
Saat ini Feuji sudah duduk di ruang makan bersama Reagel dan Luz, tanpa pikir panjang si gadis memulai pembicaraan dengan menyentak "Bagaimana caramu membawa kami ke sini? Dan kenapa alasannya, juga... kembalikan kami ke era yang sebenarnya, seharusnya kami hidup."
Feuji mngernyitkan dahi 'Anak ini memang tidak paham dengan keberadaanya sendiri' batinnya. "Apa yang kau maksud kami? Aku memang orang yang membuat Reagel berada di masa ini, tapi kau, aku bahkan tidak mengetahui siapa kau."
Luz sontak menggebrak meja milik pria tua itu seraya berdiri berkacak pinggang "Jangan bercanda!"
Melihat kakeknya yang tampak memegang dada, Reagel seketika memukul kepala Luz, dan memaksa gadis itu untuk duduk "Tidak sopan sekali!"
"Jadi, kau percaya begitu saja pada orang ini? Tapi Reagel--"
"Akan aku tunjukkan kalau Reagel adalah keturunanku, dan kau... aku sama sekali tidak memiliki masalah dengamu," potong Feuji jenuh, Ereluz yang pemarah membuatnya kesal, sejak bangun dari ketidak sadarannya, anak gadis itu sama sekali tidak bersikap baik padanya.
...---...
"Sayangnya aku tidak bisa menunjukkan saat ini juga, letak peralatan yang dapat membuat Reagel berada di masa ini sekarang di desa Trazmos, jaraknya sangat jauh."
"Apa yang kakek maksud peralatan itu ada di tempat di mana dulu aku di sekap saudara kembarmu?" Tanya Reagel memastikan, benda yang berada di ruang bawah tanah milik kakek Fiji waktu itu memang sudah seperti benda hasil kemajuan teknologi.
"Ya, ruangan itu aku sembunyikan di sana karena letaknya pedesaan yang jauh dari pusat pemerintahan."
Reagel melirik Luz yang termenung diam "Tempatnya ada di desa di mana kau tinggal bersama orang yang mirip denganku itu, siapa namanya... Harim?"
"Hareen," ralat Luz dengan mata memicing
"Iya maksudku itu."
"Orang yang mirip? Siapa dia?" Tanya Feuji.
"Luz bilang, saat dia baru datang ke tahun ini, sebuah keluarga menolongnya, kata Luz, wajah anak laki-lakinya mirip denganku. Tapi karena ibu dari lelaki itu mempercayai kalau Ereluz ini adalah Puteri yang hilang, mereka mengusirnya. Dan jadilah dia yang sekarang akhirnya bertemu denganku."
"Kalian dari Trazmos menuju ke sini berjalan kaki?"
Luz dan Reagel mengangguk bersamaan.
"Itu sangat jauh," keluh Feuji, membayangkan cucunya berjalan dari ujung Aragon hingga pusat pemerintahan di Zaragoza, yang mana biasanya orang lain memakan waktu semalaman penuh dengan menaiki kuda, kalau mereka berdua hanya berjalan, jadi bisa berhari-hari waktu yang ditempuh.
"Kami banyak beristirahat di jalan, sambil mencari buah-buahan untuk makan," kata Reagel.
Tatapan Feuji berubah sedih "Maafkan kakek ya, astaga... aku sangat lalai, maaf sekali ya cucuku, harusnya aku bertanggung jawab penuh atas kedatanganmu kemari."
"Lalu aku? Kenapa aku bisa di sini?" Tanya Luz, masih dengan kejengkelannya.
Feuji mengernyit ketika menatap lama, wajah gadis muda itu. Seperti yang Reagel bilang, cantik dan berkharisma seperti seorang Puteri mahkota "Puteri yang hilang, Puteri Sierra dari Zaragoza?! Kau... memang mirip!"
...---...
Perjanjian antara penempa besi dan kerajaan sudah disetujui untuk diantar besok, untuk itu siang ini, Hareen, Xiangjun, dan Elmir sudah mempersiapkan pesanan.
Pedang itu ternyata akan digunakan untuk penurunan tahta kerajaan Aragon, dari sang Raja Saloar beralih ke putranya yang paling bungsu dari empat bersaudara, Pangeran Juan.
Elmir menepuk bahu kawannya yang sedang mempersiapkan pedang miliknya sendiri, untuk jaga-jaga sewaktu ada bahaya dalam perjalanan "Sekalian mencari Ereluz saat perjalanan pulang," ujarnya sedikit berbisik, agar Xiangjun tidak mendengar.
Hareen tersenyum manis "Ide bagus, kau membantuku."
Lagi-lagi Elmir menepuk bahunya, tapi kali ini sangat kencang, membuat Hareen hampir saja terjungkal "Wah, kau itu khawatir sekali dengannya, apa kau menyukainya?" Godanya, seraya menaik turunkan alis.
"Aku sudah bilang, dia kuanggap seperti saudara sendiri. Kasihan, tidak punya keluarga."
Ucapan Elmir, terpotong oleh bentakan Hareen. Rahangnya mengeras, entah kenapa ia masih percaya kalau Ereluz adalah Ereluz dari masa depan, bukan Puteri Kastillia atau siapapun itu "Diam, Emir. Dia bukan Puteri mahkota."
"Kalau dia memang bukan Puteri Mahkota dari Kastillia, kenapa mau-mau saja disuruh pergi oleh ibumu, harusnya perempuan itu membantah. Jadi memang benar Ereluz itu Puteri Kastillia kan?" Rupanya Xiangjun mendengar pembicaraan kedua temannya, ia pun menyahut dengan sinis.
Hareen merengut kesal.
"Laksanakan pekerjaan kita dengan baik, jangan cari masalah dengan keluarga bangsawan," ujar Xiangjun.
"Yayaya, kita harus berangkat sekarang juga," Hareen memilih mengabaikan, dan meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, merapikan pedang bawaannya sendiri.
...---...
Di era yang lain, tepatnya masa depan bagi orang-orang yang sudah mati di masa lampau. Cassandre ke kembali mengunjungi kediaman Urgre, ia dan suaminya memang sangat sering datang hanya untuk mengetahui keadaan Luz, meski hanya lewat tulisan kuno. Tapi kali ini hanya ia yang datang, karena Jake sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan.
"Anakku baik-baik saja kan?"
"Sepertinya Luz agak membaik, beberapa hari yang lalu, warna titiknya membiru, itu membuktikan kalau Luz sedang tidak sadarkan diri."
Cassandre menutup mulut dengan sebelah tangan "Ya ampun, apa yang terjadi padanya?"
"Tidak bisa diketahui, tapi jelas dia memang tidak sadarkan diri beberapa jam."
"Kenapa Luz sering sekali bermasalah, kemarin terluka, kelelahan, dan kali ini tidak sadarkan diri pula."
"Bisa saja, tubuhnya tidak terlalu kuat untuk menopang gaya hidup baru di masa itu. Sudah jelas kan, perbedaannya?"
Ibu satu anak itu menggelengkan kepala "Aku masih tidak bisa percaya kalau aku sudah kehilangan putriku satu-satunya."
"Maafkan aku tidak bisa membantu lebih, aku bukan tuhan, Cassandre. Mohon maaf sekali lagi, dan ya, Luz kan sekarang sudah bisa hidup lagi, meski agak kurang baik."
Wanita itu menganggukkan kepala "Untukmu Urgre, jaga putrimu baik-baik. Kau bisa belajar dari kesalahanku, lagi pula Leura anak yang baik, dia pasti mudah untuk dididik."
"Sifat anak juga tergantung dari bagaimana cara orang tua mendidiknya, bukan berarti kau salah, tapi kau kurang bisa membagi waktu. Aku yakin Ereluz sebenarnya juga anak baik, tenang saja... tuhan akan membalas dengan sesuatu yang lebih baik jika kau meminta maaf atas kesalahanmu sebelumnya. Eh, maaf aku jadi mengguruimu."
Cassandre sontak mengayunkan kedua tangan "Tidak-tidak, aku malah berterima kasih,"
Istri Urge mengetuk pintu laboratorium pribadi suaminya yang terbuka, lantas menunjukkan tiga cangkir minuman di atas nampan "Permisi mengganggu, aku membawakan minuman hangat," izinnya.
"Wah, maaf kedatanganku selalu merepotkan kalian," ujar Cassandre, mengingat istri Urgre itu selalu menyajikan makanan ataupun minuman ketika ia datang untuk menjenguk keadaan Luz. "Lain kali, aku yang akan membawakan buah tangan."
"Kau kan tamu, Nyonya Cassandre, wajar kami melayanimu. Padahal ini hanya teh hijau," jawab Ameta, ibu dari Leura.
Melihat keramahan Ameta, Cassandre sontak menunduk malu, di rumahnya sendiri ia jarang menerima tamu. Biasanya kalau ada, ia malah mengajak bertemu di luar rumah. Sedangkan jika sesekali ada orang datang, Cassandre sama sekali tak terpikir untuk menyambut seorang tamu dengan makanan.
"Anda kenapa, nyonya?"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Urgre kembali mengutak-atik komputernya, dalam masa lalu, Luz belum bertemu dengan seorang pemilik mesin waktunya. Terbukti dengan masih menyalanya mesin waktu yang ada di masa kini, kalau misalkan mesin waktu di masa lampau sudah berada di tangan Luz, maka yang di masa depan tidak akan berfungsi lagi.
Urgre sangat menantikan itu, ia khawatir kalau para peneliti lebih dulu mengambil mesin waktu ini darinya.
TBC