Time Travel To Meet The Prince

Time Travel To Meet The Prince
Wish You Back



"Luz! Nekat sekali kau pergi dari sini tanpa sepengetahuanku!" Gadis itu terlonjak kaget, tatapan horor dari sang pangeran seketika membuat tubuhnya kembali menegang bagai menemui anak panah tepat di depan mata.


Raut Juan yang masih tak berubah, membuat Luz menghela napas panjang, sementara bibirnya hanya berucap singkat, "Maaf."


Pada akhirnya Juan mengusap surai dengan kasar, sambil meletakkan kedua tangan di bahu Luz dan menunjukkan raut wajah yang berubah khawatir, "Hhh, lalu bagaimana? Apa yang kau dapatkan?"


Yang ditanya hanya bisa menunduk dalam, seakan menyembunyikan kesedihan yang terpancar dari matanya, "Aku menyerah. Jika harus hidup di era ini sampai mati atau dihukum mati sekarang juga tidak masalah, aku... memang pantas mendapatkannya."


Juan menyadari, sontak ia memindah tangan ke rahang Luz dan mendongakkan kepalanya perlahan sambil mengajukan pertanyaan dengan nada lembut, "Kenapa?"


"Mereka sudah pergi ke Kastillia, beberapa orang yang ku temui mengatakannya."


Ditepuknya pelan surai kecoklatan itu, seraya menunjukkan senyuman paling tulus dari hati, "Kita bisa pergi kesana, hanya Kastillia, mengapa kau se-putus asa itu?"


Luz menggeleng sambil menghendilkan bahu. Perasaan khawatir dan kesedihan seketika meliputi, seolah takdir buruk memang akan menghampiri kehidupannya yang malang, "Entahlah, aku merasakan akan ada hal buruk, kemungkinan kecil juga, aku bisa kembali ke era asal."


Sebenarnya Juan mendapat persentasi lebih banyak untuk menahan Ereluz tetap bersamanya, tapi gadis muda itu terlihat sangat sedih kalau tak bisa kembali ke era asal, ia merasa bersalah sudah gembira atas kekecewaan Luz. Sialnya, lain di hati, lain di bibir, ucapan itu seolah terpeleset begitu saja tanpa memikirkan perasaan sang lawan argumen, "Jika kau memang ditakdirkan berada di sini, maukah untuk terus bersamaku? Bersanding sampai kita menua bersama?"


Benar saja, Luz langsung menyunggingkan sebelah alis sambil tergagap, "Ka-kau baru saja melamarku?" Ia hampir kehabisan kata-kata untuk disampaikan kembali kepada lelaki di hadapannya. Beruntung pikiran tentang Sierra seketika terlintas, "Tapi bagaimana dengan Sierra? Kita juga tidak boleh putus asa mencarinya."


Juan tampak mendesah kecewa dengan tanggapan yang tidak diharapkan. Dengan mencintai Ereluz, sudah sangat menjelaskan jika dirinya belum melupakan Sierra karena pada dasarnya kedua wanita itu merupakan orang yang sama, hanya saja lahir di abad yang berbeda. Namun, ia sediri tidak ingin munafik, Juan terlanjur menyukai keduanya, entah sebagai orang yang berbeda ataupun sama, "Luz.."


Gadis itu melepas telapak Juan yang menyentuh kulitnya, sambil menunjukkan sekilas senyum, "Aku akan berusaha menemukan Sierra untuk balasan kebaikanmu selama ini. Karena.. bukan bermaksud lain tapi--kau tidak boleh menikahiku. Aku harus kembali ke era asal, atau jika tidak bisa, aku akan mati setelah ini, menanggung perbuatan buruk yang telah ku lakukan."


Keduanya sama sekali tak menyadari, pembicaraan tersebut terekam jelas di indra pendengaran seseorang.


...---...


"Bisa kita mengobrol sebentar?"


Ketika langkahnya sengaja dihentikan olwh seorang lelaki yang tak jauh usianya dari Juan, Luz melirik sekilas seraya mengibaskan tangan, "Aku tak punya waktu meladenimu."


Gadis itu kembali melangkah, tapi lelaki yang tak lain adalah Ares, langasung menahannya, "Kita jarang sekali saling berbicara, atau malah tidak pernah. Bukan begitu Puteri makhota--ah, maksudku Luz?"


Mendengar nama aslinya disebut, Luz sontak Mendesis disertai tatapan tajamnya yang tak meluntur. Namun, masih mencoba berpura-pura tak mengerti arah pembicaraan Ares, "Apa yang kau bicarakan?!"


"Dasar pembohong. Aku bisa membuktikan jika kau memang bukan Sierra, hanya dengan menggumamkan kalimat sederhana di bibirku."


Luz mengeram kesal saat raja muda itu semakin melonjak, ia pun menarik Ares menjauhi tempat mereka berpapasan, menuju halaman belakang yang sepi.


Ares bersidekap dada seraya tersenyum miring, "Jadi benar? Kau memang bukan Sierra yang asli? Lalu siapa? Mengapa kalian begitu mirip, atau malah serupa?"


"Jangan apa? Membocorkannya?" Tajyanya meremehkan. Seketika dia memajukan wajah sambil menatap dengan tajam, "Dengar, aku ini seorang raja, dan kau hanya penipu. Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku."


"Karena kau hanya raja gila! Aku mungkin memang penipu, tapi kau seorang bangsawan yang tak lebih baik dariku," balas Luz membuat Ares terkejut, sepertinya gadis di hadapannya bukan seorang yang pasif dan pasrah seperti Sierra, meski rupa mereka sama, tapi dari cara berbicara sudah dapat dibedakan dengan jelas, "Ares, jangan menyebarkan hal ini pada siapapun. Karena sebelum kau melakukan itu, aku sendiri yang akan mengakui."


"Hmm, kelihatan menutupi kesalahan lampau dengan cara sok berubah menjadi orang baik. Idemu memang bagus, tapi apa yang bisa kau jamin kalau aku tidak akan menyebarkannya?"


"Apa yang kau mau, itu yang akan ku berikan," balas Luz enteng, ia bahkan tak memikirkan konsekuensi lain.


"Aku ingin kehancuran. Aragon dan Kastillia harus tunduk di bawah kekuasaan Galicia."


"Huh?! Kau sangat kekanakan! Apa semua ini hanya tentang kekuasaan?" Sindirnya. Area sontak mengeraskan rahang sambil mengulurkan tangan ke leher Luz, "Aku terus melihat sekaligus mendengar tentang perilaku burukmu. Pasti semuanya juga menyangkut kekuasaan? Atau jangan-jangan, peristiwa Sierra menghilang, itu juga karenamu?"


"Apa?! Aku hanya bertanya, kenapa kau mencekikku?!" Luz berontak sambil berteriak, harapannya jika.ada orang yang datang dan melihat kelakuan pria yang dianggap raja ini, "Jika ucapanku tidak benar, harusnya kau tak perlu marah!"


"Aku tidak pernah mengerti. Tapi jika obrolanmu dengan Juan tadi benar, kalau kau manusia dari masa depan, maka seharusnya keberadaanmu bukan di sini. Terdengar tidak masuk akal, tapi apapun yang terjadi, aku harus menghancurkanmu. Mungkin saja kau adaalh reinkarnasi Sierra, yang mana termasuk satu hal yang memberi kekuatan untuk Juan."


"Hentikan omong kosongmu! Aku yang akan membunuhmu terlebih dulu!" Ares seketika menguatkan cekikannya.


"Akh!"


"Jangan macam-macam, kau tidak pernah tahu siapa aku. Karena kali ini aku masih bersedia baik hati, kau tidak akan mati sia-sia."


'Harusnya aku mau belajar sejarah, nama dan sifat Ares pasti tercantum di sana,' batin gadis itu, wajahnya sudah memucat, "Kau yang akan menyesal jika membunuhku. Karena takdirnya memang tidak begitu."


"Aku harus menyelesaikan sesuatu, sebelum membunuhmu di depan mata Juan secara langsung," ujarnya santai setelah puas melihat Luz kehabisan napas.


Meski begitu Luz masih berusaha menyumpahi, meski keadaan tenggorokannya tidak baik-baik saja, "Ka-kau yang akan mati! Ku peringati untuk berhati-hati."


"Omong kosong!" Tubuh Luz pun ambruk di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri. Ares seketika menyunggingkan senyum miring, "Atau sebaiknya ku habisi kau duluan, penipu."


...---...


"Ereluz ingin pulang, aku tak boleh egois untuk menahannya di sini. Apapun yang terjadi nanti, usaha untuk mengembalikannya haruslah terlaksana lebih dulu," monolog Juan. Selesai dengan rencana pribadinya, ia memangil seseorang, "Jedd, cari tahu tentang pria bernama Feuji yang sekarang berada di Kastillia, sebelumnya dia adalah penduduk Aragon."


"Salah satu utusan sudah mengetahui kediaman pria bernama Feuji itu, dia tinggal berdua bersama cucunya. Apakah kami perlu membawa mereka kemari?"


"Tidak perlu, aku yang akan datang langsung kesana. Pastikan saja, jika mereka memang tinggal di sana."


TBC