, bibi Einne tidak berniat menjadikan Luz menantunya,' batinnya.
Keduanya sampai di balai kampung, mereka bisa leluasa masuk karena sudah dikenal sebagai warga setempat. Jadi para penjaga mempersilahkan dengan baik.
"Lukisan Puteri Sierra ada di aula utama. Kenapa kalian ingin melihatnya lagi? Bukankah pengawal kerajaan sudah berkeliling menunjukkannya kemarin?" Tanya salah seorang penjaga balai yang mengarahkan mereka ke aula.
"Kami belum melihatnya kemarin, makanya penasaran, katanya cantik sekali kan?" Tanya Einne berbasa-basi.
"Iya, memang sangat cantik. Sayang sekali, kemana dia hilang tidak ada yang tahu. Oh ya, kalau kalian berniat ikut mencarinya, ada hadiah besar. Lumayan..."
"Wah... aku tidak tahu akan adanya hadiah itu."
"Makanya ku beri tahu. Sudah ya, di depan sana ada aula, pintunya terbuka, bisa langsung masuk," kata penjaga tersebut, kemudian melenghang pergi menyusul teman-temannya yang mengangkuti makanan "Aku akan makan siang dulu."
Einne dan Arabel menuju ruang di sudut, belum sampai masuk, Einne sudah sempoyongan "A-apa aku bilang... Luz itu..."
"Puteri mahkota, Puteri Kastillia yang hilang," sambung Arabel yang tak kalah terkejut. Jadi apa yang kakek Fiji katakan itu memang benar, ada Piteri mahkota di rumah Einne.
Mereka melihat dari kejauhan, lukisan perempuan di aula itu sudah sangat jelas wajahnya. Cantik, bersurai hitam panjang, cara duduknya anggun dan sopan.
Dia Puteri Sierra, sosok yang serupa dengan Ereluz.
Hanya ada beberapa perbedaan, Puteri Sierra di lukisan tampak berwajah tenang dan lembut, surainya panjang hitam, kulitnya putih, sedangkan wajah Luz terlihat selalu mengeluarkan emosi, ia juga punya rambut yang pendek sebahu, warnanya coklat terang dan kulitnya sedikit lebih pucat dari Puteri Sierra. Tapi keduanya seperti tidak ada bedanya, mereka orang yang sama.
"Jadi, Luz adakah Puteri Sierra. Ya ampun," Einne masih belum bisa percaya kalau lukisan di hadapannya menunjukkan wajah Luz, wajah yang sama dengan Luz. Atau mungkin memang Luz.
"Tapi kenapa dia kabur dari kerajaan? Bukankah Luz calon pengantin Pangeran ke-empat Aragon? Sepertinya tidak ada masalah apapun, kenapa tiba-tiba pergi bersembunyi di desa kita."
"Bagaimana ini Arabel? Aku harus bagaimana? Seorang Puteri ada di rumahku," panik Einne menyadari kalau gadis itu tengah dicari-cari semua orang.
Kalau ketahuan menyembunyikan Puteri mahkota, ia dan anak-anaknya bisa disangkut-pautkan, terlebih kerajaan itu kejam.
Para bangsawan bisa kapan saja membunuh Einne dan Hareen.
"Bibi tenang ya, kita pulang dan bicarakan baik-baik dengan Puteri Sierra," ujar Arabel menenangkan, padahal dirinya sendiri juga panik. Kalau saja juga disangkut-pautkan karena tahu keberadaan sang Puteri yang hilang itu.
...---...
Seorang Puteri mahkota yang malah menangis ketika dipanggil Puteri.
Einne dan Arabel sampai kehabisan kata-kata untuk menennagkannya, apalagi Luz adalah orang yang jarang menangis, jadi sekalinya menangis pasti akan sangat lama.
"Kami minta maaf Puteri..., kami bukan bermaksud buruk padamu," Kata Einne menyesal sudah menbicarakan kembali asal-usul kedatangan gadis itu.
"Jangan panggil aku Puteri Sierra lagi, jangan usir aku, jangan.... yang penting jangan," ucap Luz di sela isakannya.
"Tapi kau Puteri Sierra--"
"Sudah ku bilang bukan!"
Einne menengahi keduanya dengan berdehem pelan "Yang mulia Puteri Sierra, bukannya kami bermaksud untuk menyuruhmu pergi dari rumah ini, tapi kau harus kembali ke istanamu. Semua orang tengah mencari, kalau mereka sampai tahu keberadaanmu di sini, kami yang akan terkena masalahnya. Kerajaan bisa saja memenjarakan kami..."
"Aku tidak tahu apa masalahmu keluar istana dan membohongi kami sebagai orang dari nasa depan. Tapi tolong pikirkan juga kami, dari masalah yang akan kau timbulkan kalau seandainya kerajaan mengetahui keberadaanmu disembunyikan di sini," sambung Arabel yang semakin membuat Luz merasa bersalah.
Ia tidak tahu apa-apa sekarang ini, dirinya adalah Ereluz, bukan seorang Puteri mahkota apalagi Puteri yang hilang.
Kalau seandainya pergi dari rumah Einne, mau kemana lagi.
Luz menangis karena ingin kembali pulang berkumpul bersama ayah dan ibu, hanya satu itu harapannya, kembali ke jamannya dan beraktivitas sebagai Ereluz lagi.
Tapi ia sadar apa yang terjadi sekarang ini seperti sebuah kutukan, Luz yang hidup mewah selalu berbuat buruk di masa depan, dan kini ia dihajar dengan hidup kesulitan.
'Tapi kalau misalkan wajahku serupa dengan Puteri mahkota itu, bukannya malah menguntungkan. Aku bisa ke sana dan tinggal bersama bangsawan istana, hidup newah lagi,' memang pada dasarnya Luz punya sikap tamak, ada saja rencana buruknya.
'Bagaiamana kalau aku mengaku saja sebagai seorang Puteri yang hilang itu.'
*TBC
THANK'S FOR READING💞*